BNPB: Water Bombing Tak Efektif Jika Karhutla Sudah Membesar

ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/wsj.
Prajurit TNI Angkatan Udara melakukan dukungan operasi penerbangan helikopter water bombing BNPB untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Lanud Sjamsudin Noor, Kota Banjar Baru, Kalimantan Selatan, Kamis (10/9/2026). TNI Angkatan Udara berkoordinasi dengan BNPB dan BPBD dalam penanganan bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kalimantan Selatan dengan dukungan operasi penerbangan, patroli pemantauan titik panas, water bombing serta membantu pemadaman melalui operasi darat.
Penulis: Agustiyanti
10/9/2026, 21.56 WIB

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menjelaskan, penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak selalu dapat mengandalkan pemadaman dari udara. Penggunaan helikopter pengebom air (water bombing) justru dinilai paling efektif ketika api masih dalam skala kecil dan berada di lokasi yang sulit dijangkau oleh satuan tugas darat.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto mengatakan, water bombing pada dasarnya digunakan untuk membantu satgas darat memutus titik api, bukan sebagai metode utama ketika kebakaran telah meluas.

“Helikopter water bombing itu hanya efektif ketika apinya masih kecil, terutama di tempat-tempat yang susah dijangkau satgas darat, digunakan untuk membantu satgas darat memutus kepala apinya,” kata Suharyanto dalam kunjungan kerja mendampingi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Kamis (10/9).

Ia menekankan, pemadaman dari udara dirancang sebagai dukungan bagi satuan tugas darat. Karena itu, pengerahan helikopter harus disesuaikan dengan kondisi kebakaran di lapangan.

Menurut dia, penggunaan water bombing tidak efektif apabila kebakaran sudah berkembang menjadi besar. Volume air yang dijatuhkan dari udara tidak mampu menggantikan kekuatan satgas darat dalam menangani kebakaran di area yang luas.

“Tapi kalau api sudah besar, sia-sia pakai helikopter, enggak ada gunanya itu water bombing,” ujarnya.

Karena itu, BNPB menempatkan satgas darat sebagai kekuatan utama dalam pemadaman karhutla. Dukungan udara digunakan secara selektif untuk menangani titik api yang masih terbatas maupun lokasi yang sulit diakses melalui jalur darat.

Strategi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat penanganan karhutla di Kalimantan Selatan. Selain pemadaman darat dan udara, operasi modifikasi cuaca (OMC) tetap dilakukan ketika terdapat potensi pertumbuhan awan yang memungkinkan menghasilkan hujan di wilayah terdampak.

Suharyanto mengatakan, hujan merupakan salah satu faktor paling efektif dalam membantu memadamkan karhutla. Karena itu, OMC terus dimanfaatkan sebagai upaya tambahan ketika kondisi atmosfer mendukung, dengan tetap mengandalkan kekuatan satgas darat sebagai lini utama pemadaman.

“Seluruh dukungan pemadaman harus digunakan sesuai karakter kebakaran agar sumber daya udara dan darat dapat bekerja secara efektif, terutama untuk mencegah api kecil berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas,” ujar Suharyanto.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.