Meta Gelontorkan Rp 162 Triliun Bangun Pusat Data AI Pertama di Kanada

ananitit-pixabay.com
Ilustrasi data center
Penulis: Rahayu Subekti
9/7/2026, 10.06 WIB

Meta Platforms menggelontorkan investasi sekitar US$ 9 miliar atau Rp 162,05 triliun (kurs Rp 18.005 per dolar AS) untuk membangun pusat data kecerdasan buatan atau AI pertamanya di Kanada. Investasi jumbo ini menjadi bagian dari strategi perusahaan memperkuat infrastruktur AI di tengah persaingan yang semakin ketat dengan para raksasa teknologi global.

Dalam unggahan di blog perusahaan pada Rabu (9/7), Meta mengumumkan akan membangun fasilitas pusat data berkapasitas 1 gigawatt di Provinsi Alberta. Proyek tersebut diperkirakan membutuhkan waktu pembangunan selama dua hingga tiga tahun dan menjadi pusat data ke-33 yang dimiliki Meta secara global.

Meta memilih Sturgeon County, Alberta, sebagai lokasi pembangunan karena dinilai memiliki pasokan energi yang melimpah, jaringan kelistrikan yang kuat, serta regulasi yang mendukung pengembangan infrastruktur digital berskala besar. Kawasan tersebut juga telah lama ditetapkan sebagai zona industri dengan kapasitas tambahan untuk pembangunan infrastruktur energi.

"Lokasi ini memenuhi faktor-faktor yang biasanya kami cari, yakni akses yang baik terhadap infrastruktur, jaringan listrik yang kuat dan pasokan energi, ketersediaan talenta, serta dukungan mitra komunitas yang membantu kami merealisasikan proyek ini," kata juru bicara Meta dalam keterangannya dikutip dari CNBC, Rabu (8/7). 

Pembangunan fasilitas tersebut merupakan bagian dari ekspansi besar-besaran Meta dalam membangun infrastruktur AI. Ini dilakukan untuk mendukung pengembangan model kecerdasan buatan dan layanan berbasis AI yang terus berkembang.

Selain memperkuat kapasitas komputasi internal, Meta juga tengah menyiapkan bisnis komputasi awan atau cloud computing baru. Perusahaan mempertimbangkan untuk menjual kapasitas pusat data yang tidak terpakai kepada pihak ketiga maupun menyediakan akses terhadap model AI yang dioperasikan melalui infrastrukturnya.

Langkah tersebut dinilai sebagai upaya Meta mencari sumber pendapatan baru di luar bisnis periklanan digital yang selama ini menjadi tulang punggung perusahaan. Meski demikian, strategi belanja modal agresif Meta masih menuai skeptisisme dari investor. 

Perusahaan sebelumnya memperkirakan belanja modal tahun ini dapat mencapai US$ 145 miliar atau Rp 2.610,73 triliun untuk mendukung ekspansi AI. Sebagian investor mempertanyakan besarnya investasi tersebut karena Meta dinilai masih tertinggal dibandingkan OpenAI, Anthropic, maupun Google dalam pengembangan model AI generatif. 

Sementara di pasar saham, kinerja Meta juga masih tertinggal dibandingkan indeks teknologi. Saham perusahaan tercatat turun sekitar 9% sejak awal tahun, sementara indeks Nasdaq justru menguat sekitar 11%.

Persaingan Raksasa Teknologi Bangun Infrastruktur AI

Persaingan membangun infrastruktur AI saat ini semakin intensif. Selain Meta, perusahaan teknologi besar seperti Alphabet, Microsoft, dan Amazon juga terus memperluas jaringan pusat data mereka untuk memenuhi lonjakan kebutuhan komputasi AI sekaligus menopang bisnis layanan cloud masing-masing.

Di sisi lain, pembangunan pusat data berskala besar juga memunculkan perhatian terhadap dampak lingkungan. Laporan Canadian Broadcasting Corporation (CBC) pada Juni 2026 menyoroti potensi peningkatan emisi karbon, konsumsi air, serta kebisingan yang ditimbulkan oleh fasilitas data center AI.

Menanggapi hal tersebut, Meta menyatakan telah bekerja sama dengan sejumlah perusahaan energi di Kanada, termasuk Greenlight Limited Partnership, AltaLink, Capital Power, dan Alberta Electric System Operator. Hal ini dilakukan untuk merencanakan kebutuhan energi proyek jauh sebelum pusat data mulai beroperasi.

Perusahaan juga menyebut proyek tersebut diperkirakan akan menyerap lebih dari tiga ribu tenaga kerja konstruksi pada puncak pembangunan. Selain itu, Meta berkomitmen melakukan investasi pada infrastruktur lokal serta memberikan pendanaan bagi sejumlah organisasi nirlaba di wilayah sekitar proyek.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Rahayu Subekti