Riset ASUS: Strategi Adopsi Dini AI PC Buat UKM Unggul
Jika sebelumnya adopsi teknologi digital difokuskan pada cloud, kolaborasi daring, dan keamanan dasar, riset ASUS menunjukkan dalam beberapa tahun ke depan Artificial Intelligence (AI) di level perangkat, khususnya AI PC, akan menjadi pembeda utama daya saing bisnis Usaha Kecil dan Menengah (UKM/SMB).
AI kini hadir sebagai alat kerja nyata yang menentukan kecepatan, ketepatan, dan keberlanjutan operasional SMB. Fakta tersebut terungkap dari sebuah laporan yang dipublkasikan baru-baru ini.
Dalam laporan bertajuk ASUS 2025 Future of SMB Report menunjukkan pergeseran penting AI. Ternyata, 64% pelaku SMB menyatakan siap mengadopsi dan menggunakan AI saat ini. Angka ini menegaskan bahwa AI bukan lagi teknologi eksperimental, melainkan solusi praktis yang mulai diintegrasikan ke dalam proses bisnis sehari-hari.
Temuan yang menarik, bahkan hampir separuh responden meyakini dampak positif AI akan terasa dalam satu hingga dua tahun ke depan.
Menurut Verry Zhu, Commercial Country Product Manager - SMB Desktop & All-in-One, ASUS Indonesia, tantangan terbesar bagi SMB saat ini bukanlah adopsi AI yang terlalu cepat, melainkan justru keterlambatan dalam mengambil keputusan.
“Dalam lanskap bisnis yang semakin kompetitif, menunda adopsi AI berarti memberi ruang bagi pesaing untuk bergerak lebih gesit, lebih efisien, dan lebih aman. AI PC memberikan para SMB fondasi baru untuk berkembang tanpa harus mengorbankan kompleksitas atau biaya besar,” ujarnya.
Produktivitas dan Keputusan yang Lebih Cerdas
Manfaat paling nyata dari adopsi AI terlihat pada peningkatan produktivitas. Sebanyak 68% perusahaan skala SMB atau UMKM melaporkan efisiensi kerja yang lebih tinggi berkat AI, memungkinkan tim menyelesaikan lebih banyak pekerjaan dengan sumber daya yang lebih terbatas.
AI juga terbukti dapat membantu otomatisasi tugas-tugas administratif, analisis data yang lebih cepat, hingga pengambilan keputusan berbasis insight. Bukan asumsi. Dan tak hanya internal, dampaknya juga terasa pada interaksi dengan pelanggan.
Tercatat, sebanyak 64% SMB merasakan peningkatan kualitas analitik, sementara 51% menyebut AI membantu mereka merespons kebutuhan pelanggan dengan lebih cepat dan tepat. Dalam konteks pasar yang menuntut kecepatan dan personalisasi, kemampuan ini tentunya menjadi keunggulan kompetitif yang krusial.
Kolaborasi, Talenta, dan Keamanan
Menariknya, AI juga berperan dalam aspek yang sering luput dari perhatian, yakni hubungan dan kolaborasi. Sebanyak 33% pemimpin SMB percaya AI memperkuat kolaborasi internal dan relasi dengan klien.
Teknologi seperti ASUS ExpertMeet, yang terdapat pada laptop ASUS ExpertBook dan PC Expert Series, dapat menghadirkan fitur transkripsi real-time, terjemahan langsung, hingga ringkasan rapat otomatis, semua berjalan secara lokal di perangkat AI PC.
“Bagi SMB, kolaborasi yang efektif dan aman adalah kunci. Dengan AI yang berjalan langsung di perangkat, kami memastikan data bisnis tetap terlindungi, tanpa mengorbankan kemudahan dan produktivitas,” jelas Verry.
Pendekatan ini menjawab dua kekhawatiran utama SMB, yakni aspek keamanan data dan aspek keterbatasan infrastruktur IT.
Selain itu, AI PC juga berperan dalam retensi talenta. Generasi profesional saat ini mengharapkan perangkat kerja yang cerdas, cepat, dan relevan dengan cara kerja modern. Perusahaan yang gagal menyediakan alat kerja tersebut berisiko kehilangan talenta terbaiknya ke organisasi yang lebih adaptif secara teknologi.
Aksesibilitas sebagai Kunci
Salah satu penghalang adopsi teknologi canggih di segmen SMB selama ini adalah kompleksitas. ASUS berupaya menghapus hambatan tersebut dengan menghadirkan AI PC seperti ASUS ExpertBook ataupun Expert Center P Series, yang mengintegrasikan kapabilitas AI, kolaborasi, dan keamanan dalam satu perangkat yang mudah digunakan dan siap pakai.
“Visi kami sederhana. AI harus bisa diakses oleh semua pelaku bisnis, termasuk SMB. Bukan sebagai beban baru, tetapi sebagai akselerator pertumbuhan,” tutup Verry.
Di tengah percepatan inovasi global, pertanyaan bagi SMB bukan lagi apakah AI penting, melainkan seberapa cepat mereka siap bergerak. Dalam era ini, adopsi dini bukan sekadar langkah teknologi, melainkan keputusan strategis yang menentukan siapa yang memimpin, dan siapa yang tertinggal.