Komdigi Pede Indonesia Bisa Jadi Pemain Utama Ekonomi Digital Dunia pada 2040
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) optimistis Indonesia dapat menjadi salah satu ekonomi digital terkemuka di dunia pada 2040. Namun, pemerintah masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama dalam meningkatkan pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) secara produktif.
Direktur Jenderal Ekosistem Digital Komdigi Edwin Hidayat Abdullah mengatakan keyakinan itu ditopang oleh visi pemerintah, semangat masyarakat, serta besarnya potensi ekonomi Indonesia.
“Saya ingin memulai dengan keyakinan bahwa Indonesia dapat menjadi salah satu ekonomi digital terkemuka di dunia pada 2040,” kata Edwin saat menyampaikan keynote di acara Batic 2026, Nusa Dua, Bali, Kamis (27/8).
Menurut Edwin, perkembangan AI menjadi salah satu modal penting Indonesia untuk mencapai ambisi tersebut. Namun, pemanfaatan teknologi tersebut oleh masyarakat masih perlu ditingkatkan.
Baru 15% Masyarakat Pakai AI Secara Produktif
Edwin mengatakan hampir 200 juta penduduk Indonesia saat ini telah terhubung ke internet. Namun, baru sekitar 15% masyarakat yang memanfaatkan AI secara produktif.
Sebagian besar masyarakat masih menggunakan AI terutama untuk menjelajah internet atau mencari informasi.
“Inilah kesenjangan yang harus kita atasi,” ujarnya.
Karena itu, strategi pemerintah dalam membangun ekosistem digital diarahkan untuk menghubungkan seluruh masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.
Pemerintah juga ingin memastikan perkembangan ekonomi digital berlangsung secara inklusif, serta tetap melindungi ekosistem digital dan para penggunanya.
Ekonomi Digital Jadi Modal Pertumbuhan
Edwin mengatakan optimisme terhadap ekonomi digital Indonesia juga ditopang oleh fondasi ekonomi nasional yang kuat.
Menurut dia, perekonomian Indonesia konsisten mencatat pertumbuhan positif meski berada di tengah konflik dan ketidakpastian global.
Pemerintah bahkan menetapkan target ambisius untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekitar 8% pada 2029.
Edwin mengakui target tersebut masih mungkin diragukan oleh sebagian pihak. Namun, menurutnya, perkembangan ekonomi digital memberikan peluang untuk mendukung pencapaian target pertumbuhan tersebut.
Saat ini, nilai gross merchandise value (GMV) ekonomi digital Indonesia disebut telah mencapai sekitar US$ 130 miliar per tahun.
“Ini sudah menjadi sektor ekonomi yang signifikan,” kata Edwin.
Selain besarnya jumlah pengguna internet dan nilai ekonomi digital, pertumbuhan infrastruktur digital juga menjadi salah satu fondasi yang disoroti Komdigi.
Edwin mengatakan infrastruktur digital Indonesia tumbuh lebih cepat dibandingkan produk domestik bruto (PDB) secara keseluruhan.
Di sisi lain, sektor informasi dan komunikasi telah tumbuh lebih dari 8% per tahun dalam sekitar 10 hingga 15 tahun terakhir.
Pertumbuhan sektor tersebut turut mendorong perkembangan ekonomi digital Indonesia.
Dengan fondasi tersebut, pemerintah melihat ekonomi digital bukan lagi sekadar sektor pendukung, melainkan telah menjadi bagian signifikan dari perekonomian nasional.
Komdigi Tegaskan Tak Sekadar Tiru Regulasi Eropa
Dalam membangun ekosistem digital, Komdigi juga menekankan pentingnya kebijakan yang sesuai dengan kondisi Indonesia.
Edwin menegaskan pemerintah tidak sekadar meniru regulasi digital yang diterapkan negara lain, termasuk Digital Services Act (DSA) dan Digital Markets Act (DMA) di Eropa.
“Ada yang mengatakan Indonesia hanya mencoba meniru Digital Services Act dan Digital Markets Act milik Eropa. Bukan itu yang terjadi. Pendekatan kita berbeda dan didasarkan pada kebutuhan serta pemahaman Indonesia sendiri terhadap ekosistem digitalnya,” katanya.
Dengan demikian, upaya Indonesia menjadi salah satu ekonomi digital terkemuka pada 2040 bertumpu pada sejumlah modal dan pekerjaan rumah: basis pengguna internet yang besar, pertumbuhan infrastruktur dan sektor informasi-komunikasi, nilai ekonomi digital yang telah mencapai sekitar US$130 miliar, serta pengembangan pemanfaatan AI.
Tantangan berikutnya adalah mempersempit kesenjangan pemanfaatan AI agar teknologi tersebut tidak hanya digunakan untuk mencari informasi, tetapi juga dapat dimanfaatkan secara produktif untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.