Mengenal Pembangkit Osmotik, Sumber Energi Hijau Baru Milik Jepang

Fukuoka Area Waterworks Agency
25/8/2025, 12.16 WIB

Jepang baru saja membuka pembangkit listrik osmotik pertamanya di Kota Fukuoka, menandai tonggak penting dalam pengembangan energi terbarukan dunia. Ini adalah pembangkit listrik osmotik kedua yang dibangun di dunia, setelah fasilitas serupa di Denmark pada tahun 2023.

Dilansir dari The Guardian, pembangkit ini diperkirakan dapat menghasilkan sekitar 880.000 kilowatt jam listrik per tahun, cukup untuk menyuplai energi ke 220 rumah tangga Jepang. Energi osmotik disebut juga energi biru adalah bentuk energi terbarukan yang memanfaatkan perbedaan kadar garam antara air laut dan air tawar.

Untuk memahami ini, mari bayangkan dua wadah air yang dipisahkan oleh lapisan tipis khusus atau disebut membran semi-permeabel yaitu lapisan yang hanya memungkinkan air, bukan zat terlarut seperti garam, untuk melewatinya.

Jika satu sisi berisi air tawar dan sisi lainnya air laut yang mengandung garam tinggi, maka air tawar secara alami akan mengalir ke sisi air laut. Ini adalah proses alami untuk menyeimbangkan konsentrasi garam di kedua sisi yang disebut osmosis.

Pembangkit listrik osmotik memanfaatkan aliran air ini untuk menciptakan tekanan. Tekanan tersebut kemudian digunakan untuk menggerakkan turbin, seperti halnya pada pembangkit listrik tenaga air. Turbin yang berputar akan menggerakkan generator dan menghasilkan listrik.

Di fasilitas Fukuoka, air tawar yang bisa berasal dari sungai atau air limbah yang sudah diolah dan air laut ditempatkan di sisi berbeda dari membran. Saat air tawar mengalir ke sisi air laut, volume dan tekanan meningkat.

Sebagian dari air tersebut kemudian diarahkan ke turbin, yang memutar lalu ke generator dan menghasilkan energi listrik. Yang menarik, pembangkit ini tidak menggunakan air laut biasa, melainkan air laut pekat (brine) yaitu air sisa dari proses desalinasi yang memiliki kadar garam jauh lebih tinggi. Ini menciptakan perbedaan konsentrasi garam yang lebih besar, sehingga potensi energi yang dihasilkan juga meningkat.

Energi osmotik memiliki keunggulan tersendiri dibandingkan energi terbarukan lainnya. Misalnya saja, energi ini mampu beroperasi 24 jam nonstop. Ini tentu berbeda dengan energi surya atau angin yang tergantung cuaca, energi osmotik bisa dihasilkan siang dan malam, selama air tawar dan air asin tersedia.

Energi lingkungan karena tidak menghasilkan polusi udara atau emisi karbon, serta stabil dan dapat diprediksi lantaran tdak fluktuatif seperti sumber energi berbasis cuaca.

Meski begitu, menurut Prof Sandra Kentish dari University of Melbourne, konsep yang sederhana dari energi Osmotik ini membuatnya tidak mudah jika diterapkan secara besar-besaran.

Terdapat beberapa kendala utama, seperti adanya energi yang hilang dalam proses. Untuk memompa air dan melewatkannya melalui membran, dibutuhkan energi tambahan. Ditambah lagi, sebagian energi hilang karena gesekan saat air melewati membran.

Lalu biaya tinggi, membran khusus dan sistem tekanannya masih tergolong mahal. Terakhir efisiensi, lantaran sampai saat ini, energi bersih yang dihasilkan masih terbatas dibandingkan dengan biaya operasional.

Namun, para ahli optimis. Kentish menyebutkan bahwa teknologi membran dan pompa semakin maju, sehingga hambatan teknis ini perlahan bisa diatasi.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah