TOWR Kantongi Kontrak Rp 100 Triliun, Bidik Peluang dari FWA dan Spektrum Baru
PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) mengantongi pendapatan kontraktual jangka panjang lebih dari Rp 100 triliun hingga 2045. Kontrak ini menjadi salah satu penopang visibilitas pendapatan perseroan sekaligus memberikan ruang bagi TOWR untuk menangkap peluang pertumbuhan infrastruktur telekomunikasi, termasuk dari pengembangan Fixed Wireless Access (FWA) dan pemanfaatan spektrum baru.
FWA adalah teknologi akses internet broadband nirkabel tetap, yang menggunakan sinyal radio atau gelombang seperti 4G LTE atau 5G dari menara pemancar atau Base Transceiver Station (BTS) langsung ke perangkat penerima di rumah atau kantor pelanggan.
Dalam paparan Public Expose, TOWR mencatat contracted revenue Rp 100,097 triliun per semester I 2026. Nilai ini hampir dua kali lipat dibandingkan Rp 52,238 triliun sepanjang 2020.
Kontrak yang telah ada mencakup pendapatan hingga 2045.
TOWR menyebut nilai contracted revenue tersebut setara sekitar sembilan kali pendapatan perseroan pada 2025. Pendapatan kontraktual itu juga sekitar 2,2 kali saldo pinjaman TOWR pada semester I 2026.
Sekitar 74% dari contracted revenue berasal dari bisnis menara atau tower. Sementara itu, bisnis non-tower menyumbang sekitar Rp 26 triliun, yang menurut paparan perusahaan menunjukkan kontribusi bisnis di luar menara sebagai mesin pertumbuhan tambahan.
Kontrak Rp 100 Triliun Jadi Bantalan Ekspansi TOWR
Dikutip dari siaran pers, TOWR mengatakan kemampuan menangkap peluang pertumbuhan didukung oleh kemampuan perseroan membiayai ekspansi infrastruktur, dengan neraca, profitabilitas, dan arus kas yang sehat.
Peluang tersebut terutama berasal dari pengembangan FWA dan pemanfaatan spektrum baru oleh operator telekomunikasi. Kedua perkembangan itu diperkirakan meningkatkan kebutuhan terhadap menara dan jaringan kabel optik, yang merupakan dua bisnis utama TOWR.
Direktur TOWR Indra Gunawan mengatakan ruang pertumbuhan industri telekomunikasi Indonesia masih besar. Salah satu indikatornya adalah kualitas konektivitas Indonesia yang masih tertinggal dibandingkan negara ASEAN lainnya.
"Mobile broadband speed kita masih nomor delapan dari 10 negara, konteksnya fixed broadband masih nomor sembilan dari 10 negara. Artinya masih ada begitu banyak ruang untuk melakukan improvement," kata Indra dalam konferensi pers Pubex Live 2026, Selasa (8/9).
TOWR memperkirakan kebutuhan pembangunan infrastruktur masih besar. Jika Indonesia mengejar rasio jumlah penduduk terhadap menara seperti Vietnam atau Thailand, kebutuhan tambahan diperkirakan sekitar 67 ribu menara.
Jika mengejar rasio seperti Malaysia, kebutuhan tambahan menara diperkirakan mencapai sekitar 240 ribu tower.
Dalam paparan perusahaan, kualitas internet Indonesia dan pengembangan teknologi baru juga dicantumkan sebagai peluang pertumbuhan. TOWR turut memasukkan spektrum baru 1,4 GHz, 700 MHz dan 2,6 GHz, digital infrastructure master plan serta regulasi baru seperti neutral host dalam daftar peluang perusahaan.
FWA Buka Peluang Bisnis Baru
Salah satu peluang yang mulai dikonversi menjadi bisnis oleh TOWR yakni FWA. Perseroan menyatakan pengembangan FWA dapat mendorong kebutuhan terhadap menara dan jaringan fiber optik.
TOWR menyebut telah menerima sekitar 2.000 order pembangunan menara untuk ekspansi FWA dari Surge dan MyRepublic. Menurut Indra, karakteristik infrastruktur FWA juga memberikan keuntungan bagi perusahaan menara.
FWA yang menggunakan single-band membutuhkan perangkat yang relatif lebih kecil dibandingkan perangkat seluler. Surge juga memanfaatkan ketinggian tertentu yang selama ini relatif belum digunakan operator seluler sehingga TOWR tidak perlu melakukan perkuatan pada menara-menara tertentu.
Peluang FWA juga tidak hanya berasal dari bisnis tower. Jaringan FWA membutuhkan fiber optik sebagai backbone, transmisi, dan backhaul. Kondisi tersebut menjadi keuntungan bagi TOWR karena perseroan memiliki bisnis menara sekaligus fiber.
Aset Tower dan Fiber Jadi Modal TOWR
Per semester I 2026, TOWR memiliki sekitar 36.892 menara dengan 61.038 tenant dan tenancy ratio 1,65 kali. Sekitar 67% menara telah terhubung dengan jaringan fiber.
Di sisi fiber, TOWR memiliki jaringan sekitar 182.600 kilometer, didukung hampir 800 Point of Presence serta kabel bawah laut yang menghubungkan berbagai pulau di Indonesia. Jaringan tersebut menjadi backbone bagi bisnis Fiber-to-the-Tower (FTTT), Fiber-to-the-Home (FTTH), dan connectivity.
FTTT adalah arsitektur jaringan di mana menara BTS dihubungkan menggunakan kabel serat optik (fiber optic) sebagai jalur transmisi utama. Sedangkan FTTH ialah teknologi jaringan telekomunikasi yang menggunakan kabel serat optik untuk mengalirkan data langsung dari penyedia layanan ke rumah atau bangunan pelanggan.
Paparan TOWR juga menunjukkan strategi penggunaan satu jaringan fiber untuk beberapa sumber pendapatan. Satu kabel fiber dapat memiliki 12 hingga 48 core atau lebih, sehingga kapasitas yang belum digunakan dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan bisnis lain.
Selain itu, bisnis non-tower semakin menjadi pendorong pertumbuhan. Perseroan mencatat pendapatan operasional konsolidasi Rp 7,2 triliun, tumbuh 12,7% secara tahunan. EBITDA mencapai Rp 5,58 triliun, naik 4,8%, sedangkan laba bersih yang diatribusikan kepada entitas induk mencapai Rp1,86 triliun, tumbuh 12,4%.
Dari bisnis non-tower, pendapatan segmen connectivity tercatat tumbuh 33,8%, terutama didukung peningkatan kebutuhan bandwidth pelanggan enterprise. Jumlah aktivasi connectivity mencapai 28.153, naik dibandingkan 18.906 pada semester I 2025. Pelanggan enterprise juga meningkat 21,1% menjadi 8.878.
Dengan contracted revenue sekitar Rp 100 triliun hingga 2045, TOWR memiliki visibilitas pendapatan jangka panjang di tengah upaya menangkap peluang baru dari FWA, spektrum baru, serta pertumbuhan bisnis non-tower.