Dari Pabrik Garam hingga Pusat Data, Desalinasi Semakin Dilirik Pelaku Industri

ANTARA FOTO/Dedi Suwidiantoro/wsj.
Mahasiswa Politeknik Indramayu (Polindra) Ahmad Farhanni mengoperasikan mesin desalinasi di Balongan, Indramayu, Jawa Barat, Selasa (21/7/2026). Mesin desalinasi buatan mahasiswa Polindra bekerjasama dengan Paguyuban Pantai Balongan Indah itu untuk mengolah air payau menjadi air tawar guna memenuhi kebutuhan air bersih warga yang tinggal di kawasan pesisir.
14/10/2026, 15.12 WIB

Desalinasi air laut semakin dilirik pemerintah dan pelaku industri sebagai solusi menghadapi risiko kekeringan dan penurunan muka tanah di pesisir imbas eksploitasi berlebihan air tanah. Beberapa pelaku industri tercatat mengumumkan proyek desalinasi mandiri skala besar di tahun ini, dari mulai industri garam hingga pusat data.  

Pada Agustus lalu, perusahaan energi dan desalinasi PT Acwa Power Indonesia dan BUMN produsen garam PT Garam mengumumkan telah menandatangani Joint Development Agreement atau Perjanjian Pengembangan Bersama fasilitas desalinasi air laut atau Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) yang terintegrasi dengan pabrik produksi garam. Ini diklaim akan menjadi fasilitas desalinasi terintergrasi skala utilitas pertama di Indonesia. 

“Dengan menggabungkan keahlian kami dalam desalinasi air laut skala besar dengan produksi garam industri dengan kemurnian tinggi, kami berkesempatan memberi solusi terpadu untuk memperkuat keamanan air sekaligus ambisi Indonesia meningkatkan produksi garam domestik.” kata CEO Acwa, Samir J. Serhan, dikutip dari keterangan pers perusahaan.

Proyek senilai US$400 juta atau sekitar Rp 7,2 triliun ini rencananya dibangun di Manyar, Gresik, Jawa Timur. Fasilitas tersebut ditargetkan menghasilkan 62.500 meter kubik air tawar per hari untuk kebutuhan industri, serta memproduksi 500 ribu ton garam industri dengan kemurnian tinggi per tahun. Produksi air tawar tersebut bisa memnuhi kebutuhan ratusan ribu orang.  

“Transfer teknologi dan pengetahuan merupakan inti dari kolaborasi ini, dan tujuan kami adalah untuk memastikan bahwa Indonesia memiliki fasilitas produksi skala dunia dengan tenaga kerja yang mampu mengoperasikan dan mengembangkan secara berkelanjutan,” ujar Direktur Utama PT Garam Abraham Mose. 

Dalam perjanjian tersebut, Acwa akan berperan dalam pengembangan proyek desalinasi, pemilihan teknologi desain teknis, struktur pembiayaan, rekayasa, pengadaan, konstruksi, operasi dan pemeliharaan jangka panjang, sekaligus transfer pengetahuan dan teknologi.

Sedangkan PT Garam akan memimpin kesiapan lokasi dan akses proyek, perizinan, dan koordinasi pemangku kepentingan di Indonesia. PT Garam juga bertanggung jawab atas pengembangan pasar dan jaringan komersial hasil produksi.

Di Batam, pemerintah daerah telah mengumumkan akan adanya proyek desalinasi mandiri oleh pengembang pusat data. Setidaknya dua pusat data dilaporkan telah menyanggupi pembangunan fasilitas ini sesuai permintaan Pemerintah Kota Batam.

Pengembang pusat data, DayOne, disebut akan membangun SWRO di Kabil Integrated Industrial Estate, dengan nilai investasi sekitar Rp180 miliar. Fasilitas tersebut nantinya akan diserahkan kepada pemerintah Batam untuk dikelola.

Pengembang pusat data lainnya, PT Equator Gate System Batam (EGSB), juga dilaporkan mulai menyiapkan rencana pembangunan SWRO untuk memenuhi kebutuhan air fasilitas pusat data di kawasan Teluk Mata Ikan, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa.

Dalam dua hingga tiga tahun ke depan, Pemerintah Kota Batam mengestimasi kapasitas produksi air dari SWRO mencapai sekitar 750 liter per detik pada tahap awal. Kapasitas tersebut ditargetkan meningkat menjadi sekitar 1.000 liter per detik atau sekitar 86,4 juta liter per hari.

Dengan kapasitas ini, Pemerintah Kota Batam berharap air waduk dapat lebih difokuskan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, sedangkan kebutuhan industri pusat data dipenuhi dari air laut yang diolah menjadi air tawar.

Sinyal Pengembangan di Indonesia 

Pengembangan teknologi desalinasi belakangan ramai dibicarakan di Indonesia, untuk menjawab kebutuhan air bersih di lokasi pasca-bencana, mengatasi kekeringan akibat kemarau, hingga alternatif sumber air pusat data. 

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono alias AHY merespons positif inisiatif tersebut. Menurut dia, memang diperlukan solusi komprehensif untuk memastikan ketersediaan air bersih.

“Semua sedang mencari solusi dan semua harus saling diintegrasikan, karena kadang ketika kita menyusun rencana sendiri-sendiri, menjadi kurang efisien,” kata dia dalam Konferensi Pers di Forum Indonesia International Sustainability Forum, Jakarta, pekan lalu.

AHY menjelaskan, teknologi desalinasi sudah semakin matang. "Mudah-mudahan harganya juga semakin kompetitif, semakin terjangkau oleh pemerintah daerah, bisnis, dan bisa berkelanjutan,” ujarnya. 

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto telah mengungkapkan dukungan untuk pengembangan fasilitas ini. Beberapa waktu lalu, Kementerian Pekerjaan Umum juga sempat menawarkan fasilitas desalinasi untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat terdampak gempa di Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Mendengar usulan tersebut, Prabowo meminta agar teknologi desalinasi dikembangkan di dalam negeri, tidak terbatas untuk area-area terdampak bencana. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas