Dorong Aksi Iklim, Bestari Sustainability Luncurkan Kembali SBTN Asia Tenggara
Bestari Sustainability meluncurkan kembali Science Based Targets Network (SBTN) Southeast Asia Working Group untuk mendorong aksi iklim. Direktur Bestari Sustainability, Tomi Haryadi mengatakan, peluncuran ini dilakukan di tengah meningkatnya urgensi krisis iklim dan kehilangan alam.
“Krisis iklim dan kehilangan keanekaragaman hayati saling berkaitan dan berdampak langsung pada rantai pasok, operasional, hingga keberlanjutan bisnis. Melalui SBTN, kami ingin membantu sektor swasta mengambil langkah yang terukur, kredibel, dan berbasis sains,” ujar Tomi dalam pernyataan resmi, Jumat (31/10).
Peluncuran SBTN Asia Tenggara ini dilakukan bersama Water Stewardship Indonesia (WSI), UN Global Compact Network Indonesia (IGCN), KADIN Net Zero Hub, dan Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) dalam acara “Driving Corporate Net Zero & Nature Positive in Southeast Asia: Navigating Nature Loss through the Science Based Targets Network (SBTN)”.
SBTN merupakan inisiatif yang mengembangkan panduan berbasis sains bagi perusahaan untuk menetapkan iklim, air, lahan, laut, dan keanekaragaman hayati sehingga strategi bisnis mereka benar-benar selaras dengan hasil yang positif bagi alam.
Dibangun dari kerangka Science Based Targets initiative (SBTi) yang berfokus pada pengurangan emisi gas rumah kaca, Science Based Targets Network (SBTN) memperluas pendekatan tersebut dengan menyediakan metodologi terintegrasi untuk membantu bisnis memahami sejauh mana aktivitas mereka berdampak pada alam serta berapa besar aksi yang perlu dilakukan agar selaras dengan target dunia.
“Framework ini juga sekaligus mengisi kesenjangan antara sertifikasi keberlanjutan dan alat asesmen dampak alam yang telah ada, dengan menawarkan pendekatan ilmiah yang membantu perusahaan menjawab pertanyaan penting: Apakah aksi kami sudah cukup untuk menjaga keseimbangan alam?” ucap Tomi.
Sebagai Koordinator Regional SBTN untuk Asia Tenggara, Tomi mengatakan, Bestari Sustainability berperan dalam memfasilitasi kolaborasi lintas sektor dan memperkuat kapasitas perusahaan di kawasan dalam menetapkan dan mengimplementasikan target berbasis sains.
“Transisi menuju ekonomi hijau bukan hanya kewajiban moral, tetapi juga strategi bisnis jangka panjang. Perusahaan yang berinvestasi pada alam akan lebih tangguh menghadapi risiko lingkungan dan tuntutan pasar global,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Inge Retnowati, Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), menyampaikan apresiasinya terhadap inisiatif ini.
“Kami sangat mendukung langkah Bestari dan para mitra untuk membawa dunia usaha bertransformasi menuju nature positive. Pendekatan yang berbasis sains ini menjadi langkah nyata untuk melindungi alam kita dari kerusakan yang lebih besar,” ujarnya.