FWA Jadi Mesin Bisnis Baru TOWR, Sudah Ada 2.000 Pesanan Menara
PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) melihat pengembangan Fixed Wireless Access (FWA) sebagai salah satu peluang pertumbuhan baru bisnis infrastruktur digital. Perseroan bahkan telah menerima sekitar 2.000 pesanan pembangunan menara untuk mendukung ekspansi FWA dari Surge dan MyRepublic.
Direktur TOWR Indra Gunawan mengatakan, permintaan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan FWA mulai dikonversi menjadi kebutuhan infrastruktur secara nyata. FWA adalah teknologi akses internet broadband nirkabel tetap, yang menggunakan sinyal radio atau gelombang seperti 4G LTE atau 5G dari menara pemancar atau Base Transceiver Station (BTS) langsung ke perangkat penerima di rumah atau kantor pelanggan.
Karakteristik infrastruktur FWA, kata Indra, memberikan keuntungan tersendiri bagi perusahaan menara. FWA yang menggunakan single-band membutuhkan perangkat yang relatif lebih kecil dibandingkan perangkat seluler.
Berbeda dengan pembangunan menara konvensional, kebutuhan infrastruktur FWA dapat memanfaatkan kapasitas menara yang telah dimiliki TOWR.
Dalam paparan Public Expose, TOWR menjelaskan model bisnis menaranya mencakup built-to-suit dan colocation. Pada model colocation, beberapa tenant dapat menggunakan satu struktur menara, sehingga aset yang sama dapat menghasilkan pendapatan dari lebih dari satu pelanggan.
Surge misalnya, bisa memanfaatkan ketinggian tertentu yang selama ini relatif belum digunakan oleh operator seluler. "Jadi bagaimana mereka pasang itu relatif lebih kecil dibanding seluler, sehingga itu juga membuat kita tidak perlu melakukan perkuatan menara-menara kita," ujar dia dalam konferensi pers Pubex Live 2026, Selasa (8/9).
Lebih dari itu, ekspansi FWA berpotensi memberikan bisnis ganda bagi TOWR. Pasalnya, jaringan FWA yang digunakan kedua operator tersebut membutuhkan fiber optik sebagai backbone, transmisi, dan backhaul.
"Ini menjadi kelebihan kami juga, karena kami memiliki tower dan memiliki fiber," Indra menambahkan.
Hal tersebut sejalan dengan strategi TOWR yang semakin mengandalkan ekosistem infrastruktur terintegrasi. Perusahaan menyebut jaringan fiber optiknya dapat digunakan secara bersamaan untuk layanan Fiber-to-the-Tower (FTTT), Fiber-to-the-Home (FTTH), dan solusi konektivitas.
FTTT adalah arsitektur jaringan di mana menara BTS dihubungkan menggunakan kabel serat optik (fiber optic) sebagai jalur transmisi utama. Sedangkan FTTH ialah teknologi jaringan telekomunikasi yang menggunakan kabel serat optik untuk mengalirkan data langsung dari penyedia layanan ke rumah atau bangunan pelanggan.
Per semester I 2026, TOWR memiliki sekitar 36.892 menara dengan 61.038 tenant dan rasio tenancy 1,65 kali. Sekitar 67% menara tersebut telah terhubung dengan jaringan fiber.
Dengan basis aset tersebut, FWA menjadi peluang untuk meningkatkan utilisasi infrastruktur yang sudah dimiliki TOWR. Perseroan menempatkan konsep multi-use infrastructure sebagai salah satu keunggulan bisnisnya, yakni menggunakan aset tower dan fiber untuk menghasilkan berbagai sumber pendapatan.
Sementara total jaringan fiber mencapai 182.559 kilometer, naik 6,8% secara tahunan. Jaringan tersebut diperkuat hampir 800 Point of Presence (PoP) serta kabel bawah laut yang menghubungkan berbagai pulau di Indonesia.
Dalam paparannya, TOWR menjelaskan strategi multi-use fiber cable. Satu kabel fiber dapat memiliki 12 hingga 48 core atau lebih dan digunakan untuk beberapa kanal pendapatan, termasuk FTTT, FTTH, dan connectivity solution.
“TOWR berada pada posisi strategis untuk menangkap peluang pertumbuhan dari pengembangan FWA serta pemanfaatan spektrum baru oleh operator telekomunikasi,” ujar kata Director and Group Investor Relations TOWR Hartono Tanuwidjaja.
Kebutuhan Infrastruktur Telekomunikasi Masih Besar
TOWR menilai ruang pertumbuhan industri telekomunikasi Indonesia masih besar. Salah satu indikator yang disampaikan Direktur TOWR Indra Gunawan yakni posisi kualitas konektivitas Indonesia yang masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara ASEAN.
"Mobile broadband speed kita masih nomor delapan dari 10 negara, konteksnya fixed broadband masih nomor sembilan dari 10 negara. Artinya masih ada begitu banyak ruang untuk melakukan improvement," kata Indra.
TOWR memperkirakan Indonesia masih membutuhkan sekitar 67 ribu menara tambahan apabila ingin mencapai rasio jumlah penduduk terhadap menara seperti Vietnam atau Thailand. Jika mengejar rasio seperti Malaysia, kebutuhan tambahan menara diperkirakan mencapai sekitar 240 ribu tower.
Dalam paparan perusahaan, kualitas internet Indonesia dan pengembangan teknologi baru juga dicantumkan sebagai peluang pertumbuhan. TOWR turut memasukkan spektrum baru 1,4 GHz, 700 MHz dan 2,6 GHz, digital infrastructure master plan serta regulasi baru seperti neutral host dalam daftar peluang perusahaan.
Bisnis Non-Tower Mulai Jadi Mesin Pertumbuhan TOWR
Peluang FWA hadir ketika bisnis TOWR semakin terdiversifikasi. Dikutip dari public expose, pada semester I, perseroan mencatat pendapatan Rp 7,2 triliun, tumbuh 12,7% secara tahunan atau year on year (yoy). Laba bersih yang diatribusikan kepada entitas induk mencapai Rp 1,86 triliun, naik 12,4%.
Paparan perusahaan menunjukkan bisnis non-tower semakin berperan dalam pertumbuhan. Pendapatan segmen connectivity tumbuh 33,8%, didorong peningkatan kebutuhan bandwidth dari pelanggan enterprise. Sementara itu, pendapatan FTTT tumbuh 3% dan FTTH 2%.
Dari sisi operasional, jumlah aktivasi solusi connectivity mencapai 28.153, naik dari 18.906 pada semester I 2025. Jumlah pelanggan enterprise juga meningkat 21,1% menjadi 8.878 pelanggan.
Di bisnis FTTH, jumlah home paid mencapai 376.461 pelanggan, dengan tingkat penetrasi sekitar 20%, dibandingkan 12% pada semester I 2025.
TOWR Punya Kontrak Rp 100 Triliun hingga 2045
Peluang ekspansi tersebut juga ditopang visibilitas pendapatan jangka panjang TOWR. Perseroan mencatat contracted revenue sekitar Rp 100,1 triliun pada semester I 2026, dengan kontrak yang membentang hingga 2045.
Sekitar 74% contracted revenue berasal dari segmen tower, sedangkan Rp 26 triliun berasal dari bisnis non-tower.
Dikutip dari siaran pers, TOWR menyebut nilai kontrak jangka panjang tersebut setara sekitar sembilan kali pendapatan perseroan pada 2025. Model bisnis dengan kontrak sewa jangka panjang yang bersifat non-cancellable juga disebut mendukung arus kas yang dapat diprediksi.
Dengan demikian, FWA menjadi salah satu peluang baru bagi TOWR untuk meningkatkan utilisasi aset tower dan fiber, di tengah strategi perseroan mengembangkan platform infrastruktur digital yang tidak lagi hanya bertumpu pada bisnis menara.