Komdigi Ungkap 3 Alasan Layanan AI Masih Sulit Dikembangkan di Indonesia
Kementerian Komunikasi dan Digital atau Komdigi menyampaikan pengembangan AI di Indonesia masih menghadapi tantangan, mulai dari infrastruktur yang belum memadai, kecepatan internet yang belum optimal hingga ancaman keamanan siber.
Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Kementerian Komdigi Edwin Hidayat mengatakan konektivitas menjadi salah satu tantangan utama Indonesia untuk bersaing dengan negara lain dalam penerapan AI.
“Tantangannya bandwidth dan latensi rendah. Sebab, tanpa ini, layanan AI real-time seperti telemedicine, sistem kendali otomatis, dan prediksi bencana tidak akan bisa berjalan lancar,” kata Edwin dalam AI Innovation Summit di Jakarta Selatan, Selasa (16/9).
Ia mengakui konektivitas Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan negara maju. “Jadi ini tantangannya, kita sekarang konektivitasnya, speednya masih sangat kurang dibandingkan negara maju.”
Selain itu, ketersediaan AI Workplace, National Data Hub hingga GPU Cluster belum maksimal di Indonesia. Tanpa ini, layanan AI real-time seperti decision system dan perdagangan otomatis sulit berjalan lancar.
Ketersediaan energi juga jadi tantangan. “AI membutuhkan listrik, dan listrik harus datang dari sumber yang bersih dan berkelanjutan. Oleh karena itu, kami mendorong pembangunan Green Energy Supergrid,” katanya.
Keamanan siber juga masih menjadi ancaman serius di Indonesia. Edwin mengatakan, hampir 21 ribu perusahaan di Indonesia mengalami kebocoran data pada 2022.
Komdigi tengah merancang kerangka regulasi etika AI yang mengacu pada standar internasional seperti ISO dan AI Act atau regulasi kecerdasan buatan dari Uni Eropa (EU AI Act). Kerangka ini menekankan prinsip inklusivitas, transparansi, akuntabilitas, perlindungan data pribadi hingga hak kekayaan intelektual.
“Setiap algoritma yang dikembangkan harus adil, aman, dan tidak menyingkirkan siapa pun karena bias maupun diskriminasi,” ujar Edwin.
Ketiga tantangan itu dapat menghambat potensi ekonomi besar yang bisa dihasilkan AI.
Edwin menekankan AI dapat berkontribusi terhadap perekonomian Indonesia Rp 1.200 triliun per tahun pada 2030, setara 3,67% dari PDB nasional. Potensi ini bisa dialokasikan untuk pembangunan sektor penting seperti pendidikan, kesehatan hingga infrastruktur.
Akan tetapi, transformasi itu belum merata. Sektor keuangan dan e-commerce menjadi yang paling cepat mengadopsi AI, sementara bidang lain seperti pertanian, pendidikan, dan politik masih tertinggal.
“Kalau kita berani berinvestasi pada otomatisasi cerdas, predictive maintenance, dan sistem produksi berbasis AI, sektor-sektor yang lambat bisa langsung melompat,” ujarnya.