Limbah Tekstil di Galeri Artjog, Alarm Krisis Lingkungan Melalui Seni
Helai demi helai kain disusun sedemikian rupa, membentuk simulasi hutan suci di pameran seni kontemporer Artjog. Bukan dari kain baru, instalasi bertajuk ‘Leuweung Salira’ ini memanfaatkan sisa-sisa produksi fesyen yang seringkali berujung jadi gunungan sampah.
Mengutip laman resmi Artjog, Leuweung Salira terinspirasi dari ajaran kuno Sunda ‘Patanjala’ atau sistem perairan dan sungai untuk hidup beretika dan peduli terhadap lingkungan.
Seniman di baliknya, Intan Anggita Pratiwie, ingin mengajak pengunjung menelusuri pengetahuan dari leluhur sekaligus berinteraksi dengan alam. Sebagai informasi, pengunjung masih bisa merasakan pengalaman memasuki hutan suci Leuweung Salira hingga 30 Agustus 2026 di Jogja National Museum, Yogyakarta.
“Terinspirasi oleh ajaran Patanjala dan pengetahuan spiritual Sunda, karya ini menekankan pentingnya pelestarian air, hutan, dan keseimbangan ekologis sebagai metafora rekoneksi diri dengan alam,” demikian dikutip dari laman resmi Artjog, pada Selasa (21/7).
Dalam sebuah komentar di sosial media, Intan mengungkap bahwa 70 persen karyanya memanfaatkan limbah tekstil dari desainer kenamaan Ivan Gunawan.
“Waste textile cantik warna putih dicelup pewarna alami supaya dapat hijau dan cokelat,” ujar dia, sekaligus mengundang para desainer lain agar mengalamatkan kain sisa kepadanya.
Seni tekstil dikembangkan Intan sebagai bagian dari daur ulang fesyen sirkular, selain melalui praktik downcycling dan upcycling. Tujuannya, mendorong masyarakat untuk memilah dan menyumbangkan pakaian yang tak terpakai, sehingga dapat didaur ulang atau dijual kembali.
Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 2021 mengungkap, Indonesia menghasilkan sekitar 2,3 juta ton limbah tekstil. Namun, hanya 0,3 juta ton di antaranya yang didaur ulang.
Padahal, industri fesyen terutama fast fashion berpotensi menimbulkan polusi air, tanah, hingga melepaskan emisi gas rumah kaca penyebab perubahan iklim. Sebagai informasi, fast fashion adalah mode fesyen yang berubah dalam waktu singkat dan menggunakan bahan baku berkualitas rendah sehingga tidak tahan lama.
Mengutip Zero Waste Indonesia, industri fast fashion banyak dijumpai di negara berkembang, seperti Indonesia, India, dan Bangladesh.
Kebanyakan produknya menggunakan pewarna tekstil berkualitas rendah, sehingga berpotensi menyebabkan pencemaran air, baik ketika diproduksi maupun setelah digunakan (terbuang ke lingkungan). Produk fast fashion juga cenderung menggunakan bahan poliester yang berasal dari bahan baku fosil dan dapat meninggalkan serat mikro plastik di lingkungan.
Sedangkan menurut United Nations Environment Programme, industri tekstil berkontribusi menyumbang 2-8 persen emisi gas rumah kaca global. Ini terbentuk mulai dari aktivitas produksi, distribusi, hingga ketika produk fesyen itu menjadi sampah.
Tak hanya itu, industri fesyen diperkirakan menggunakan air setara dengan 86 juta kolam renang ukuran olimpiade setiap tahun, yang menimbulkan tekanan besar bagi sumber air dan berisiko menciptakan kelangkaan air di wilayah sekitarnya.