Komdigi Sebut Nikel hingga Silika Jadi Tiket RI Masuk Industri AI Dunia

ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/nym.
Wakil Menteri (Wamen) Komunikasi dan Digital (Komdigi) Nezar Patria menjawab pertanyaan dalam program siniar (podcast) saat mengunjungi Antara Heritage Center (AHC) di Jakarta, Selasa (24/2/2026).
20/5/2026, 09.04 WIB

Pemerintah mulai mempersiapkan langkah besar agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar teknologi global, tetapi juga pemain penting dalam industri kecerdasan buatan atau AI. Salah satu modal utama yang kini disorot adalah kekayaan sumber daya alam strategis yang dimiliki Indonesia.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Nezar Patria menyebut Indonesia memiliki peluang besar masuk ke rantai industri AI dunia. Hal ini karena mempunyai cadangan mineral penting untuk industri semikonduktor dan chip.

“Pemerintah sudah bekerja sama dengan sejumlah industri semikonduktor di Eropa, Jepang, termasuk Arm di Inggris. Dalam kunjungan Presiden ke berbagai negara, isu semikonduktor juga menjadi pembahasan strategis,” kata Nezar dalam pernyataan tertulisnya, Selasa (19/5).

Ia mengatakan, Indonesia selama ini belum berada dalam rantai pasok utama industri AI global. Karena itu, pemerintah mengambil langkah cepat dan strategis untuk membangun ekosistem industri AI nasional sekaligus memperkuat talenta digital.

Menurut Nezar, pengembangan industri AI sangat berkaitan erat dengan industri semikonduktor sebagai fondasi utama teknologi komputasi modern. Ini termasuk pengembangan GPU dan pusat data AI.

Ia mengatakan, Indonesia memiliki modal besar untuk masuk lebih jauh ke industri AI global. Hal ini didukung kekayaan sumber daya alam strategis seperti nikel, cobalt, timah, pasir silika hingga zinc yang dibutuhkan dalam industri chip dan semikonduktor.

“Sayangnya sebagian besar masih dijual sebagai bahan mentah. Karena itu hilirisasi menjadi sangat penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar teknologi,” ujarnya.

Nezar juga menyoroti ketatnya persaingan global dalam pengembangan AI yang kini didominasi oleh Amerika Serikat dan Cina. Ia menilai penguasaan semikonduktor dan kapasitas komputasi akan menjadi faktor penentu daya saing negara di masa depan.

Chips akan menjadi faktor penentu apakah sebuah bangsa mampu berkompetisi dalam pertarungan teknologi maju seperti artificial intelligence,” katanya.

Saat ini pemerintah juga tengah  menyusun Peta Jalan AI Nasional. Kebijakan ini akan dijadikan sebagai panduan strategis pengembangan AI Indonesia menuju visi Indonesia Digital 2045.

“Peta jalan AI nasional ini bukan hanya dokumen birokratis, tetapi kontrak sosial kita untuk teknologi masa depan Indonesia,” kata Nezar.

 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Rahayu Subekti