JakCare Catat 23.685 Panggilan, Terbanyak Keluhan Relasi Keluarga
Isu kesehatan mental semakin menjadi sorotan di masyarakat. Topik ini turut menjadi perhatian Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. Melalui JakCare, Jakarta memberikan layanan psikolog secara daring tanpa biaya bagi masyarakat.
Sejak diluncurkan pada Mei 2025 lalu, platform ini telah melayani 23.685 panggilan masuk hingga Juli 2026.
Angka ini menunjukkan perkembangan yang cukup pesat, karena dalam periode Januari–Juli 2026 terdapat 19.734 panggilan, atau hampir 5 kali lipat dibandingkan periode Mei–Desember 2025.
“Bagi kami, hal ini juga menunjukkan bahwa masyarakat semakin terbuka dan berani untuk mencari bantuan ketika menghadapi masalah psikologis. Namun, kenaikan jumlah panggilan tidak serta-merta berarti jumlah masyarakat yang mengalami gangguan mental juga meningkat,” ujar Ani Ruspitawati, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, kepada Katadata.co.id, Kamis (10/9).
Dari segi usia, pengguna JakCare saat ini 95,8 persen atau mayoritas dari kelompok dewasa berusia 15-59 tahun.
Lalu, diikuti remaja usia 15–18 tahun sebesar 3,9 persen, lanjut usia 0,2 persen, dan anak-anak usia 7–14 tahun 0,1 persen.
Menariknya, jika dilihat dari segi wilayah, JakCare justru lebih banyak digunakan oleh masyarakat dari luar DKI Jakarta yakni sebanyak 24,7 persen. Adapun untuk Jakarta Selatan 19,9 persen Jakarta Timur 18 persen, Jakarta Barat 16,1 persen, Jakarta Utara 10,8 persen, dan Jakarta Pusat 10,5 persen.
Hingga Juli 2026, belum tercatat pengguna dari Kepulauan Seribu. Data ini menunjukkan pemanfaatan JakCare sudah melampaui batas administratif Jakarta.
Namun, Ani menekankan, data ini menggambarkan siapa yang mengakses JakCare, bukan besarnya prevalensi masalah kesehatan jiwa pada kelompok usia atau wilayah tertentu.
Rendahnya proporsi pengguna pada anak, remaja, lanjut usia, maupun wilayah tertentu juga belum tentu berarti kebutuhan kesehatan jiwa mereka lebih rendah.
“Bagi kami, profil ini menjadi bahan penting untuk memahami pola pemanfaatan layanan dan menyesuaikan pendekatan ke depan, agar informasi maupun dukungan kesehatan jiwa dapat semakin mudah dijangkau,” kata Ani.
Relasi Keluarga Jadi Keluhan Terbanyak
Dari berbagai persoalan yang disampaikan pengguna, Ani menjelaskan, keluhan paling banyak berkaitan dengan relasi keluarga. Setelah itu, keluhan yang muncul antara lain terkait relasi romantis, sosial budaya, pekerjaan, relasi perkawinan, dan ekonomi.
“Pola ini memperlihatkan bahwa persoalan yang dibawa masyarakat saat mencari dukungan kesehatan jiwa banyak berkaitan dengan hubungan interpersonal dan berbagai tekanan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Ani.
Ani mengungkapkan, keluhan yang disampaikan pengguna saat mengakses JakCare bukan merupakan diagnosis gangguan mental.
“Setiap pengguna tetap perlu dipahami sesuai kondisi dan kebutuhannya melalui asesmen, sehingga dukungan maupun tindak lanjut yang diberikan dapat lebih tepat,” tambahnya.
Setelah melakukan telekonsultasi dengan psikolog klinis JakCare, pengguna dapat memperoleh dukungan psikologis, psikoedukasi, serta rekomendasi sesuai dengan kondisi masing-masing.
Apabila hasil asesmen menunjukkan perlunya penanganan lebih lanjut, pengguna dapat diarahkan ke Puskesmas, rumah sakit, atau layanan spesialistik.
Sementara untuk kondisi berisiko tinggi atau kegawatdaruratan yang terjadi di wilayah DKI Jakarta, JakCare terhubung dengan Pusat Krisis dan Kegawatdaruratan Kesehatan Daerah (PK3D) dan jejaring rumah sakit.
“Yang kami upayakan adalah setelah berkonsultasi, pengguna memiliki arah yang jelas mengenai langkah selanjutnya, apakah cukup dengan dukungan melalui JakCare atau membutuhkan pelayanan lanjutan di fasilitas kesehatan,” kata Ani.
Perkuat Pencegahan Bunuh Diri
Ani menilai pencegahan bunuh diri perlu dimulai dari kepedulian, keberanian membuka percakapan, serta tindakan sedini mungkin.
“Ketika seseorang menunjukkan perubahan perilaku, mengalami tekanan berat, menyampaikan keputusasaan, atau memiliki pikiran untuk menyakiti diri, hal tersebut perlu didengarkan dan ditanggapi dengan serius,” ujar Ani.
Melalui JakCare, masyarakat yang mengalami tekanan psikologis dapat berkonsultasi dengan psikolog klinis. Jika hasil asesmen menunjukkan kondisi berisiko tinggi atau membutuhkan penanganan lebih lanjut, pengguna dapat dihubungkan dengan layanan krisis maupun fasilitas kesehatan sesuai kebutuhannya.
Kendati demikian, Ani menambahkan, pencegahan bunuh diri tidak hanya menjadi tanggung jawab layanan kesehatan.
Keluarga, teman, sekolah, tempat kerja, dan lingkungan sekitar juga memiliki peran untuk mengenali perubahan yang terjadi dan membantu seseorang memperoleh pertolongan profesional.
“Yang perlu kita bangun bersama adalah lingkungan yang membuat seseorang merasa aman untuk berbicara tentang apa yang sedang dialaminya. Kita perlu mengubah anggapan bahwa persoalan kesehatan jiwa harus dihadapi atau disimpan sendiri,” kata Ani.
Perkuat Upaya Promotif dan Preventif
Selain JakCare, Dinkes DKI Jakarta terus memperkuat upaya promotif dan preventif kesehatan jiwa melalui skrining dan deteksi dini di layanan primer serta sarana skrining yang tersedia.
Akan tetapi, upaya tersebut tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan jumlah masyarakat yang menjalani skrining.
“Yang lebih penting adalah ketika ditemukan adanya kebutuhan atau risiko, masyarakat dapat memperoleh dukungan dan tindak lanjut yang tepat sejak awal,” kata Ani.
Di sisi promotif, literasi kesehatan jiwa juga terus diperkuat agar masyarakat mampu menjaga kesehatan jiwa, mengenali perubahan pada diri sendiri maupun orang terdekat, serta memahami kapan perlu mencari bantuan.
Ani mengungkapkan pihaknya juga memperkuat peran Puskesmas untuk memberikan edukasi dan deteksi dini hingga penanganan awal serta rujukan apabila diperlukan.
Ke depan, pengembangan JakCare diarahkan pada penguatan kapasitas dan kualitas telekonsultasi sekaligus memperkuat integrasinya dengan sistem pelayanan kesehatan jiwa di Jakarta.
Ani juga menyebut JakCare perlu semakin terhubung dengan layanan psikolog di Puskesmas, pelayanan kesehatan jiwa di rumah sakit, serta jejaring rujukan lainnya.
Dengan integrasi tersebut, perjalanan pengguna dari konsultasi awal hingga pelayanan lanjutan diharapkan menjadi semakin jelas.
“Selain kapasitas layanan, evaluasi dan pemanfaatan data juga akan diperkuat. Evaluasi tidak hanya melihat jumlah masyarakat yang mengakses JakCare, tetapi juga kebutuhan pengguna, kualitas respons layanan, pola rujukan, dan kesinambungan tindak lanjut,” tutur Ani.