Telkom, XLSmart dan Indosat Berebut Bisnis Kabel Laut di Era AI
Persaingan perusahaan telekomunikasi di Indonesia tidak lagi hanya berlangsung dalam perebutan pelanggan seluler dan jaringan 5G. Infrastruktur kabel laut kini menjadi salah satu medan bisnis yang semakin strategis, seiring meningkatnya kebutuhan konektivitas untuk pusat data, cloud computing, kecerdasan buatan (AI), dan layanan digital lintas negara.
Grup Telkom, XLSmart, dan Indosat Ooredoo Hutchison mengambil pendekatan berbeda dalam memperkuat posisi di bisnis infrastruktur digital tersebut. TelkomGroup melalui anak usahanya, PT Telekomunikasi Indonesia International (Telin), telah membangun portofolio kabel laut yang menjangkau berbagai kawasan global, termasuk Amerika Serikat dan Eropa.
Sementara itu, XLSmart baru memperkuat ekspansinya di koridor Asia melalui CANDLE Cable System sepanjang sekitar delapan ribu kilometer yang menghubungkan Indonesia dengan Singapura, Malaysia, Filipina, Taiwan hingga Jepang.
Indosat mengambil pendekatan berbeda dengan mengembangkan bisnis infrastruktur melalui PT Infra Fiber Teknologi (IFT) yang kini mengoperasikan platform RAIA Grid dengan model open access.
Telkom Bidik Jalur Global
Grup Telkom memiliki salah satu portofolio kabel laut paling luas di antara operator telekomunikasi Indonesia. Telin mengoperasikan berbagai sistem kabel laut yang menghubungkan Indonesia dengan jaringan internasional.
Telkom sebelumnya menyebut melalui Telin memiliki sistem komunikasi kabel laut sepanjang sekitar 222.260 kilometer yang menghubungkan infrastruktur domestik dengan berbagai negara, termasuk Eropa dan Amerika Serikat.
Portofolio tersebut terus diperkuat melalui pembangunan kabel baru. Salah satunya Bifrost Cable System, kabel laut sepanjang lebih dari 15 ribu kilometer yang dikembangkan Telin bersama Meta dan Keppel.
Bifrost dirancang menghubungkan Singapura, Indonesia, Filipina, Guam hingga pantai barat Amerika Utara. Telkom menyebut Bifrost bukan hanya memberikan akses landing bagi Indonesia, tetapi Telin juga menjadi investor dan memiliki hak suara dalam konsorsium tersebut.
“TelkomGroup melalui Telin berinvestasi dan menjadi anggota konsorsium kabel laut Bifrost bersama Facebook dan Keppel,” kata Telkom dalam pengumuman pembangunan Bifrost pada 2021, dikutip dari situs resmi Telkom.
Bifrost menjadi salah satu jalur yang memperkuat konektivitas langsung Indonesia dengan Amerika Serikat sekaligus mendukung pengembangan Manado sebagai international gateway kedua TelkomGroup.
Selain Amerika Serikat, Telkom memperkuat konektivitas menuju Eropa melalui keterlibatannya dalam konsorsium Southeast Asia-Middle East-Western Europe 6 atau SEA-ME-WE 6. Kabel SEA-ME-WE 6 memiliki panjang sekitar 19.200 kilometer dan menghubungkan sejumlah negara di Asia Tenggara, Timur Tengah hingga Eropa.
Telkom menyebut SEA-ME-WE 6 memiliki kapasitas lebih dari 100 terabit per detik dan dirancang untuk memberikan tambahan diversifikasi serta ketahanan konektivitas antara Asia dan Eropa.
Perusahaan juga mengembangkan Indonesia Cable Express (ICE), yang dirancang untuk menghubungkan sejumlah pusat data dengan koneksi langsung dan latensi rendah. Dengan portofolio ini, strategi TelkomGroup mengarah pada pembangunan jaringan internasional yang tidak hanya menghubungkan Indonesia dengan negara tetangga, tetapi juga dengan pusat-pusat ekonomi dan teknologi global.
XLSmart Perkuat Koridor Asia
Langkah baru datang dari XLSMART melalui pembangunan CANDLE Cable System. Sistem komunikasi kabel laut tersebut memiliki panjang sekitar delapan ribu kilometer dan akan menghubungkan Indonesia dengan Singapura, Malaysia, Filipina, Taiwan hingga Jepang.
Proyek ini mulai dikembangkan sejak Desember 2024 dan ditargetkan mulai beroperasi pada 2028. Salah satu tahap penting pembangunan CANDLE ditandai dengan pendaratan Golden Buoy di Tanjung Bemban, Batam, pada 11 September 2026.
Direktur and Chief Enterprise Business Officer XLSMART Andrijanto Muljono mengatakan pembangunan CANDLE merupakan investasi strategis perusahaan. Khususnya untuk mengantisipasi kebutuhan konektivitas dalam jangka panjang.
“CANDLE merupakan investasi strategis untuk mempersiapkan kebutuhan konektivitas Indonesia dalam jangka panjang. Pertumbuhan ekonomi digital membutuhkan kapasitas yang semakin besar dan akses yang semakin luas ke jaringan global,” kata Andrijanto dalam pernyataan tertulisnya, dikutip Senin (14/9).
CANDLE dikembangkan melalui kolaborasi XLSMART dengan sejumlah perusahaan global, yakni Meta, Globe Telecom, IPS Inc, Telekom Malaysia dan SoftBank Japan. NEC ditunjuk sebagai mitra teknologi.
Berbeda dari Bifrost yang mengarah ke Amerika Utara dan SEA-ME-WE 6 yang menghubungkan Asia dengan Eropa, CANDLE memperkuat jalur Indonesia menuju sejumlah pusat konektivitas dan ekonomi digital di Asia.
XLSMART juga menempatkan Batam sebagai titik strategis dalam jaringan tersebut. Selain menjadi salah satu landing point CANDLE, Batam berkembang sebagai lokasi data center dan hub bagi perusahaan teknologi serta telekomunikasi.
Menurut XLSMART, CANDLE nantinya dapat menghubungkan data center di Batam dengan negara-negara di sepanjang rute kabel. Infrastruktur tersebut ditujukan untuk mendukung kebutuhan pelanggan enterprise terhadap konektivitas berkapasitas tinggi, andal dan scalable.
“Bagi pelanggan enterprise, CANDLE memberikan pilihan konektivitas internasional yang lebih luas, berkapasitas tinggi, reliable, dan scalable. Kapabilitas tersebut penting untuk menjawab kebutuhan perusahaan yang terus berkembang seiring semakin besarnya penggunaan data dan layanan digital,” ujar Andrijanto.
Kebutuhan tersebut semakin relevan dengan pertumbuhan cloud, AI dan data center yang membutuhkan pertukaran data dalam jumlah besar serta koneksi dengan latensi rendah.
Sebelum pembangunan CANDLE, XL Axiata juga telah memiliki hubungan dengan Australia-Singapore Cable Opco Pty Ltd (ASC). Dalam laporan keuangan XL Axiata 2024, perseroan mencatat Master Service Agreement dengan ASC untuk penyediaan layanan transmisi melalui sistem komunikasi kabel laut, termasuk sirkuit Jakarta-Singapura dan Jakarta-Perth.
Indosat Pilih Model Infrastruktur Terbuka
Sementara TelkomGroup dan XLSmart aktif mengembangkan konektivitas kabel laut internasional, Indosat memiliki strategi berbeda. Indosat bersama Telin sebelumnya menjalin kemitraan untuk mengembangkan Indonesia Cable Express System 2 atau ICE System 2.
Dalam kesepakatan tersebut, ICE System 2 dirancang menghubungkan sejumlah landing point di Indonesia, termasuk Jakarta, Surabaya, Balikpapan, Makassar dan Manado, sekaligus menyediakan jalur penting menuju Singapura.
Melalui kerja sama tersebut, jaringan PoP milik Indosat dan Telin juga akan dihubungkan dengan ICE System 2.
CEO Telin Budi Satria Dharma Purba mengatakan kolaborasi dengan Indosat melalui ICE System 2 ditujukan untuk menciptakan jaringan telekomunikasi yang kuat sekaligus mendukung ekonomi digital Indonesia.
“Kolaborasi kami dengan IOH pada ICE System 2 akan menciptakan jaringan telekomunikasi yang kuat dan akan mendukung ekonomi digital Indonesia,” kata Budi dalam pernyataan tertulis dikutip dari situs Telkom.
Namun, perkembangan terbaru Indosat menunjukkan strategi yang lebih luas dari sekadar membangun jaringan. Pada Agustus 2026, PT Infra Fiber Teknologi (IFT), perusahaan infrastruktur digital yang dibentuk melalui kolaborasi Arsari Group dan Indosat, meluncurkan RAIA Grid.
RAIA Grid memiliki jejak fiber sekitar 86 ribu kilometer dan dikembangkan sebagai infrastruktur digital dengan model open access. Infrastruktur tersebut mencakup konektivitas 5G, fiber-to-the-home (FTTH), hingga koneksi data center-to-data center. RAIA Grid menyasar operator telekomunikasi, data center, cloud provider, hyperscaler dan pelanggan enterprise.
Founder dan Chairman Arsari Group Hashim Djojohadikusumo mengatakan pembangunan RAIA Grid merupakan bagian dari komitmen jangka panjang untuk memperkuat kapabilitas digital Indonesia. “Apa yang kita bangun hari ini akan membentuk apa yang dapat dicapai Indonesia di masa depan,” kata Hashim dikutip dari situs Arsari Group pada 26 Agustus 2026.
Sementara itu, President Director dan CEO Indosat Ooredoo Hutchison Vikram Sinha mengatakan peluang yang dibangun RAIA Grid tidak hanya sebatas konektivitas.
“Peluang di masa depan jauh lebih besar daripada sekadar konektivitas. RAIA Grid sedang membangun jalur utama yang menghubungkan pusat data, platform cloud, dunia bisnis, dan infrastruktur AI,” ujar Vikram.