Misteri panjang tentang siapa sosok di balik Satoshi Nakamoto kembali memanas. Satoshi Nakamoto adalah nama samaran dari pencipta misterius Bitcoin, mata uang kripto terdesentralisasi pertama yang memperkenalkan konsepnya melalui white paper pada 2008.

Laporan investigasi The New York Times mengarahkan sosok misterius Satoshi kepada Adam Back. Adam merupakan seorang kriptografer dan pegiat kriptografi asal Inggris yang juga merupakan CEO Blockstream.

Kesimpulan The New York Times ini berdasarkan serangkaian bukti berbasis jejak digital, pola bahasa, hingga analisis kecerdasan buatan.

Jurnalis The New York Times John Carreyrou menyusun potongan puzzle yang selama ini tersebar di internet selama puluhan tahun. Hasilnya, profil Back dinilai memiliki kemiripan mencolok dengan pencipta Bitcoin tersebut.

Salah satu bukti utama berasal dari analisis gaya penulisan. Carreyrou menentukan frasa, nada, hingga cara Back mengekspresikan ide teknis sangat mirip dengan Nakamoto, termasuk pengakuan khas seperti lebih mahir dalam kode daripada kata-kata.

Tak hanya itu, jejak waktu juga jadi sorotan. Back diketahui menghilangan dari forum kriptografi pada periode yang hampir bersamaan dengan kemunculan dan aktivitas intens Nakamoto di dunia maya.

Petunjuk lain muncul saat Carreyrou mengkonfrontasi Back dalam sebuah konferensi di El Salvador. Dalam laporan tersebut, Back digambarkan terlihat memerah dan gelisah, bahkan sempat terpeleset dalam ucapan seolah berbicara sebagai Nakamoto.

“Ia telah menghilangkan keraguan yang tersisa di benak saya bahwa saya telah menemukan orang yang tepat,” tulis Carreyrou.

Bantahan Back

Namun, Back langsung membantah keras. Lewat akun media sosial X, ia menegaskan semua bukti itu hanyalah kebetulan dari orang-orang dengan minat dan latar belakang serupa.

“Kombinasi kebetulan dan frasa serupa dari orang-orang dengan pengalaman dan minat yang serupa,” tulis Back.

Back bahkan menyatakan tidak mengetahui sosok dibalik nama samaran Satoshi. Namun ia menilai hal ini memberikan sentimen positif bagi Bitcoin karena semakin dipandang sebagai kelas aset baru, komoditas digital yang langka secara sistematis.

Komunitas kripto pun terbelah. Sebagian menganggap rangkaian bukti tersebut terlalu kuat untuk diabaikan. Namun professor ilmu komputer di University College London Stephen Murdoch menilai belum ada bukti konkret yang benar-benar memastikan hal itu.

“Ada beberapa indikasi bahwa itu dia, tetapi tidak ada bukti yang kuat,” kata Murdoch.

Bahkan, Murdoch mengatakan nama lain seperti Hal Finney masih dianggap kandidat kuat. Hal ini karena Finnet menerima transaksi Bitcoin pertama dari Satoshi.

Teori lain menyebut Satoshi bisa jadi adalah sekelompok orang, bukan individu tunggal. “Satoshi hampir pasti lebih dari satu orang. Saya pikir ada sekelompok kecil orang di balik ini, dan mereka memahami struktur keuangan lebih dari yang diakui,” kata Asisten professor Ilmu Komputer Universitas Teykjavik, Jacky Mallett.

Jika benar Back adalah Satoshi, implikasinya sangat besar termasuk kepemilikan sekitar 1,1 juta Bitcoin yang bisa mengguncang pasar global dan menarik perhatian regulator seperti Securities and Exchange Commission.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Rahayu Subekti