PT Shell Indonesia Raih Katadata Green Initiative Awards

Muhammad Zaenuddin|Katadata
Presiden Direktur Shell Indonesia, Ingrid Siburian (kiri) CEO Katadata Metta Dharmasaputra (kanan) memberikan piagam penghargaan Katadata Green kategori Energi/Pertambangan pada acara Regional Summit 2022 di Aryanusa Ballroom, Menara Danareksa, Jakarta Pusat, Kamis (1/12).
Penulis: Yandi M. Rofiyandi
1/12/2022, 12.37 WIB

PT Shell Indonesia menerima “Katadata Green Initiative Awards” untuk kategori energi dan pertambangan. Penghargaan ini merupakan apresiasi kepada perusahaan-perusahaan yang menerapkan berbagai inisiatif untuk meningkatkan dampak positif bagi lingkungan dan menciptakan sistem yang berkelanjutan.

"Shell Indonesia menerima award karena berinovasi menyediakan produk bahan bakar rendah emisi dan mendukung berbagai portofolio program nature-based solution (NBS) secara global,” demikian keterangan Katadata Insight Center (KIC) dalam pemberian penghargaan pada 1 Desember 2022 di Jakarta.

Beberapa hal yang menjadi pertimbangan KIC dalam penghargaan ini di antaranya komitmen dan inovasi perusahaan dalam aksi hijau seperti transisi energi bersih. Demikian juga aksi korporasi dalam merealisasikan langkah produksi yang rendah emisi, pembiayaan berkelanjutan, dan sebagainya.

Selain sektor energi dan pertambangan, ada tiga kategori lain dalam “Katadata Green Initiative Awards”. Ketiga kategori tersebut yakni perbankan; teknologi dan transportasi; dan consumer goods.

Penghargaan ini juga masuk rangkaian Regional Summit 2022. Acara tersebut merupakan kegiatan tahunan Katadata sejak 2020 untuk mempertemukan para stakeholder dari pemerintah pusat, daerah, pelaku bisnis, dan civil society agar berkolaborasi mewujudkan pembangunan daerah berkelanjutan.

Solusi Berbasis Alam

Shell Indonesia menerima penghargaan karena keterlibatan dalam pasar karbon dengan berbagai portofolio program nature-based solution (NBS). Perusahaan energi ini menunjukkan komitmennya untuk mendukung penggunaan energi bersih dan berkelanjutan sejalan dengan target Royal Dutch Shell untuk mencapai net zero emission atau nol emisi karbon pada 2050.

Shell menggunakan solusi berbasis alam NBS, sejalan dengan filosofi hindari, kurangi dan hanya kemudian mitigasi, untuk mengimbangi (offset) 120 juta ton emisi karbon per tahun pada 2030.

Solusi berbasis alam adalah proyek yang melindungi, mengubah, atau memulihkan lahan. Dengan cara ini, alam akan menyerap lebih banyak emisi CO2 dari atmosfer. Proyek-proyek ini dapat mengarah pada pemasaran, perdagangan, dan penjualan kredit karbon.

Perlindungan dan pemulihan ekosistem alami memiliki peran penting dalam membatasi pemanasan global hingga di bawah 1.5 derajat celcius, dan memberikan manfaat lingkungan dan sosial.

Proyek ini juga memberikan manfaat lebih lanjut seperti membawa sumber pendapatan alternatif bagi masyarakat lokal, meningkatkan produktivitas tanah, membersihkan udara dan air, serta memelihara keanekaragaman hayati.

Presiden Direktur dan Country Chair Shell Indonesia Dian Andyasuri mengatakan ingin bertumbuh kembang dengan industri Tanah Air guna mendukung percepatan transisi energi. Dukungan tersebut salah satunya dengan menghadirkan produk yang ramah lingkungan.

“Kami terus berkomitmen untuk agenda rendah karbon. Di samping itu guna mendukung upaya pemerintah mengejar target bauran energi baru terbarukan (EBT) 23% pada 2025. Shell juga telah memasang PLTS atap di beberapa SPBU dan pabrik pelumas,” ujar Dian dalam CEO Talks’ Webinar: “Sustainability ExecutiveConnect", beberapa waktu lalu.

Shell Indonesia memiliki beberapa strategi untuk berkontribusi terhadap pencapaian target target net zero emissions 2050 Shell. Strategi tersebut mencakup peningkatan pasokan produk yang lebih ramah lingkungan seperti biofuel, hidrogen, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), serta menyimpan sisa emisi karbon dengan menggunakan teknologi atau alam.

Shell pun memiliki inisiatif kredit karbon. Satu kredit karbon ini mewakili penghindaran atau penghilangan satu ton karbon dioksida dari atmosfer. Shell telah berinvestasi hingga ratusan juta dolar per tahun untuk kredit karbon dari konservasi alam dan restorasi ekosistem di seluruh dunia. Perusahaan memiliki meja perdagangan karbon di California, London, Shanghai, dan Singapura yang telah menerapkan pasar karbon sukarela serta portofolio yang berkembang secara global.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.