Laba Grab Melonjak 74% tapi Dibayangi Tantangan Aturan Komisi Ojol 8%
Grab Holdings mencatatkan kenaikan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) yang disesuaikan sebesar 74% pada kuartal terakhir. Meski demikian, perusahaan teknologi asal Singapura ini masih menghadapi sejumlah tantangan, termasuk tekanan regulasi di pasar Asia Tenggara, terutama Indonesia.
Dalam laporan kinerja, Grab menyampaikan EBITDA yang disesuaikan mencapai US$ 237 juta. Angka tersebut melampaui perkiraan rata-rata analis sebesar US$ 194,2 juta berdasarkan data Bloomberg.
Pendapatan Grab juga tumbuh 27% menjadi US$ 1,1 miliar. Capaian tersebut kurang lebih sesuai dengan perkiraan analis.
Kinerja kuartalan yang melampaui ekspektasi membuat Grab menaikkan proyeksi pendapatan dan laba untuk tahun penuh 2026.
Perusahaan memperkirakan pendapatan sepanjang 2026 mencapai US$ 4,15 miliar hingga US$ 4,2 miliar. Sementara itu, EBITDA yang disesuaikan diproyeksikan mencapai US$ 800 juta.
Proyeksi tersebut lebih tinggi dibandingkan perkiraan pada Agustus 2026. Saat itu, Grab memperkirakan pendapatan mencapai US$ 4,15 miliar dan EBITDA yang disesuaikan hingga US$ 740 juta.
Saham Grab pun naik sekitar 2% dalam perdagangan setelah jam kerja setelah pengumuman kinerja tersebut.
Grab Hadapi Tantangan Regulasi di Indonesia
Di tengah pertumbuhan bisnis, Grab masih menghadapi tekanan regulasi di sejumlah pasar Asia Tenggara. Indonesia menjadi salah satu pasar yang menjadi perhatian karena pemerintah telah memangkas batas maksimum komisi yang dapat dikenakan perusahaan untuk perjalanan menggunakan skuter.
Selain itu, pemerintah Indonesia sedang mempertimbangkan aturan lebih lanjut untuk sektor seperti layanan pengiriman makanan pada akhir 2026.
Tekanan regulasi tersebut berpotensi memengaruhi bisnis Grab di tengah persaingan yang semakin ketat. Perusahaan juga menghadapi kenaikan harga bahan bakar yang meningkatkan biaya operasional layanan transportasi daring dan pengiriman makanan.
Untuk mengurangi dampak kenaikan biaya, perusahaan platform menawarkan insentif kepada pengemudi dan pelanggan. Namun, strategi tersebut berisiko mempersempit margin keuntungan yang sudah tipis.
Persaingan juga semakin ketat dengan kehadiran GoTo Group dari Indonesia serta pendatang baru seperti Green & Smart Mobility yang bersaing di pasar padat penduduk, termasuk Indonesia dan Vietnam.
Grab mencatatkan penambahan sekitar tiga juta pengguna bulanan pada kuartal hingga September 2026. Dengan demikian, total pengguna bulanannya mencapai 57 juta.
Pertumbuhan jumlah pengguna tersebut menunjukkan Grab masih mampu mempertahankan daya saing di tengah persaingan bisnis layanan transportasi daring dan pesan antar makanan di Asia Tenggara.
Grab Perluas Bisnis di Luar Ojol
Untuk mendorong pertumbuhan, Grab juga memperluas bisnis di luar layanan transportasi daring dan pengiriman makanan.
Pada September 2026, Grab sepakat mengakuisisi saham mayoritas platform pinjaman digital dan beli sekarang bayar nanti (buy now pay later/BNPL) asal Singapura, Atome Financial, senilai US$ 1,49 miliar.
Sebelumnya, Grab juga membeli Stash Financial yang berbasis di Amerika Serikat dengan nilai perusahaan sebesar US$ 425 juta.
Selain ekspansi ke layanan keuangan digital, Grab memperluas penawaran produknya dengan menghadirkan pilihan layanan yang lebih terjangkau maupun premium.
Perusahaan juga merambah bisnis gim dan drama pendek melalui kerja sama dengan sejumlah platform untuk membuat pengguna menghabiskan lebih banyak waktu di dalam aplikasinya.
Namun, tidak semua rencana akuisisi Grab berjalan mulus. Pada Oktober 2026, Komisi Perdagangan Adil Taiwan memblokir rencana akuisisi bisnis pengiriman lokal foodpanda senilai sekitar US$ 600 juta oleh Grab karena kekhawatiran terkait persaingan usaha.
Meski demikian, analis Bloomberg Intelligence Jason Low dan Nathan Naidu menilai Grab masih berpeluang mempertahankan target EBITDA yang disesuaikan sebesar US$ 1,7 miliar pada 2028.
Menurut keduanya, kontribusi bisnis foodpanda Taiwan yang diperkirakan sekitar US$ 60 juta tergolong kecil dibandingkan target EBITDA tersebut.
Di sisi lain, saham Grab telah turun lebih dari 40% sejak awal 2026 sehingga memangkas nilai pasarnya menjadi sekitar US$ 11 miliar.