Paus Leo XIV Desak Aksi Iklim Nyata, Sebut Ciptaan Tuhan sedang Menangis

Vaticannews
Paus Leo XIV mendesak negara-negara di perundingan iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) COP30 untuk mengambil "tindakan nyata" guna menghentikan perubahan iklim yang mengancam planet ini.
Penulis: Hari Widowati
18/11/2025, 10.09 WIB

Paus Leo XIV mendesak negara-negara di perundingan iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) COP30 untuk mengambil "tindakan nyata" guna menghentikan perubahan iklim yang mengancam planet ini. Ia mengatakan bahwa manusia gagal dalam merespons pemanasan global dan ciptaan Tuhan "menangis dalam banjir, kekeringan, badai, dan panas yang tak henti-hentinya."

Dalam pesan video yang diputar untuk para pemimpin agama yang berkumpul di Belem, Paus Leo XIV mengatakan negara-negara telah membuat kemajuan, tetapi belum cukup.

"Satu dari tiga orang hidup dalam kerentanan yang sangat besar akibat perubahan iklim ini. Bagi mereka, perubahan iklim bukanlah ancaman yang jauh, dan mengabaikan orang-orang ini berarti mengingkari kemanusiaan kita bersama," kata Paus Leo XIV, seperti dikutip AP News, Senin (17/11).

Pesan tersebut disampaikan saat perundingan memasuki minggu kedua. Para menteri tingkat tinggi dari berbagai negara di dunia tiba di tepi Sungai Amazon Brasil untuk bergabung dalam negosiasi. Hari Senin (17/11) didominasi oleh pidato-pidato, dengan beberapa pemimpin dari negara-negara belahan bumi Selatan memberikan kesaksian yang mengharukan tentang dampak buruk dari cuaca ekstrem dan bencana alam baru-baru ini.

Desakan dari Negara-negara Rentan

Negara-negara rentan telah mendesak ambisi yang lebih besar dalam perundingan ini. Para pemimpin dunia pun mulai mengakui bahwa Bumi hampir pasti akan melampaui batas yang diharapkan 1,5 derajat Celsius dalam pemanasan Bumi sejak masa pra-industri. Target tersebut ditetapkan dalam perundingan ini pada tahun 2015 dalam Perjanjian Paris.

Para ilmuwan mengatakan, selain panas yang mematikan, atmosfer yang memanas menyebabkan cuaca ekstrem yang lebih sering dan mematikan seperti banjir, kekeringan, hujan lebat, dan badai yang lebih dahsyat.

Paus Leo mengatakan masih ada waktu untuk tetap mematuhi Perjanjian Paris, tetapi tidak banyak.

“Sebagai pengelola ciptaan Tuhan, kita dipanggil untuk bertindak cepat, dengan iman dan nubuat, untuk melindungi karunia yang telah Dia percayakan kepada kita,” kata Paus Leo.

Ia mengatakan bukan Perjanjian Paris yang gagal tetapi manusia yang gagal dalam merespons hal ini. "Yang gagal adalah kemauan politik sebagian orang.”

Menepis Skeptisisme terhadap Perubahan Iklim

Paus Leo menorehkan sejarah tahun ini dengan menjadi paus Amerika pertama. Ia merangkul warisan lingkungan Paus Fransiskus, termasuk menepis skeptisisme terhadap perubahan iklim.

Amerika Serikat (AS), pencemar terbesar kedua di dunia, tidak menghadiri konferensi tersebut. Presiden AS Donald Trump menyebut perubahan iklim sebagai "penipuan terbesar yang pernah dilakukan terhadap dunia" dalam pidatonya di Majelis Umum PBB pada bulan September.

Kepala Badan Iklim PBB Simon Stiell mengatakan bahwa kata-kata Paus Leo menantang dunia untuk terus memilih harapan dan tindakan.

"Paus Leo mengingatkan kita Perjanjian Paris telah menghasilkan kemajuan dan tetap menjadi alat terkuat kita — tetapi kita harus bekerja sama untuk mencapai lebih banyak lagi, dan bahwa aksi iklim yang lebih berani merupakan investasi untuk ekonomi yang lebih kuat dan lebih adil, serta dunia yang lebih stabil," kata Stiell.

David Gibson, Direktur Pusat Agama dan Budaya di Universitas Fordham di New York, mengatakan Leo sedang menjadi pemimpin moral paling terkemuka di dunia dalam melawan perubahan iklim.

“Pesan ini menunjukkan Paus Leo menyuarakan aspirasi dunia, terutama di Belahan Bumi Selatan, tempat perubahan iklim menimbulkan malapetaka bagi masyarakat rentan di Asia, Afrika, dan Amerika Latin,” ujar Gibson.

Hal itu menunjukkan bahwa Leo, yang telah puluhan tahun bekerja sebagai misionaris di Peru dan merupakan warga negara Peru yang dinaturalisasi, memiliki hati dan suara khas Amerika Latin.

Gerakan Laudato Si’, sebuah gerakan iklim Katolik yang mengambil namanya dari ensiklik tahun 2015 di mana Paus Fransiskus menyerukan aksi iklim, menyebut pesan Leo sebagai “intervensi moral yang mendalam.”

“Ia mengingatkan dunia bahwa ciptaan sedang berseru dan komunitas yang rentan tidak dapat dikesampingkan. Suaranya menembus kebisingan negosiasi dan memanggil para pemimpin untuk kembali kepada apa yang benar-benar penting: kemanusiaan kita bersama dan tugas mendesak untuk bertindak dengan keberanian, kasih sayang, dan keadilan,” ujar Direktur Eksekutif Laudato Si' Lorna Gold.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.