Penggunaan Kacamata Pintar Picu Kekhawatiran Pelanggaran Privasi
Kacamata pintar yang mampu merekam video, mengambil foto, dan menangkap audio dari sudut pandang penggunanya mulai memicu kekhawatiran terkait privasi di London, Inggris. Sejumlah bar, restoran, teater, hingga tempat hiburan mulai membatasi penggunaan perangkat tersebut karena khawatir pengunjung dapat direkam tanpa sepengetahuan mereka.
Kekhawatiran ini muncul seiring semakin populernya kacamata pintar yang dikembangkan perusahaan teknologi besar.
Essilor Luxottica, perusahaan kacamata yang bekerja sama dengan Meta dalam pengembangan kacamata pintar, menyebut penjualan perangkat tersebut mencapai 7 juta pasang pada 2025. Menurut The Information, Meta juga diperkirakan akan memperkenalkan kacamata pintar baru dalam konferensi Connect pekan ini. Perangkat tersebut tidak akan dilengkapi kamera.
Sementara itu, Samsung dan Google juga diperkirakan meluncurkan kacamata pintar hasil pengembangan bersama pada musim gugur tahun ini. Namun, perkembangan tersebut diikuti kekhawatiran mengenai penggunaan teknologi untuk merekam orang lain secara diam-diam.
Sejumlah video di media sosial yang memperlihatkan pria diduga merekam perempuan tanpa sepengetahuan mereka memunculkan kembali persoalan mengenai persetujuan dan perlindungan privasi.
Irina Raicu, Direktur Program Etika Internet di Markkula Center for Applied Ethics, Santa Clara University, mengatakan perkembangan teknologi membuat seseorang semakin sulit mengetahui apakah dirinya sedang direkam.
“Semakin sulit untuk melindungi diri sendiri hanya dengan mengamati sekeliling dan memperhatikan berbagai hal yang terjadi di sekitar kita. Dengan demikian, konsep persetujuan itu sendiri pun semakin tidak berarti lagi,” kata Raicu, seperti dikutip CNN, Selasa (22/9).
London bersama New York, Amerika Serikat dan Australia kini menjadi salah satu wilayah yang menjadi perhatian dalam melihat respons masyarakat dan pelaku usaha terhadap perkembangan kacamata pintar.
Sejumlah tempat hiburan mulai menerapkan pembatasan penggunaan perangkat tersebut. Di beberapa stasiun bus di London bahkan muncul iklan yang mengkritik kacamata pintar buatan Meta. Salah satu iklan menampilkan Kylie Jenner dalam bentuk “foto rontgen” dengan slogan “Kami selalu mengawasi Anda”.
Pembatasan juga mulai diterapkan di ruang publik tertentu. Sejak Agustus, penggunaan kacamata pintar dilarang di ruang pengadilan di seluruh Inggris.
Pembatasan di Tempat Hiburan
Jaringan pub Wetherspoons menjadi salah satu tempat yang melarang pelanggan merekam video menggunakan kacamata pintar. Zak, mahasiswa yang bekerja di salah satu pub Wetherspoons di pusat London, mengatakan dirinya tidak ingin direkam ketika sedang menikmati waktu di pub. Ia mengaku pernah melihat video di TikTok yang menunjukkan orang-orang tidak menyadari bahwa mereka sedang direkam.
Serena, pelanggan Wetherspoons lainnya, juga mengaku khawatir rekaman dirinya dapat digunakan tanpa sepengetahuannya. “Mengenai kacamata Meta tersebut, reaksi alami kami adalah untuk meminta agar kameranya dimatikan,” kata juru bicara Wetherspoons, dikutip dari CNN.
Meta mengatakan kamera pada kacamata tersebut tidak dapat merekam video apabila lampu indikator perekaman ditutup. Pada Agustus, perusahaan memperbarui sistem agar pengguna tidak dapat menutupi lampu tersebut setelah proses perekaman dimulai.
Kacamata itu juga dilengkapi fitur untuk mendeteksi upaya pengguna menyentuh atau memanipulasi lampu indikator. Meta menyatakan telah mengambil tindakan terhadap sejumlah video di media sosial yang memperlihatkan kacamata AI digunakan untuk mengganggu orang lain.
“Tentu saja, ada beberapa tempat yang seharusnya sama sekali tidak difilmkan. Itu merupakan hal yang wajar. Namun, aturan-aturan tersebut perlu diterapkan secara konsisten,” kata juru bicara Meta.
Menurut Meta, lampu indikator pada kacamata dirancang untuk memberi tahu orang di sekitar ketika foto atau video sedang direkam. Fitur tersebut dinilai menjadi pembeda dari smartphone maupun kamera konvensional.
Google sebelumnya pernah menghadapi persoalan serupa melalui Google Glass. Lebih dari satu dekade lalu, perusahaan tersebut mencoba mempopulerkan kacamata pintar, tetapi produk itu menuai kekhawatiran terkait privasi dan akhirnya tidak diproduksi lagi.
Sameer Samat, Presiden Ekosistem Android Google, mengatakan perusahaan memahami kekhawatiran yang muncul terkait kacamata pintar. Menurut dia, aspek seperti cara perangkat memberi tanda bahwa perekaman sedang berlangsung serta kemampuan sistem mencegah pengguna melewati batasan privasi menjadi bagian penting dalam pengembangan produk. Google juga berencana menerapkan fitur pengaturan privasi yang dirancang agar tidak mudah dimanipulasi pada kacamata yang dikembangkan bersama Samsung.
Lebih dari Sekadar Privasi
Calli Shroeder, Direktur Program AI dan Hak Asasi Manusia di Electronic and Privacy Information Center (EPIC), mengatakan persoalan privasi pada kacamata pintar tidak mudah diselesaikan.
Sejumlah solusi seperti fitur yang otomatis mengaburkan wajah orang dalam rekaman atau kewajiban memperoleh persetujuan sebelum mengunggah video dinilai sulit diterapkan. Langkah tersebut juga belum tentu mampu menghilangkan seluruh risiko yang muncul.
Salah satu opsi yang dapat dikembangkan adalah membuat kacamata mampu mengenali lingkungan sehingga fungsi perekaman dapat dimatikan secara otomatis di area sensitif, seperti taman bermain dan ruang ganti.
Namun, teknologi semacam itu juga membutuhkan kemampuan perangkat untuk mengenali lingkungan di sekitarnya. Hal tersebut kembali menimbulkan pertanyaan mengenai privasi.
Persoalan kacamata pintar juga tidak hanya menyangkut privasi. Di Piccadilly Theatre, London, pekerja dan pengunjung menilai penggunaan perangkat tersebut dapat mengganggu pengalaman menonton pertunjukan sekaligus berdampak terhadap mata pencaharian aktor.
Bradley, seorang pelayan sekaligus sutradara teater, mengatakan salah satu daya tarik pertunjukan langsung adalah pengalaman menyaksikan pertunjukan tanpa mengetahui isinya terlebih dahulu.
Menurut dia, perekaman secara diam-diam dapat menghilangkan unsur tersebut karena rekaman pertunjukan berpotensi tersebar sebelum orang lain menyaksikannya.
Pasar Kacamata Pintar Tumbuh Seiring Kekhawatiran terhadap Dampak Negatifnya
Kekhawatiran tersebut muncul ketika perusahaan teknologi terus meningkatkan investasi pada perangkat yang dapat dikenakan atau wearable devices.
Kacamata pintar dikembangkan bukan hanya untuk mengambil gambar. Perangkat tersebut juga memungkinkan pengguna mendengarkan musik, menerima panggilan, serta mengakses berbagai layanan tanpa menggunakan tangan.
Perusahaan teknologi bahkan melihat kacamata pintar sebagai salah satu perangkat yang berpotensi menjadi antarmuka utama untuk berinteraksi dengan asisten kecerdasan buatan (AI).
Meta mengatakan perangkat tersebut memungkinkan pengguna tetap fokus pada aktivitas yang sedang dilakukan, termasuk mendengarkan musik, menerima terjemahan secara langsung, hingga melakukan panggilan tanpa menggunakan tangan.
Perusahaan juga menyebut kacamata pintar dapat memberikan manfaat bagi penyandang disabilitas penglihatan.
Kelompok pendukung hak penyandang disabilitas visual, termasuk Royal National Institute of Blind People (RNIB) di Inggris, memperingatkan bahwa regulasi yang terlalu ketat dapat membatasi akses terhadap teknologi yang membantu aktivitas sehari-hari.
Menurut RNIB, kacamata pintar dapat membantu penyandang disabilitas visual membaca menu restoran, memahami petunjuk jalan, hingga memperoleh gambaran mengenai lingkungan di sekitar mereka.
Di sisi lain, pasar perangkat tersebut terus tumbuh. Counterpoint Research mencatat penjualan kacamata pintar meningkat 212% secara tahunan pada paruh pertama 2026. Meta memimpin pasar dengan pangsa sekitar 84%.
Shroeder menilai perkembangan tersebut menunjukkan adanya kekhawatiran bahwa seseorang dapat tertinggal dari perkembangan teknologi baru. “Saya rasa, ada ketakutan yang besar akan kemungkinan terpinggirkan dalam perkembangan teknologi-teknologi baru ini,” kata Shroeder.