Perusahaan telekomunikasi PT XL Axiata Tbk meluncurkan laboratorium Internet of Things (IoT) yang diberi nama X-Camp. Laboratorium ini memiliki empat fungsi, yang salah satunya sebagai wadah untuk inkubasi bisnis startup.

Direktur Teknologi XL Axiata Yessy D Yosetya mengatakan, X-Camp bisa menjadi tempat bagi startup mengembangkan ide dan memverifikasi produknya sebelu dilempar ke pasar. Lewat X-Camp, startup juga bisa melakukan pendekatan dengan perusahaan yang sudah berkembang.

Salah satu yang sudah dikembangkan oleh XL Axiata adalah smart ternak di Majalengka. "Kami berikan sensor atau device di leher sapi supaya bisa memonitor kesehatan ternak. Sebab, tantangan bagi peternak adalah bila sapinya mati," kata Yessy di kantornya, Jakarta, Selasa (13/11).

Nantinya, data yang diperoleh menggunakan teknologi IoT ini akan dikirim ke cloud. Data tersebut bisa dikelola sebagai bahan bagi peternak supaya bisa beternak sapi secara tepat. "Mereka bisa melakukan tindakan yang diperlukan dengan cepat," ujarnya.

Manfaat lainnya, adalah untuk pengembangan bisnis bersama. Misalnya, XL Axiata turut menyediakan IoT di sepeda kayu garapan startup Kayuh. Lewat IoT, Kayuh bisa memantau penggunaan sepedanya melalui ponsel pintar. Begitu pun dengan pengguna bisa menyewa sepeda Kayuh secara otomatis menggunakan smartphone.

Selain itu, X-Camp diharapkan bisa memberi edukasi kepada masyarakat mengenai IoT. Untuk itu, XL Axiata melalui X-Camp juga menggandeng empat perguruan tinggi yakni Universitas Gadjah Mada (UGM), Politeknik Negeri Semarang, Universitas Brawijaya Malang; dan, Politeknik Elektronika Negeri Surabaya. "Fungsi terakhir adalah untuk membangun kerja sama," kata dia.

(Baca juga: Telkomsel dan Indosat Bersaing Kembangkan Internet of Things)

CEO XL Axiata Dian Siswarini pun mengklaim, X-Camp merupakan laboratorium terlengkap yang dimiliki operator Tanah Air. "Sudah dicek, jadi tidak hanya klaim. Ini merupakan satu-satunya laboratorium IoT yang mendapat lisensi Group Speciale Mobile Association (GSMA) di Asia Tenggara," ujarnya. "Mahasiswa, pengusaha, dan industri bisa memakai ini."

Selain XL Axiata, PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) dan PT Indosat Tbk pun telah mengembangkan IoT. Telkomsel Innovation Center (TINC) misalnya, merangkum berbagai kegiatan untuk membentuk ekosistem IoT di Indonesia, seperti penyediaan laboratorium, mentoringbootcamp bersama para ahli, dan akses keterhubungan bagi para startupdeveloper, serta system integrator dengan pelaku industri terkait.

Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah menjelaskan, IoT bisa menghubungkan banyak sektor sehingga produktivitas meningkat dan tercipta efisiensi. "Fokusnya ke solusi kehidupan sehari-hari dan meningkatkan produktivitas. Kami harap para pelaku ikut berinvestasi (di bidang IoT)," ujarnya. 

Adapun solusi IoT yang sudah melewati masa inkubasi, antara lain bike sharing di Universitas Indonesia (UI) yang merupakan hasil kolaborasi bersama Banopolis; automatic fish feeder dengan adanya aqua culture solution bagi petani dan petambak di berbagai daerah di Indonesia hasil kolaborasi bersama eFishery; dan, smart bin waste management system bersama Danone dan Alfamart.

Sementara itu, Indosat melalui lini bisnis Indosat Ooredoo Business meluncurkan IoT Connect. Program ini merupakan connectivity management platform yang didukung oleh Ericsson dengan data center berlokasi di Indonesia. Program ini memungkinkan tingkat keamanan yang lebih baik dan bandwidth lebih tinggi.

Platform ini menyediakan layanan self-service berbasis situs yang memungkinkan visualisasi, monitoring dan kontrol SIM card baik statis atau bergerak melalui jaringan selular secara real-time. "Kami melihat market B2B khususnya IoT adalah potensi pertumbuhan bisnis besar" ujar Director & Chief Business Officer Indosat Ooredoo Herfini Haryono.

Reporter: Desy Setyowati