Dihuni 100 Pusat Data, Jakarta Hadapi Risiko Kenaikan Suhu 3,65 Derajat Celsius

ananitit-pixabay.com
Ilustrasi data center
6/4/2026, 12.15 WIB

Pusat data atau data center kecerdasan buatan (AI) tidak hanya membutuhkan energi besar untuk beroperasi, tapi sekaligus membuang ‘panas’ ke lingkungan yang berisiko meningkatkan suhu di sekitarnya. 

Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Albertus Sulaiman mengatakan, pusat data AI membuang panas sepuluh kali lipat lebih besar daripada pusat data konvensional. 

Sebagai gambaran, pusat data AI yang memiliki luas seukuran lapangan sepak bola dengan ketinggian 14 meter (dua lantai), dapat membuang panas 168 megawatt (MW) dari operasional graphics processing unit (GPU). 

Jika ditambah panas buangan dari mesin pendingin, maka total panas yang dikeluarkan sebesar 210 MW. Angka ini setara dengan satu juta setrika listrik dinyalakan bersama-sama. 

“Panas ini dipancarkan 24 jam non-stop sehingga mampu menaikkan suhu di sekitarnya sebesar 0,5 derajat celsius secara klimatologi,” kata Albertus kepada Katadata, dikutip pada Senin (6/4). 

Berdasarkan Data Center Map, Jakarta merupakan lokasi yang paling banyak dihuni pusat data di Indonesia. Dari total 185 pusat data di Indonesia, 100 di antaranya berada di Jakarta. 

Bila diasumsikan 100 pusat data itu sebagai pusat data AI, maka panas sebesar 0,5°C itu dapat menyebar ke seluruh Jakarta dan memengaruhi rata-rata suhu Jakarta yang kini berkisar di angka 28°C.

“Jika asumsinya Jakarta merupakan kubah dengan jari-jari 40 kilometer, maka dalam setahun kota Jakarta akan mengalami kenaikan suhu 3,65 derajat Celsius,” ucap dia. 

Bila demikian, suhu rata-rata 28°C tersebut pun dapat meningkat hingga 32°C dalam jangka waktu setahun. 

Risiko Sengatan Panas

Albertus lalu menjelaskan adanya risiko sengatan panas dari peningkatan suhu tersebut. Pada rata-rata suhu 28°C dan tingkat kelembapan 80%, indeks panas yang dirasakan tubuh sekitar 32°C atau dalam kategori waspada. 

Namun, jika rata-rata suhu meningkat menjadi 32°C, dengan tingkat kelembapan yang sama, indeks panas yang dirasakan tubuh melonjak menjadi 45-48°C. 

“Ini kondisi bahaya di mana terdapat risiko head stroke atau sengatan panas karena keringat manusia tidak bisa menguap untuk mendinginkan tubuh,” kata Albertus. 

Meski begitu, jika mempertimbangkan kondisi Jakarta sebagai kota pantai yang memiliki land-sea breeze circulation, terdapat koreksi sebesar 0,032°C. Yang intinya, risiko sengatan panas ini baru terjadi sekitar 125 tahun ke depan. 

Dampak gelombang panas bagi kesehatan (Shutterstock)

Bagaimana untuk Meredam Risikonya?

Untuk meredakan dampak-dampak tersebut, Albertus membeberkan tiga cara. Menurut dia, perlu ada regulasi yang mengharuskan power usage effectiveness pusat data AI dalam kategori sangat efisien. Dengan begitu, fasilitas penting AI itu hanya akan membuang sedikit panas. 

Kemudian, panas dari pusat data dapat dimanfaatkan, misalnya untuk industri pengeringan makanan atau kebutuhan lainnya. Selain itu, keberadaan pusat data perlu dibarengi dengan adanya radiator panas seperti hutan kota. 

“Yang luasnya proporsional dengan luas bangunan pusat data, sehingga membantu penyerapan panas melalui evapotranspirasi (penguapan air),” ujar Albertus.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas