Prabowo Tanggapi MSCI: Bangsa Indonesia Tidak Takut Siapa Pun
Presiden Prabowo Subianto memberi tanggapan terkait lembaga pengelola indeks global MSCI yang tengah mempertimbangkan menurunkan status pasar modal Indonesia dari pasar berkembang (emerging market) ke pasar mandiri (standalone market).
Pertimbangan MSCI ini imbas kekhawatiran yang terus berlanjut terkait kelayakan investasi (investability) dan tata kelola pasar saham di Indonesia.
“Saya hanya katakan kepada MSCI, Bangsa Indonesia tidak takut siapa pun, dan tidak akan gentar,” kata Prabowo dalam pembukaan Sidang Kabinet Paripurna di Istana Merdeka, Rabu (21/10).
Merujuk laporan Reuters, MSCI telah membuka konsultasi mengenai usulan penurunan status ini setelah sebelumnya mengeluarkan peringatan pada bulan Juni bahwa Indonesia dapat menghadapi reklasifikasi jika masalah aksesibilitas pasar terus berlanjut.
“Saudara-saudara kita tidak takut, kita punya kekuatan, keberanian, dan kita rela berkorban serta tidak kenal menyerah,” ujarnya.
Prabowo menyebut saat ini Indonesia menghadapi banyak tantangan, kesulitan, dan gangguan yang terus menghadang. Di samping itu rakyat Indonesia juga terus berharap lebih banyak kepada pemerintah.
“Kalau perlu kita adakan penghematan besar-besaran, kita lebih hemat lagi nanti,” ucapnya.
MSCI sebelumnya menyampaikan, para investor telah menyuarakan kekhawatiran mengenai struktur kepemilikan yang tidak transparan, konsentrasi kepemilikan saham, serta dugaan perdagangan terkoordinasi hal-hal yang dinilai mengikis kelayakan investasi di pasar tersebut.
“Oleh karena itu, MSCI menganggap klasifikasi berkelanjutan Indonesia sebagai Emerging Market tidak lagi sesuai dan membuka konsultasi mengenai usulan untuk mereklasifikasi Indonesia sebagai Standalone Market,” kata MSCI dikutip dari Reuters, Jumat (16/10).
Konsultasi atas usulan reklasifikasi akan berlangsung hingga 30 April 2027. Adapun keputusan final dijadwalkan paling lambat 30 Juni 2027.
MSCI juga mempertahankan pembekuan sejumlah perubahan terkait indeks saham Indonesia hingga pemberitahuan lebih lanjut, termasuk penambahan konstituen MSCI Indonesia Investable Market Index serta peningkatan foreign inclusion factor dan jumlah saham beredar dalam peninjauan indeks maupun aksi korporasi.
Sentimen ini menambah tekanan terhadap pasar modal domestik di tengah penurunan outlook peringkat utang Indonesia oleh Moody’s dan Fitch menjadi negatif. Reuters melaporkan bahwa IHSG telah terkoreksi lebih dari 30% sepanjang 2026, menjadikannya pasar saham dengan kinerja terburuk di emerging Asia.
MSCI menyebut, masukan dari investor menunjukkan pemindahan status ke frontier market (pasar perintis) tidak akan mencerminkan masalah aksesibilitas pasar Indonesia secara memadai. Pihaknya memperkirakan akan melanjutkan usulan klasifikasi standalone tersebut, kecuali jika terdapat bukti jelas mengenai perbaikan material dalam tata kelola dan fungsi pasar.
Indonesia menghadapi serangkaian tekanan tahun ini. Sebelumnya Moody's dan Fitch telah menurunkan prospek (outlook) peringkat utang independen (sovereign rating) menjadi negatif dengan alasan menurunnya kredibilitas pembuatan kebijakan.