Lesunya Industri Gim Jadi Beban Baru, Apple Cari Mesin Uang Baru

ANTARA FOTO/REUTERS/Mike Segar
Bisnis Apple Store melambat karena penurunan belanja gim seluler.
Penulis: Rahayu Subekti
31/7/2026, 10.40 WIB

Apple mulai menghadapi tantangan baru pada bisnis layanannya yakni services. Hal ini terjadi setelah perlambatan industri gim dan perubahan aturan App Store menekan laju pertumbuhan segmen yang selama ini menjadi salah satu mesin laba perusahaan.

Dalam laporan keuangan kuartal III tahun fiskal 2026, Apple membukukan pendapatan layanan sebesar US$ 30,74 miliar atau Rp 555,72 triliun (kurs Rp 18.078 per dolar AS), lebih rendah dari ekspektasi analis Wall Street sebesar US$ 31,22 miliar atau Rp 564,40 triliun. Segmen ini menjadi satu-satunya bisnis Apple yang gagal memenuhi proyeksi pasar, di tengah penjualan perangkat keras yang mencetak rekor.

Chief Financial Officer (CFO) Apple Kevan Parekh mengatakan perlambatan bisnis App Store dipengaruhi beberapa faktor, termasuk melemahnya belanja gim seluler atau mobile game. Menurutnya, penurunan aktivitas di industri gim menjadi salah satu penyebab utama melambatnya pertumbuhan transaksi di App Store.

Selain itu, Apple juga menghadapi perubahan aturan di sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat yang mewajibkan perusahaan membuka opsi pembayaran di luar App Store. Kebijakan tersebut memungkinkan pengembang memproses pembayaran langsung kepada pelanggan tanpa melalui sistem pembayaran Apple, sehingga berpotensi mengurangi pendapatan komisi perusahaan.

Meski demikian, Parekh menegaskan bukan hanya App Store yang memengaruhi kinerja layanan, nilai tukar mata uang asing turut menjadi faktor penekan. Apple juga menghadapi basis pembanding yang tinggi setelah sebelumnya menikmati lonjakan pendapatan dari kesuksesan film F1 di bioskop.

Rekor Pendapatan Apple Store

Di tengah tekanan tersebut, Apple menyebut App Store tetap mencatatkan rekor pendapatan untuk kuartal yang berakhir Juni. Capaian itu turut ditopang oleh pertumbuhan bisnis Apple Ads, yang kini menjadi salah satu sumber pendapatan penting dan telah diperluas ke layanan Apple Maps.

Secara keseluruhan, bisnis layanan Apple kini memiliki lebih dari 1,5 miliar pelanggan berbayar, meningkat dari sekitar 1 miliar pelanggan pada Januari 2025. Perusahaan juga mencatat rekor pendapatan sepanjang masa di pasar negara maju dan rekor pendapatan kuartal Juni di pasar negara berkembang.

"Layanan kami terus menarik lebih banyak pelanggan. Kami kini telah melampaui satu setengah miliar pelanggan berbayar. Baik jumlah transaksi maupun akun berbayar mencapai rekor tertinggi sepanjang masa pada kuartal ini, dengan pertumbuhan dua digit di pasar negara berkembang," kata Parekh dikutip dari TechCrunch, Jumat (31/7).

Apple mengatakan sejumlah layanan masih mencatatkan kinerja positif, di antaranya Apple Ads, AppleCare, Apple Music, Apple TV, layanan cloud, dan layanan pembayaran. Apple TV bahkan membukukan jumlah penonton tertinggi sepanjang sejarah pada kuartal tersebut.

Apple Siapkan Sumber Pendapatan Baru

Di tengah perlambatan industri gim dan tekanan terhadap App Store, Apple mulai menyiapkan sumber pertumbuhan baru untuk menopang bisnis layanannya.

Perusahaan memperkenalkan sejumlah layanan baru, seperti langganan Creator Studio serta fitur pembagian tagihan atau bill splitting di Apple Cash. Ini diharapkan dapat meningkatkan keterlibatan pengguna dalam ekosistem pembayaran Apple.

Apple juga meluncurkan program Apple Upgrade bekerja sama dengan Klarna. Program tersebut memungkinkan konsumen memperbarui perangkat Apple melalui skema pembiayaan, yang diharapkan dapat mendorong penjualan iPhone sekaligus meningkatkan adopsi berbagai layanan berlangganan Apple.

 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Rahayu Subekti