MBG Bisa Manfaatkan Pangan Lokal untuk Kurangi Risiko terhadap Lingkungan
Produksi pangan dunia berkontribusi besar terhadap sejumlah kerusakan lingkungan karena menciptakan deforestasi, gas rumah kaca, erosi lapisan tanah atas, hilangnya keanekaragaman hayati, hingga overfishing atau penangkapan ikan berlebih.
Saat ini Indonesia memiliki program dapur raksasa Makanan Bergizi Gratis (MBG) dengan produksi pangan masif. MBG dinilai dapat menerapkan prinsip makanan sehat dan berkelanjutan untuk mengurangi risiko-risiko tersebut.
Business Engagement and Development Specialist World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia Samuel Pablo Pareira mengatakan, MBG dapat mengurangi risiko lingkungan akibat produksi pangan yang masif jika memanfaatkan kekayaan pangan lokal. Langkah ini diyakini dapat memangkas emisi dari proses distribusi.
“Jadi kalau MBG dilakukan di Kalimantan, berarti dia harus menggunakan sumber-sumber protein atau serat yang memang bisa diperoleh dari lokasi itu,” kata Pablo, saat ditemui di Jakarta, Kamis (9/4).
Dia lalu memberi contoh lainnya, misalnya memanfaatkan telur ayam di daerah sentral peternakan ayam atau memanfaatkan ikan dari daerah-daerah pesisir.
Selain memangkas emisi dari proses distribusi, memanfaatkan pangan lokal sekaligus menghindari deforestasi dari pembukaan lahan untuk produksi pangan baru. “Dia tidak perlu istilahnya membuka lahan baru untuk produksi produk pertanian yang selama ini secara tradisional bukan fokusnya,” ucap Pablo.
Cara-cara Mengurangi Risiko Negatif Sistem Pangan
Riset berjudul ‘Bending The Curve: The Restorative Power of Planet-based Diets’ yang dilakukan oleh WWF Internasional mengungkapkan peran pergeseran pola konsumsi makanan terhadap kesehatan manusia dan lingkungan.
Sistem pangan relatif membaik jika terjadi pergeseran pola konsumsi ke produk pangan berbasis tanaman dan mengurangi konsumsi berlebih dari sumber hewani. Hasilnya akan lebih optimal jika sejak proses produksi hingga menghasilkan limbah, pangan dikelola secara ramah lingkungan.
Untuk mencapainya, WWF menyarankan beberapa hal. Pertama, menekan penurunan keanekaragaman hayati dan memulihkannya. “Dalam hal paling sederhana, bagaimana kita bisa menekan alih fungsi hutan untuk produksi pertanian juga perkebunan,” ujar Pablo.
Kedua, upaya agar tidak melebihi target karbon dari sistem pangan global secara keseluruhan, yaitu 5 Gigaton CO2eq. Ketiga, tidak menambah area pertanian untuk memberi stok pangan bagi populasi global.
“Fokusnya adalah intensifikasi, dari situ bisa turun ke agroforestri, pertanian berkelanjutan, regeneratif, dan lain-lain,” kata Pablo
Berikutnya, mencapai emisi negatif dari seluruh sistem pangan, di antaranya dengan memaksimalkan lahan pertanian yang ada serta menghutankan kembali area produksi pangan untuk dijadikan area penyerap karbon.
Terakhir, memaksimalkan hasil pertanian dengan tanpa menambah area lahan, misalnya dengan memanfaatkan air dan pupuk lebih efisien, serta melestarikan fungsi ekosistem.