Harga Bitcoin Semakin Merosot hingga ke Level US$ 60.000, Ini 5 Penyebabnya

ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/YU
Warga mengamati pergerakan harga mata uang kripto Bitcoin (BTC) di Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (13/12/2025). Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat nilai transaksi aset kripto mencapai Rp37,20 triliun pada November 2025 atau mengalami penurunan 24,53 persen dibandingkan Oktober 2025 yang tercatat Rp49,29 triliun.
9/2/2026, 09.46 WIB

Harga Bitcoin (BTC) terus tertekan dan hari ini (9/2) berada di level US$ 70.415 atau setara Rp 1,19 miliar (kurs Rp 16.887 per dolar AS). Berdasarkan data Marketcoincap, Level Bitcoin ini turun 0,17% naik 2,01% dalam 24 jam, namun masih merosot sebesar 9,35% dalam sepekan terakhir.

Beberapa aset kripto lainnya juga masih tertekan seperti Ethereum (EST) yang kini harganya US$ 2.083 atau setara Rp 35,18 juta. Level Ethereum ini naik tipi 0,21% dalam 24 jam terakhir dan masih melemah hingga 9,35% dalam sepekan terakhir.

Sementara itu, harga Tether (USDT) sebesar US$ 0,999 atau setara Rp 16.718. Tether masih turun 0,03% dalam 24 jam terakhir namun naik tipis 0,07% dalam sepekan terakhir.

Begitu juga harga BNB yang masih tertekan di level US$ 638,36 atau setara Rp 10,78 juta. Level ini BNB juga masih merosot 1,31% dalam 24 jam terakhir dan 16,56% dalam sepekan terakhir.

Kepala Riset Aset Digital VanEck Matthew Sigel mengungkapkan anjloknya harga Bitcoin saat ini tidak dipicu oleh satu peristiwa saja. Ia menyebut harga Bitcoin yang pada pekan lalu juga sempat menyentuh level US$ 60.000 atau setara Rp 1,01 miliar itu disebabkan oleh lima faktor.

Mengutip DLNews, faktor pertama yaitu penurunan leverage secara besar-besaran. Minat terbuka pada kontrak berjangka Bitcoin turun tajam dari US$ 61 miliar atau setara Rp 1.030,1 triliun menjadi sekitar US$ 49 miliar atau setara Rp 827,46 triliun. Terjadi penurunan lebih dari 20% pada posisi leverage atau transaksi berbasis utang di pasar Bitcoin.

Kedua yakni euphoria kecerdasan buatan atau AI yang mulai meredup. Saat ini investor mulai mempertanyakan seperti perusahaan openAI dan penyedia layanan cloud lainnya benar-benar bisa menghasilkan keuntungan atau tidak karena sudah menyiapkan belanja infrastruktur cukup besar.

Selanjutnya yang ketiga yaitu transparansi industri kripto. Hal ini menyusul adanya proyek kripto World Liberty Finance terkait dengan keluarga Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang memicu kekhawatiran soal transparansi industri kripto.

Berdasarkan laporan Wall Street Journal, proyek itu menjual hampir setengah kepemilikannya kepada investor yang terkait dengan Uni Emirat Arab dengan nilai sekitar US$ 500 juta atau setara Rp 8,44 triliun meski detail transaksi tidak diungkapkan secara jelas.

Sigel menyebut isu seperti ini justru menegaskan pentingnya aturan transparansi dan pelaporan standar. Sebab hal seperti itu bisa menggerus kepercayaan pasar.

Lalu yang keempat yaitu risiko quantum computing yang juga menjadi sentimen menekan harga Bitcoin. “Minat investor terhadap topik ini telah meningkat, dan diskusi di forum pengembang dan komunitas menjadi lebih aktif, bahkan ketika beberapa pengembang Bitcoin Core terus meremehkan urgensi risiko ini,” kata Sigel.

Komputer kuantum berpotensi bisa memecahkan sistem enkripsi Bitcoin. Laporan Chaincode Labs menyebut sekitar 20% hingga 50% Bitcoin yang beredar bisa berisiko akibat teknologi ini.

Lalu yang kelima yaitu siklus empat tahunan. Setiap empat tahun, Bitcoin kerap mengikuti siklus yang berkaitan dengan peristiwa halving. Peristiwa ini menyebabkan Bitcoin mengurangi penerbitan koin baru dan memicu kenaikan harga setelahnya.

“Narasi siklus empat tahun tetap menjadi titik referensi penting untuk psikologi investor,” ujar Sigel.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Rahayu Subekti