Perubahan Iklim Bisa Melemahkan Angin, Energi Terbarukan Hadapi Tantangan Baru
Perubahan iklim diproyeksikan memengaruhi kecepatan angin saat musim panas, terutama di wilayah northern midlatitudes atau lintang tengah belahan bumi utara. Kondisi ini berpotensi menekan kinerja pembangkit listrik tenaga angin yang tengah berkembang pesat di kawasan tersebut.
Temuan itu terungkap dalam studi berjudul Amplified Summer Wind Stilling and Land Warming Compound Energy Risk in Northern Midlatitudes. Penelitian ini menemukan sinyal penurunan kecepatan angin pada musim panas di Amerika Utara, Eropa, dan Asia Timur menjelang akhir abad ke-21.
Peneliti menggunakan sekitar 200 simulasi iklim untuk memproyeksikan perubahan kecepatan angin permukaan akibat pemanasan global. Dalam skenario emisi tinggi, kecepatan angin pada musim panas periode 2071-2100 diperkirakan turun sekitar 10 persen dibandingkan periode historis 1980-2010.
Sekilas penurunannya terlihat kecil. Namun dampaknya terhadap produksi listrik bisa jauh lebih besar. “Karena angin keluaran daya turbin berbanding lurus dengan pangkat tiga kecepatan angin, bahkan penurunan angin moderat (5-10 persen) dapat secara signifikan mengurangi output listrik turbin angin,” demikian dikutip dari laporan, pada Selasa (10/3).
Estimasi para peneliti dalam laporan ini, penurunan produksi listrik akibat kondisi tersebut mencapai sekitar 25 persen. Beberapa simulasi bahkan menunjukkan penurunan produksi hingga 30-40 persen, ketika memperhitungkan variabilitas iklim alami.
Berkaca dari Inggris, saat kecepatan angin melemah pada 2021, pasokan listrik turun drastis. Situasi ini memaksa Inggris untuk membuka kembali dua pembangkit listrik tenaga batu baranya.
Situasi ini menjadi tantangan ke depan seiring peningkatan suhu panas. Di penghujung abad 21, peningkatan listrik untuk pendingin ruangan di wilayah padat penduduk di northern midlatitudes diperkirakan meningkat 140 persen akibat suhu panas.
Para peneliti menyarankan adanya diversifikasi energi untuk menghadapi situasi ini. “Menggabungkan energi angin dengan peningkatan efisiensi, energi bersih lainnya (misalnya energi surya), dan peningkatan infrastruktur jaringan kemungkinan akan bermanfaat untuk investasi energi di masa depan,” demikian tertulis.
Meski menghadapi tantangan tersebut, energi angin dinilai tetap kompetitif dari sisi biaya dibandingkan pembangkit listrik berbahan bakar fosil, terutama di wilayah dengan potensi angin tinggi seperti Afrika.
“Penurunan kecepatan angin yang diproyeksikan tidak akan mencegah energi angin memainkan peran penting dan semakin penting dalam pembangkitan listrik,” demikian kesimpulan laporan tersebut.
