Produsen Laptop HP Akan PHK 6.000 Pegawai

HP
Laptop HP
Penulis: Lenny Septiani
24/11/2022, 12.47 WIB

Produsen komputer dan laptop HP Inc. mengumumkan akan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 4.000 – 6.000 karyawan dalam tiga tahun ke depan. Perusahaan memiliki 51 ribu karyawan per tahun lalu.

Usai pengumuman rencana PHK tersebut, harga saham perusahaan naik 1% pada Selasa (22/11).

HP menyampaikan bahwa penjualan komputer menurun. Permintaan laptop memang melonjak pada awal pandemi corona, tetapi pertumbuhan sensasional ini tidak bertahan lama.

Perusahaan mengatakan, PHK merupakan bagian dari rencana bisnis yang disebut ‘transformasi siap masa depan. “Ini akan menghasilkan penghematan run rate bruto tahunan US$ 1,4 miliar atau lebih dalam tiga tahun ke depan,” kata HP dalam keterangan pers, dikutip dari CNBC Internasional, Rabu (23/11).

Run rate adalah data berupa angka kinerja perusahaan saat ini atau yang terbaru dan dipergunakan dalam memperkirakan bagaimana performa perusahaan ke depan.

“Dengan biaya sekitar US$ 1 miliar termasuk restrukturisasi. Sebanyak US$ 600 juta di antaranya akan masuk pada tahun fiskal 2023, yang berakhir pada 31 Oktober 2023. Sisanya dibagi rata antara tahun fiskal 2024 dan 2025,” tambah HP.

Pendapatan HP per kuartal yang berakhir 31 Oktober, turun 0,8% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi US$ 14,8 miliar. Rinciannya sebagai berikut:

  • Segmen Personal Systems, yang mencakup personal computer atau laptop turun 13% menjadi US$ 10,3 miliar. Pengiriman turun 21% dan pendapatan per konsumen melorot 25%.
  • Segmen pencetakan turun 7% menjadi US$ 4,5 miliar dan pengiriman turun 3%.
  • Margin operasional untuk segmen Personal Systems turun dari 6,9% pada kuartal sebelumnya menjadi 4,5%

HP memprediksi pendapatan akhir tahun ini hingga awal 2023 yang disesuaikan dari 70 sen menjadi 80 sen per saham. Ini di bawah konsensus analis yang disurvei oleh Refinitiv 86 sen.

Laba per saham yang disesuaikan diperkirakan US$3,2 - US$ 3,6. Ini juga di bawah konsensus Refinitiv US$ 3,62 per saham.

Reporter: Lenny Septiani