ESDM: Potensi Penyimpanan Karbon di Saline Aquifer 572 Gigaton

IESR
Carbon Capture Storage atau CCS
Penulis: Rena Laila Wuri
20/2/2024, 17.04 WIB

Indonesia memiliki potensi penyimpanan karbon atau carbon storage lebih dari 500 Gigaton. Menurut perhitungan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Lembaga Minyak dan Gas Bumi (Lemigas), Indonesia memiliki kapasitas penyimpanan karbon sebesar 572,77 Gigaton di dalam lapisan saline aquifer dan 4,85 Gigaton di depleted reservoir.

“Perhitungan ini dilakukan internal oleh kepala balai Lemigas dan di bawah Direktorat Jenderal Minyak dan Gas (Ditjen Migas) Kementerian ESDM,” kata Dirjen Migas Tutuka Ariadji saat acara Penutupan Bulan K3 Nasional di Kantor Lemigas, Jakarta, Selasa (20/2).

Tutuka mengatakan perhitungan potensi baik pada saline aquifer ataupun depleted oil and gas reservoir dilakukan di 20 cekungan. Cekungan North East Java memiliki potensi paling besar di mana kapasitas penyimpanan karbon mencapai 100,83 Gigaton di dalam saline aquifer dan 0,151 Gigaton di depleted reservoir.

Kemudian, Cekungan Tarakan memiliki potensi sebesar 91,92 Gigaton di dalam saline aquifer dan 0,015 Gigaton di depleted reservoir. Cekungan North Sumatera memiliki potensi sebesar 53,34 Gigaton di dalam saline aquifer dan 1,07 Gigaton  di depleted reservoir.

Selanjutnya, Cekungan Makassar Strait memiliki potensi 50,70 Gigaton di dalam saline aquifer dan 0,059 Gigaton di depleted reservoir. Sedangkan cekungan Bawean memiliki potensi paling kecil sebesar 1,16 Gigaton di dalam saline aquifer.

Tutuka mengatakan potensi penyimpanan karbon ini memperbarui data dari Lemigas pada 2015 yang hanya menghitung saline aquifer yang ada di Sumatra dan Jawa.

“Kita mempunyai angka pegangan dan sudah dikonsultasikan juga ke lembaga internasional seperti Equinor, BP, Chevron, dan lembaga yang lain,” katanya. Dengan potensi sebesar 572,77 Gigaton di saline aquifer, industri akan mengambil 10% dari total kapasitas tersebut pada tahap awal.

Indonesia Incar Posisi sebagai Hub CCS

Deputi Bidang Kedaulatan Maritim dan Energi Kemenko Marves Jodi Mahardi mengungkapkan, Indonesia menempati posisi terdepan dalam era industri hijau dengan potensi kapasitas penyimpanan CO2 mencapai 400 hingga 600 Gigaton di depleted reservoir dan saline aquifer.

Potensi ini memungkinkan penyimpanan emisi CO2 nasional selama 322 hingga 482 tahun, dengan puncak emisi diperkirakan mencapai 1,2 gigaton CO2-ekuivalen pada 2030.

"Indonesia berambisi mengembangkan teknologi CCS dan menjadi hub CCS untuk mencapai target net zero emission pada tahun 2060. Inisiatif ini tidak hanya akan menampung emisi CO2 domestik, tetapi juga mempromosikan kerja sama internasional," kata Jodi pada Desember lalu.

Jodi mengatakan, hub CCS akan menjadi tonggak sejarah baru bagi Indonesia karena CCS diakui sebagai license to invest (izin untuk berinvestasi), khususnya untuk industri rendah karbon, seperti blue ammonia, blue hydrogen, dan advanced petrochemical.

Pendekatan ini diharapkan dapat membawa terobosan bagi perekonomian Indonesia dengan membuka peluang untuk industri baru dan menciptakan pasar global untuk produk-produk rendah karbon.

Menurut Jodi, dengan negara-negara tetangga, seperti Malaysia, Timor Leste, dan Australia juga bersaing untuk menjadi pusat CCS regional, Indonesia harus memanfaatkan kesempatan ini sebagai pusat strategis dan geopolitik.

“Inisiatif ini diharapkan tidak hanya mendukung Indonesia dalam mencapai tujuan lingkungan global, tetapi juga merangsang pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inovatif," ujar dia.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Rena Laila Wuri