PSEL, Cara Jakarta Ubah Sampah Jadi Energi Listrik

Pemprov DKI Jakarta
Penulis: Ratu Monita
23/9/2026, 15.13 WIB

Isu pengelolaan sampah masih menjadi salah satu tantangan besar yang dihadapi Jakarta. Setiap hari, ibu kota menghasilkan sekitar 9.000 ton sampah. Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mencari berbagai cara untuk mengurangi beban pengelolaan sampah, termasuk ketergantungan terhadap Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang.

Salah satu upaya yang dikembangkan adalah fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Fasilitas ini dirancang untuk mengurangi volume sampah yang harus ditangani sekaligus memanfaatkan sampah sebagai sumber energi listrik.

Pada Mei 2026, Pemprov DKI Jakarta menyebut timbulan sampah Jakarta mencapai sekitar 9.120 ton per hari. Pada saat yang sama, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan, kapasitas TPST Bantargebang telah jauh terlampaui sehingga diperlukan langkah untuk mengurangi ketergantungan terhadap fasilitas tersebut.

Pengembangan program ini pun mulai memasuki tahap yang lebih konkret. Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi DKI Jakarta, fasilitas PSEL di Jakarta direncanakan berada di tiga lokasi, yakni Tanjungan di Kelurahan Kamal Muara, Kecamatan Penjaringan; Bantargebang di Kota Bekasi; serta Sunter.

Untuk PSEL Bantargebang dan Tanjungan, Kementerian Lingkungan Hidup telah menerbitkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 1724 dan 1726 Tahun 2026 pada 13 April 2026 terkait penetapan lokasi.

“Penetapan lokasi tersebut menjadi salah satu tahapan awal dalam proses pengembangan PSEL di Jakarta,” kata Kepala DLH Provinsi DKI Jakarta Dudi Gardesi kepada Katadata, Senin (21/9).

Menurut Dudi, tindak lanjut atas penetapan lokasi, termasuk skema penyediaan dan pemanfaatan lahan, masih dalam proses pembahasan dan koordinasi dengan kementerian/lembaga serta pihak terkait. 

Proses tersebut tetap mengacu pada ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, termasuk Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025.

Dari sisi kapasitas, hasil rapat koordinasi bersama Deputi Kementerian Koordinator Bidang Pangan pada 18 Mei 2026 menetapkan rencana kapasitas PSEL Tanjungan dan Bantargebang masing-masing sekitar 2.000 ton sampah per hari.

Dengan kapasitas tersebut, kedua fasilitas direncanakan mampu mengolah sekitar 4.000 ton sampah per hari. Jumlah itu mencakup sebagian dari timbulan sampah harian Jakarta yang mencapai lebih dari 9.000 ton.

Sementara itu, PSEL Sunter masih berada dalam tahap perencanaan yang dilaksanakan oleh PT Jakarta Propertindo (Jakpro). Pemprov DKI Jakarta berharap pengembangan PSEL dapat menjadi salah satu bagian dari sistem pengelolaan sampah Jakarta yang lebih terintegrasi.

Sampah Jadi Energi

Sesuai namanya, program ini tidak hanya diarahkan untuk mengurangi volume sampah yang harus ditangani, melainkan berupaya mengubahnya menjadi energi. Melalui proses pengolahan, sampah juga dimanfaatkan untuk menghasilkan energi listrik yang nantinya dapat dijual kepada PT PLN dengan tarif yang telah diatur pemerintah.

Skema tersebut membuat pengelolaan sampah tidak berhenti pada proses pengurangan atau pembuangan, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan sampah yang tersisa menjadi energi. Meski demikian, keberadaan PSEL tetap menjadi bagian dari pengelolaan sampah pada tahap hilir. 

Upaya pengurangan sampah dari sumbernya, pemilahan, serta pengelolaan sampah pada tingkat rumah tangga dan kawasan tetap diperlukan untuk mengurangi timbunan sampah yang masuk ke fasilitas pengolahan.

Dengan pendekatan tersebut, PSEL diharapkan dapat melengkapi berbagai upaya pengelolaan sampah di Jakarta, mulai dari pengurangan sampah dari sumber hingga pengolahan pada tahap akhir.

Belajar dari RDF Rorotan

Sembari menunggu pengembangan PSEL, Jakarta telah memiliki pengalaman mengoperasikan fasilitas pengolahan sampah berskala besar melalui RDF Plant Rorotan di Jakarta Utara.

Fasilitas tersebut mengolah sampah menjadi refuse derived fuel (RDF), yakni bahan bakar alternatif yang dihasilkan melalui proses pengolahan sampah.

Pengamat kebijakan perkotaan Jakarta Sugiyanto menilai pendekatan bertahap yang diterapkan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dalam pengoperasian RDF Rorotan merupakan langkah tepat.

Menurut Sugiyanto, kendala yang sempat muncul pada awal operasional lebih berkaitan dengan sistem pengangkutan sampah, bukan teknologi pengolahan. Karena itu, perbaikan pada aspek transportasi dan standar operasional menjadi bagian penting untuk memastikan fasilitas dapat berjalan optimal.

“Ini menunjukkan bahwa RDF Rorotan adalah bagian dari solusi jangka panjang pengelolaan sampah Jakarta. Namun, operasionalnya memang harus dilakukan bertahap, terukur, dan memenuhi seluruh standar lingkungan,” tutur Sugiyanto, dikutip dari Antara.

Pengalaman Rorotan dapat menjadi salah satu pembelajaran dalam pengembangan PSEL Jakarta. Pengoperasian secara bertahap dengan kapasitas dan sistem pendukung yang dipersiapkan sejak awal menjadi bagian penting dalam pengembangan fasilitas pengolahan sampah berskala besar.

Hal tersebut juga menjadi penting mengingat PSEL akan menangani volume sampah dalam jumlah besar. Selain kesiapan teknologi, kelancaran sistem pengangkutan, ketersediaan lahan, standar operasional, serta pengawasan lingkungan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pengoperasian fasilitas.

Bagi Jakarta, PSEL bukan semata tentang mengolah sampah menjadi listrik. Proyek ini menjadi bagian dari upaya membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi, dengan menghubungkan pengurangan sampah, pengolahan, hingga pemanfaatan sampah yang tersisa menjadi sumber energi.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.