Prancis Dukung Bank Dunia Alokasikan 45% Pinjaman untuk Target Iklim
Prancis akan terus menekan Bank Dunia untuk mempertahankan agenda pembiayaan iklimnya meskipun pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menekan lembaga pemberi pinjaman global itu.
Hal ini diungkapkan Menteri Pembangunan Prancis yang baru, Eleonore Caroit, pada Jumat (17/10).
"Upaya untuk mengatasi perubahan iklim juga akan sangat menonjol dalam presidensi Prancis di kelompok negara demokrasi industri G7 pada tahun 2026," kata Caroit kepada wartawan di sela-sela pertemuan tahunan Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF), di Washington DC, AS, seperti dikutip Reuters.
Caroit diangkat menjadi anggota kabinet Perdana Menteri Prancis yang baru diangkat kembali, Sebastien Lecornu, pada Minggu (12/10). Ia menjabat sebagai menteri muda untuk Francophonie, kemitraan internasional, dan warga negara Prancis di luar negeri. Caroit langsung bergegas ke Washington untuk pertemuan tahunan Bank Dunia dan IMF.
Prancis Ingin Bank Dunia Pertahankan Target Sesuai Perjanjian Paris
Caroit mengatakan dia bertemu dengan Menteri Keuangan AS Scott Bessent untuk membahas seruan AS agar Bank Dunia meninggalkan target yang ditetapkan di bawah pemerintahan Biden untuk meningkatkan pembiayaan terkait iklim menjadi 45% dari total pinjamannya. Sebelumnya, Bank Dunia mengalokasikan 35% dari total pinjamannya untuk pembiayaan iklim.
"Jadi, kami jelas terus mendukung target 45%," kata Caroit. Ia menambahkan, Prancis ingin mempertahankan target yang sesuai dengan perjanjian iklim Paris yang ditinggalkan Trump untuk kedua kalinya pada bulan Januari lalu.
"Dan bagi kami, iklim adalah yang paling penting karena kami selaras dengan tujuan bank untuk pembangunan dan penciptaan lapangan kerja, tetapi haruslah lapangan kerja di planet yang layak huni. Jika tidak, mengapa repot-repot memikirkan pekerjaan," kata Caroit.
Prancis dan AS Sepakat Energi Nuklir Jadi Sumber Energi Berkelanjutan
Pada 2023, Presiden Bank Dunia Ajay Banga membujuk para pemegang saham bank untuk mengadopsi pernyataan visi baru dengan bahasa yang serupa: "Dunia yang bebas dari kemiskinan di planet yang layak huni" untuk menggabungkan dorongan pembiayaan iklim baru dan neraca yang diperluas.
Bessent mengecam pernyataan itu sebagai "pemasaran yang hambar dan berpusat pada kata kunci." Jumat (17/10) lalu, Bessent menyerukan agar Bank Dunia kembali membiayai proyek batu bara, bersama dengan gas, minyak, dan energi nuklir.
Dalam sebuah pernyataan kepada Komite Pengarah IMF, Bessent mengatakan target 45% "manfaat tambahan" iklim mengalihkan proyek dari prioritas negara dan mendistorsi proyek dari tujuan meningkatkan akses ke energi yang andal.
"Saya pikir yang penting adalah melakukan percakapan terbuka dan melihat di mana letak ketidaksepakatan," kata Caroit.
Caroit merasa didorong oleh keterlibatan Bessent dalam sumber energi. Bessent menyatakan dia terbuka terhadap energi terbarukan jika itu masuk akal secara ekonomi.
Caroit mengatakan AS dan Prancis, yang memiliki lebih dari 50 reaktor nuklir yang menghasilkan lebih dari 70% listrik negara itu, sepakat tentang status tenaga nuklir sebagai sumber energi berkelanjutan.
Menteri yang baru itu juga mengatakan Prancis dan AS dapat menyepakati proyek-proyek adaptasi iklim dan pengembangan ketahanan yang mencegah banjir atau kebakaran hutan. Kesepakatan ini dapat berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan pada akhirnya dapat mengarah pada transisi energi. Proyek-proyek ini termasuk dalam tujuan keuangan iklim Bank Dunia.
"Inilah yang kami sebut iklim dan mereka dapat menyebutnya apa pun yang mereka inginkan," kata Caroit.
Dia mengatakan AS dan Prancis tidak setuju mengenai iklim dan banyak prinsip lainnya, tetapi kedua negara akan berupaya untuk mendapatkan lebih banyak manfaat dari pembangunan di era anggaran fiskal yang ketat, terutama bagi Prancis.
"Kita semua mengakui ada kebutuhan untuk memikirkan kembali seluruh arsitektur dan struktur keuangan jika kita ingin mempertahankan pembangunan yang paling penting dan memiliki dampak yang lebih besar," tutur Caroit.