Hacker atau peretas Iran disebut mulai menyasar sistem infrastruktur penting milik Amerika Serikat. Pemerintah AS pun memberikan peringatan keras.
Biro Investigasi Federal, Badan Keamanan Nasional, Badan Keamanan Siber dan Infrastruktur, dan Departemen Energi Amerika Serikat mengungkapkan peretas kini mengeksploitasi perangkat yang terhubung internet di sektor-sektor krusial, termasuk udara, energi, dan pemerintahan lokal, dikutip dari TechCrunch, Selasa (7/4).
Para peretas menargetkan sistem industri seperti PLC dan Supervisory Control and Data Acquisition yang merupakan teknologi yang mengontrol operasi fasilitas vital. Dengan akses ke sistem ini, peretas tidak hanya bisa melihat data, tetapi juga memanipulasi cara kerja mesin dan infrastruktur.
Serangan semacam ini menandai perubahan besar dalam strategi. Jika sebelumnya serangan siber identik dengan pencurian informasi, kini peretas berupaya menciptakan dampak langsung seperti gangguan layanan hingga kerugian finansial.
Nama Handala mencuat sebagai salah satu aktor utama. Kelompok ini dikaitkan dengan sejumlah serangan besar, termasuk pembobolan sistem perusahaan teknologi medis Stryker. Dalam insiden tersebut, peretas bahkan mampu menghapus ribuan perangkat karyawan dari jarak jauh menggunakan sistem keamanan internal perusahaan.
Mereka juga disebut berada di balik kebocoran email pribadi Direktur FBI Kash Patel. Lonjakan agresivitas ini diyakini berkaitan dengan memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah.
Peringatan ini juga muncul tak lama setelah Presiden AS Donald Trump mengancam Iran dalam sebuah unggahan media sosial pada Selasa pagi (7/4) waktu setempat.
"Seluruh peradaban akan mati malam ini jika Iran tidak menyerah pada kesepakatan dengan Amerika Serikat untuk membuka Selat Hormuz, titik penting bagi lalu lintas pelayaran global, pada akhir hari,” tulis Trump.