Telkom, Indosat, hingga DCI Indonesia Berebut Cuan dari Ledakan Data Center

ANTARA FOTO/Teguh Prihatna/tom.
Foto udara pembangunan data center di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa Digital Park, Batam, Kepulauan Riau, Rabu (6/8/2025).
Penulis: Rahayu Subekti
24/8/2026, 15.15 WIB

Bisnis data center atau pusat data mulai menjadi salah satu ladang pertumbuhan baru bagi sejumlah emiten Indonesia. Di tengah kebutuhan komputasi yang meningkat, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (ISAT), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), hingga PT DCI Indonesia Tbk (DCII) berkompetisi membangun eksposur data center dengan model bisnis dan skala yang berbeda.

BRI Danareksa Sekuritas dalam riset bertajuk Mapping Indonesia's Data Center Race: Early-Stage Growth with a Deep Pipeline menilai pasar data center Indonesia masih berada pada tahap awal pertumbuhan. Kondisi tersebut membuka ruang ekspansi bagi perusahaan yang sudah memiliki aset data center maupun yang tengah membangun kapasitas baru.

Riset tersebut menempatkan TLKM, ISAT, DSSA dan DCII sebagai emiten dengan eksposur paling langsung terhadap pembangunan data center. Sementara PT Panca Anugrah Wisesa Tbk (MGLV), PT Sinergi Inti Andalam Prima Tbk (INET), dan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) dinilai masih berada pada tahap yang lebih awal yang layak dipantau. Perbedaan posisi keempat emiten tersebut terlihat dari aset, kapasitas, hingga strategi pengembangan masing-masing.

“Mengingat pasar masih berada pada tahap awal, kepastian pasokan daya dan skala operasi akan menjadi penentu bagi perusahaan yang akan unggul,” kata tim analis BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya, dikutip Senin (24/8).

DCII Punya Skala Operasi Terbesar

DCI Indonesia menjadi salah satu pemain yang paling matang dari sisi bisnis pusat data. Perusahaan mengoperasikan 128 megawatt (MW) kapasitas IT melalui empat fasilitas.

Dua fasilitas hyperscale DCII berada di H1 Cibitung dengan kapasitas 73 MW dan H2 Karawang sebesar 27 MW. Keduanya masih memiliki ruang ekspansi yang besar.

Riset menyebutkan pusat data DCII di H1 dapat ditingkatkan hingga 220 MW. Sementara H2 memiliki kapasitas yang dapat dikembangkan hingga lebih dari 600 MW.

DCII juga memiliki dua fasilitas edge di Jakarta dan Surabaya dengan kapasitas masing-masing 19 MW dan 9 MW.

Dengan posisi tersebut, DCII menjadi satu-satunya emiten yang disebut BRI Danareksa sebagai listed pure-play data center dengan skala operasi yang sudah nyata.

Perusahaan juga memiliki ruang ekspansi jangka panjang melalui H3 Sky DC Park di Bintan. Fasilitas tersebut memiliki kapasitas yang dapat dikembangkan lebih dari 1.000 MW dan didukung lahan sekitar 700 hektare.

Untuk membiayai ekspansi, DCII telah memperoleh fasilitas pinjaman Rp 17 triliun dari Bank Central Asia (BCA). Pendanaan ini memberikan ruang yang signifikan bagi rencana peningkatan kapasitas perusahaan.

Telkom Perbesar NeutraDC

Berbeda dengan DCII, Telkom memanfaatkan bisnis data center melalui NeutraDC. Saat ini, NeutraDC memiliki kapasitas IT yang telah beroperasi sebesar 90,4 MW dan menargetkan total kapasitas mencapai 300 MW pada 2030.

Salah satu sumber pertumbuhannya berasal dari kampus data center di Cikarang. Kampus pertama memiliki kapasitas desain 21,5 MW, dengan 3,5 MW telah beroperasi. Sebanyak 18 MW lainnya telah selesai dibangun dan dikontrak, tetapi masih dalam proses penyesuaian dengan kebutuhan penyewa.

Telkom juga telah menyiapkan lahan untuk kampus kedua di lokasi yang sama sehingga total kapasitas yang direncanakan di Cikarang mencapai 120 MW. NeutraDC juga memiliki fasilitas 18 MW di Batam dan 17,4 MW di Singapura.

Strategi Telkom tidak hanya berhenti pada pembangunan kapasitas. Perseroan tengah memproses divestasi 70% saham NeutraDC dan berencana menggandeng operator data center global sebagai mitra strategis.

BRI Danareksa mencatat, saat ini media melaporkan valuasi NeutraDC dalam transaksi tersebut berada di kisaran US$ 1 miliar atau Rp 17,7 triliun (kurs Rp 17.705 per dolar AS) hingga US$ 1,5 miliar atau Rp 26,5 triliun. Masuknya mitra global diharapkan dapat memperkuat kemampuan operasional NeutraDC, terutama untuk melayani pelanggan hyperscaler.

ISAT Gabungkan Data Center dan AI

Indosat memiliki jalur berbeda. Eksposur perseroan berasal dari BDx Indonesia serta Zankore, perusahaan AI neocloud yang dikembangkan bersama Ooredoo.

Melalui BDx Indonesia, ISAT memiliki 25% saham. BDx mengoperasikan 30 MW kapasitas melalui tiga fasilitas edge dan memiliki fasilitas hyperscale CGK4 di Jatiluhur dengan kapasitas 72 MW.

CGK4 dirancang untuk dapat dikembangkan hingga 500 MW. BDx juga tengah membangun CGK5 yang diproyeksikan menambah kapasitas 110 MW. Untuk mendukung pengembangan tersebut, BDx telah mengamankan komitmen listrik PLN sebesar 1,2 GW.

Selain infrastruktur fisik, ISAT memiliki potensi eksposur terhadap bisnis AI melalui Zankore. ISAT berpotensi memiliki sekitar 30% saham dalam perusahaan tersebut.

Halaman:
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Rahayu Subekti