Kontes Kecantikan Miss AI Pertama di Dunia, Hadiah Rp 162 Juta
Kontes kecantikan model berbasis kecerdasan buatan alias artificial intelligence (AI) berlangsung sejak awal bulan dan pengumuman pemenang pada 10 Mei. Pagelaran ini merupakan yang pertama di dunia.
Pembuat platform OnlyFans yakni Fanvue bekerja sama dengan World AI Creator Awards atau WAICA meluncurkan kompetisi Miss AI pertama di dunia pada awal April.
Pemenang pertama Miss AI akan mendapatkan uang tunai US$ 5.000, dukungan public relations atau PR US$ 5.000, dan promosi di platform OnlyFans. Penyelenggara belum memerinci hadiah untuk juara kedua dan ketiga.
Juri terdiri dari dua manusia dan dua model AI. Model AI Aitana Lopez menjadi salah satu juri.
Aitana Lopez menghasilkan lebih dari US$ 11.000 per bulan sebagai model dan influencer. Model AI asal Spanyol ini memiliki lebih dari 300 ribu pengikut di Instagram.
Model AI lainnya yang menjadi juri yakni Emily Pellegrini, yang memiliki lebih dari 250 ribu pengikut di Instagram.
Juri manusia yakni pengusaha sekaligus penasihat humas Andrew Bloch dan Sally-Ann Fawcett, sejarawan kontes kecantikan sekaligus penulis buku Misdemeanours: Beauty Queen Scandals.
Syarat untuk mengikuti kontes kecantikan AI tersebut yakni 100% dihasilkan oleh AI generatif buatan perusahaan atau sendiri.
Kriteria penilaian sebagai berikut:
- Penampilan dan ketenangan mereka
- Keterampilan teknis yang digunakan dalam menciptakan model AI
- Daya tarik di dunia maya misalnya, jumlah keterlibatan model AI dengan penggemar, tingkat pertumbuhan penonton, dan pemanfaatan platform lain seperti Instagram
Kontes kecantikan AI tersebut mendapatkan sejumlah kritik, karena mempromosikan standar kecantikan yang tidak realistis. Kedua juri model AI misalnya, perempuan muda dengan kulit lembab, tulang pipi tinggi, bibir penuh, payudara besar, dan tipe tubuh yang menunjukkan bahwa mereka memiliki pelatih pribadi yang siap dihubungi 24/7.
“Ini bukan tentang gelandangan, payudara, dan figur fantasi,” kata juri Sally-Ann Fawcett. “Para kreator mempunyai peluang untuk mengubah persepsi publik terhadap perempuan AI dan saya berharap dapat mengambil peran di dalamnya dengan memilih pemenang yang mewakili dunia modern.”
Sementara itu, juru bicara WAICA menjelaskan Miss AI bukan tentang kecantikan dalam arti stereotip. “Ini tentang memperjuangkan bakat kreatif artistik dan keindahan karya pencipta. Sama seperti arak-arakan tradisional, bahkan ada pertanyaan yang harus dijawab oleh para kontestan: 'Jika Anda punya satu impian untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik, mimpi apakah itu?'” kata dia.