Investor AI Bidik RI, Danantara Soroti Isu Lingkungan Bisa Bikin Proyek Disetop
Indonesia disebut menjadi salah satu pasar yang dilirik investor untuk pengembangan infrastruktur akal imitasi (AI), termasuk pusat data atau data center. Namun, investasi di sektor ini perlu mempertimbangkan dampak lingkungan dan sosial agar pembangunan tidak terhambat setelah proyek berjalan.
Chief Investment Officer Danantara Pandu Sjahrir mengatakan, Indonesia perlu memikirkan manfaat infrastruktur digital secara lebih luas, bukan sekadar menghitung potensi keuntungan investasi. Pembangunan data center misalnya, perlu mempertimbangkan risiko lingkungan dan masyarakat, karena dapat memicu penolakan publik, bahkan ketika proyek sudah dibangun.
“Jadi itu bukan 'oh, saya membangun data center itu adalah (karena) Internal Rate of Return atau IRR'. Sebab itu biasanya, apa yang orang-orang lakukan di ruangan ini. Tetapi kita harus berpikir mengenai risiko penting yang terjadi di sisi lingkungan dan masyarakat,” kata Pandu dalam acara DBS Asia Future Forward 2026
Ia mencontohkan, proyek data center dapat menghadapi persoalan apabila Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) tidak berhasil atau masyarakat mengajukan protes setelah pembangunan berlangsung selama setahun.
"Kita bisa membuat data center, tetapi tiba-tiba penilaian lingkungan tidak berhasil atau tiba-tiba seseorang protes setelah setahun kita membangunnya. Ini pertanyaan yang harus kami jawab," Pandu menambahkan.
Pandu menilai, risiko tersebut perlu diperhitungkan sejak awal. Indonesia juga perlu memikirkan industri baru yang bisa dikembangkan dari pembangunan infrastruktur digital, sebagaimana hilirisasi nikel yang mendorong pengembangan bisnis baterai dan kendaraan listrik.
Menurut dia, pendekatan tersebut penting agar Indonesia tidak hanya menjadi lokasi pembangunan infrastruktur AI, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi yang lebih luas.
Proyek Data Center BDx di Jatiluhur Disetop Sementara
Persoalan lingkungan dan perizinan menjadi sorotan dalam pembangunan data center AI milik BDx Data Centers di Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa Kang Dedi Mulyadi (KDM), menghentikan sementara pembangunan pusat data berbasis akal imitasi (AI) milik BDx Data Centers di kawasan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Penghentian proyek senilai Rp 3,5 triliun itu dilakukan karena dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) belum terbit.
Selain persoalan perizinan, konsumsi air untuk operasional pusat data tersebut menjadi sorotan. Data teknis mencatat kebutuhan air data center BDx diproyeksikan mencapai 384 liter per detik atau setara 33.000 meter kubik per hari ketika beroperasi pada kapasitas penuh.
Dedi Mulyadi mengatakan penghentian sementara proyek data center di Jatiluhur itu bukan disebabkan hambatan birokrasi pemerintah daerah, melainkan keterlambatan konsultan dalam menyerahkan data perizinan.
"Ketika saya tanya kemarin, Izin Mendirikan Bangunan (IMB) belum keluar. Amdalnya sudah keluar belum? Belum. Ya saya bilang jangan dulu dilaksanakan (pembangunan). Kan izinnya tidak keluar. Kesalahannya di mana? Di Pemda Purwakarta? Bukan. Kesalahannya adalah konsultannya, sampai ketika saya datang belum memasukkan data," kata KDM dikutip dari Antara, beberapa waktu lalu.
Dedi Mulyadi melakukan inspeksi mendadak ke lokasi pembangunan pada Senin (28/9). Ia menegaskan konstruksi harus dihentikan sementara hingga seluruh persyaratan perizinan dipenuhi.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Barat Mas Adi Komar mengonfirmasi bahwa Amdal dan PBG proyek tersebut masih dalam proses. Informasi itu diperoleh dari Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Purwakarta yang melakukan klarifikasi di lapangan.
"Proses perizinan yang dikeluarkan oleh Purwakarta, disampaikan oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Purwakarta bahwa perizinannya, AMDAL dan PBG-nya, masih dalam proses. Kang Dedi Mulyadi melihat langsung ke lapangan dan menghentikan sementara pengerjaan proyeknya sampai dengan izinnya dikeluarkan," kata Adi Komar.
Dengan demikian, pengembangan data center dan infrastruktur AI perlu dilihat tidak hanya dari sisi investasi, tetapi juga dari potensi penciptaan industri baru serta dampaknya terhadap masyarakat dan lingkungan.