Perairan Bintan Kaya Spesies Ikan Karang, Pemda Konservasi Lewat BLUD

Konservasi Indonesia/Eko Siswono Toyudho
Kawasan Konservasi Perairan Bintan
Penulis: Hari Widowati
8/5/2026, 18.24 WIB

Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Bintan memiliki kekayaan ekosistem laut yang tinggi, dari terumbu karang hingga padang lamun. Survei Marine Rapid Ecological Assessment Program (MREP) yang dilakukan Konservasi Indonesia mencatat sedikitnya ada 425 spesies ikan karang di kawasan ini.

Dari jumlah tersebut, 219 spesies merupakan catatan baru di perairan Bintan. Adapun delapan spesies di antaranya berpotensi menjadi spesies baru yang memerlukan kajian ilmiah lebih lanjut.

Untuk melindungi dan mengelola kawasan konservasi perairan di wilayahnya, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau membentuk Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepulauan Riau, Said Sudrajat, mengatakan keberadaan Lembaga pengelola khusus ini menjadi Langkah penting untuk memastikan tata kelola kawasan konservasi berjalan lebih berkelanjutan.

"Perairan Bintan memiliki potensi ekologis yang sangat besar. Karena itu, pengawasan dan pengendaliannya perlu dilakukan secara terencana agar perlindungan ekosistem laut dapat berjalan seiring dengan pemanfaatan yang berkelanjutan bagi masyarakat," ujar Said, dalam keterangan resmi, Jumat (8/5).

Perairan Bintan Memiliki Nilai Biodiversitas Laut yang Tinggi

Senior Ocean Program Advisor Konservasi Indonesia, Victor Nikijuluw, mengatakan hasil penelitian itu menunjukkan perairan Bintan memiliki nilai biodiversitas laut yang penting, bukan hanya bagi Indonesia tetapi juga kawasan regional.

Menurutnya, kawasan perairan ini juga merupakan habitat dugong dan penyu, padang lamun yang luas dan padat, bahkan salah satu habitat terbaik bagi berbagai spesies ikan.

"Karena itu, penataan kawasan konservasi yang efektif menjadi kunci untuk memastikan ekosistem tersebut tetap terjaga," kata Victor.

Pembentukan BLUD menjadi langkah penting karena keberadaan lembaga pengelola kawasan memungkinkan pengendalian area konservasi dilakukan secara lebih terstruktur.

Konservasi Indonesia mendukung penuh proses pengoptimalan kelembagaan pengelola kawasan tersebut. Hal ini mencakup peningkatan kapasitas pengelola, penyusunan rencana pengoperasian kawasan konservasi, serta perancangan skema pendanaan yang mendukung pengelolaan kawasan.

Victor Nikijuluw, Senior Ocean Program Advisor Konservasi Indonesia. (Konservasi Indonesia/Eko Siswono)

Pariwisata Bahari Berkelanjutan

Kawasan perairan Bintan juga memiliki potensi besar dalam perluasan pariwisata bahari berkelanjutan. Lokasi perairan Bintan yang berdekatan dengan Singapura menjadikan wilayah ini sebagai salah satu destinasi wisata Utama di Kepulauan Riau dengan sejumlah pulau kecil yang berkembang sebagai kawasan resor.

"Keindahan laut dan ekosistem yang terjaga dengan baik adalah alasan utama wisatawan mengunjungi pulau-pulau seperti Nikoi dan Cempedak. Melindungi kesehatan laut tidak hanya penting bagi lingkungan, tetapi juga bagi keberlanjutan pariwisata dan perekonomian local," ujar Andrew Dixon, CEO resor di Pulau Nikoi dan Pulau Cempedak.

Andrew menyebut keberadaan ekosistem pesisir, seperti terumbu karang dan padang lamun juga memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan laut. Padang lamun di Kawasan ini menjadi habitat penting bagi berbagai biota laut, termasuk dugong, mamalia laut yang populasinya semakin langka di berbagai wilayah perairan dunia.

Pemprov Kepulauan Riau dan Pemerintah Kabupaten Bintan bisa memastikan pengurusan kawasan konservasi laut dengan adanya lembaga pengelola Kawasan melalui BLUD. Mereka juga bisa menjaga ekosistem laut yang menjadi penopang kehidupan masyarakat pesisir dan pariwisata di wilayah tersebut.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.