Kitadin Sulap Area Bekas Tambang Batu Bara Jadi Lahan Pertanian

Katadata/Ajeng Dwita Ayuningtyas
PT Kitadin mengubah lahan bekas tambang batu bara seluas 174 hektare di Kalimantan Timur menjadi sawah dan perkebunan jagung.
23/9/2025, 17.37 WIB

PT Kitadin mengubah lahan bekas tambang batu bara seluas 174 hektare di Kalimantan Timur menjadi sawah dan perkebunan jagung. Butuh waktu sekitar tiga tahun untuk membuat lahan tersebut siap ditanami. 

“Soal tambang ini merusak lingkungan, ya kita fair saja. Tapi yang ingin saya patahkan, lahan tambang membutuhkan 100 tahun untuk pulih. Ini masih ada rumput bisa tumbuh, artinya masih ada kehidupan,” kata Penyuluh Pertanian Treisjane Leleng, saat ditemui di lokasi pasca tambang PT Kitadin, di Embalut, Kalimantan Timur, Selasa (23/9). 

Lahan pertanian ini merupakan bagian dari program pasca tambang PT Kitadin site Embalut, setelah operasi tambang batu baranya selesai pada 2022 lalu. Lahan seluas 74 hektare diubah menjadi sawah dan 100 hektare lainnya menjadi perkebunan jagung.

Saat ini, satu hektare sawah rata-rata dapat menghasilkan 4,8 ton gabah kering giling per musim. Hasil produksi paling besar, tercatat mencapai 7 ton per hektare. 

Salah seorang petani, Yasim, menjelaskan hasil panen ini dua kali lebih besar dibandingkan yang dihasilkannya saat menggarap sawah bukan bekas tambang. Ia sudah menggarap sawah di lokasi ini selama tiga musim atau sekitar 1,5 tahun.

“Kualitas lebih bagus ini, bersih di sini padinya,” ujar Yasim, ketika ditemui di lokasi yang sama. 

Dengan kualitas berdaya saing, hasil produksinya sudah habis dijual ke tengkulak lokal, bahkan sebelum dipasarkan ke luar Kalimantan Timur. Harga gabah hasil panen mereka dijual di rentang Rp7.700 - Rp8.500 per kilogram. Hal ini dinilai sangat membantu petani. 

Pertanian terpadu ini setidaknya telah membantu meningkatkan perekonomian 126 petani padi penggarap lahan bekas tambang. 

“Resep” Subur Lahan Bekas Tambang

Leleng menjelaskan, sebelum ditanami padi, lahan perlu dinetralkan dari asam. Tanah di Kalimantan Timur, rata-rata memiliki kadar keasaman (pH) 4, sedangkan padi optimal tumbuh di tanah dengan kadar pH 5 atau 5,5.

“(Sebelum ditanami), lahan diberi pupuk organik dan kapur. Sebab, kapur itu bisa menetralkan asam,” ujar Leleng. 

Pemberian pupuk organik di lahan bekas tambang juga sangat dibutuhkan, karena sebelumnya tanah itu merupakan tanah yang “sakit”. Pemupukan dapat membantu meningkatkan kesuburan tanah. Namun pada tahap-tahap berikutmya, pengolahan tanah bisa ditunjang dengan pupuk kimia. 

Selain itu, obat tikus rutin diberikan sebelum dan ketika lahan tersebut ditanami. Tujuannya untuk membebaskan lahan dari hama.

Di samping treatment untuk tanah, Leleng menilai ketekunan petani adalah kunci. Jika petani lalai, misalnya dalam pemberian pupuk maupun perawatan lainnya, hasil yang didapat tidak akan optimal. 

Butuh Upaya Lebih untuk Perkebunan Jagung

Perkebunan jagung yang membutuhkan tanah lebih kering, masih harus menghadapi tantangan di lokasi ini. Hasil panen di musim pertama baru mencapai 900 kg per setengah hektare. 

“Tanah harus kering. Tanahnya juga enggak rata, padahal kita kan butuhnya yang rata,” kata seorang petani jagung, Dayu. 

Menurut Dayu, perlu teknik gulud atau pembuatan aliran air untuk membuat lahannya lebih kering dan siap ditanami. Dengan begitu, hasil panen diperkirakan lebih banyak. Teknik tersebut tengah diterapkan pada musim kedua ini. 

Untuk lahan jagung, saat ini baru memasuki musim tanam kedua. Beberapa upaya masih terus dicoba untuk menghasilkan produksi optimal. 

Reklamasi Area Tambang

Kepala Teknik Tambang PT Kitadin site Embalut, Bonifasius T. Tipa, menjelaskan pertanian terpadu merupakan bagian dari program pasca tambang perusahaan. Setelah melakukan public hearing, reklamasi berupa pertanian ini, salah satu yang dibutuhkan masyarakat. 

Perusahaan memberikan seluruh modal dan fasilitas untuk tiga kali tanam atau tiga kali musim. Proses berikutnya dilakukan secara mandiri oleh para petani yang berasal dari empat desa di sekitar lokasi tambang. Hasil pertanian juga sepenuhnya untuk petani penggarap.

Pengairan sawah berasal dari kolam yang terbentuk dari proses penambangan. Setelah dipasangi pintu air, aliran air dapat disalurkan pada lahan pertanian sekitarnya. Kolam-kolam ini sekaligus berperan mencegah banjir menggenangi desa-desa di sekitarnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas