Fenomena Trump Effect dinilai berpotensi menekan tren investasi pada sektor energi terbarukan di tingkat global. 

Post Doctoral Fellow di Institute for Advanced Research, Monash University Indonesia, Perdana Oswaldi,  mengatakan kebijakan Amerika Serikat kurang berpihak pada isu lingkungan. Ini termasuk mundurnya negara itu dari Paris Agreement dan pencabutan sejumlah regulasi lingkungan.

Menurut Perdana, kebijakan proteksionis yang dijalankan AS membuat investor global cenderung berhati-hati dalam mengalirkan dana untuk proyek keberlanjutan, termasuk energi terbarukan. 

“Karena secara penelitian banyak menunjukkan, kadang-kadang kalau misalkan growth ekonomi itu tidak terkontrol, itu ada tren kecederungan emisinya juga naik. Jadi ini juga masalah, karena berarti mengurangi investasi untuk renewable energy,” ujarnya dalam malam Awarding Action for The Future Economy (SAFE) 2025, Rabu (10/9).

Ia menambahkan, salah satu kecemasan yang muncul dalam konferensi iklim COP29 adalah meski sudah ada komitmen pendanaan sebesar US$1,3 triliun hingga 2035, persoalan utama tetap pada willingness atau kemauan investor untuk menyalurkan dana tersebut. 

“Karena mereka pasti akan melindungi investasi mereka dulu, baru mereka menganggap compliance ini masih secondary priority, bukan yang paling prioritas, karena mereka mau melindungi diri dulu dari tekanan finansial ini. Nah, sektor yang paling akan terkena adalah renewable energy, karena membutuhkan pembiayaan besar,” kata Perdana.

Meski demikian, ia menilai kondisi ini justru bisa menjadi momentum bagi negara-negara di Global South, termasuk Indonesia, untuk memprioritaskan kebijakan ekonomi berkelanjutan. 

Perdana menegaskan bahwa praktik ESG bukan lagi sekadar kewajiban, melainkan kebutuhan. Hal ini terutama dirasakan di sektor agribisnis yang rentan terhadap dampak perubahan iklim. 

“Perubahan iklim bukan dongeng, ini nyata menurunkan produktivitas. Perusahaan tidak bisa lagi menjalankan bisnis seperti biasa. ESG harus diintegrasikan untuk menjaga produktivitas mereka sendiri,” ujarnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah