Perang Iran Dorong Peralihan ke Energi Bersih, Cina Jadi Pemenangnya
Perang di Iran telah membuat negara-negara yang kekurangan minyak berebut bahan bakar. Banyak yang memilih energi alternatif dan beralih ke raja energi terbarukan di planet ini: Cina.
Data terbaru dari lembaga pemikir energi, Ember, menunjukkan ekspor teknologi surya, baterai, dan kendaraan listrik Tiongkok mencapai rekor tertinggi pada Maret 2026. Hal ini mengindikasikan guncangan pasokan minyak yang bersejarah mempercepat adopsi energi bersih di seluruh dunia.
Setelah AS dan Israel melancarkan serangan udara terhadap Iran pada akhir Februari, militer Iran secara efektif membarikade Selat Hormuz, memutus sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam global. Volatilitas harga minyak telah melonjak seiring dengan meluasnya konflik ke Timur Tengah dan terhentinya negosiasi untuk mengakhiri perang.
Sementara itu, negara-negara Asia yang bergantung pada Timur Tengah untuk impor energi berupaya mengurangi kekurangan bahan bakar dengan mendorong penghematan energi dan mempersingkat jam kerja. Seiring dengan meningkatnya investasi negara-negara dalam energi terbarukan, Cina menjadi negara yang diuntungkan dengan transisi energi ini karena merupakan produsen kendaraan listrik, turbin angin, dan panel surya terbesar di dunia.
Laporan Ember yang dirilis 23 April lalu menyatakan Tiongkok mengekspor 68 gigawatt (GW) teknologi surya pada Maret 2026, melampaui rekor sebelumnya yang ditetapkan pada Agustus sebesar 50%. Lima puluh negara mencetak rekor baru untuk impor teknologi surya dari Cina, dengan pertumbuhan paling signifikan berasal dari pasar negara berkembang di Asia dan Afrika yang paling terdampak oleh krisis energi.
“Energi surya telah menjadi mesin penggerak ekonomi global, dan sekarang guncangan harga bahan bakar fosil mempercepat pertumbuhannya,” kata Euan Graham, analis senior di Ember, dalam laporan tersebut, seperti dikutip CNN.
Ember mengutip data dari Bea Cukai Tiongkok yang menyebutkan ekspor energi surya, baterai, dan kendaraan listrik secara total meningkat 70% pada Maret 2026 dibandingkan tahun sebelumnya. Kategori-kategori tersebut dikenal di Tiongkok sebagai “tiga besar baru,” yang memberikan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) negara tersebut. Ekspor ketiga komoditas energi ini menggantikan ekspor pakaian, peralatan rumah tangga, dan furnitur yang sebelumnya mendorong pertumbuhan.
Ekspor baterai Tiongkok mencapai US$ 10 miliar (Rp 172,46 triliun, kurs Rp 17.240/US$) pada Maret 2026, dengan tingkat pertumbuhan yang sangat tinggi di Uni Eropa, Australia, dan India.
Pergeseran Paradigma
Ketidakpastian mengenai kapan Selat Hormuz akan dibuka kembali telah memicu kecemasan regional yang lebih dalam tentang keamanan energi. Para analis menilai, kondisi ini membantu mempercepat transisi ke energi bersih.
AS dan Iran telah menyepakati gencatan senjata sementara mereka menegosiasikan syarat-syarat untuk mengakhiri perang, tetapi ketegangan di selat tersebut tetap tinggi. Baik pasukan AS maupun Iran telah menyita kapal-kapal di jalur penting tersebut, sehingga menggagalkan upaya lebih lanjut untuk melewatinya.
Krisis minyak juga telah mengubah perdagangan dan hubungan regional karena negara-negara berupaya melindungi diri dari guncangan pasokan. Membangun kapasitas energi terbarukan menjadi salah satu cara untuk mengurangi dampaknya.
“Saat kita menghadapi guncangan bahan bakar fosil kedua dalam waktu kurang dari lima tahun, pelajaran bagi negara kita jelas: Era keamanan bahan bakar fosil telah berakhir, dan era keamanan energi bersih harus segera tiba,” kata Menteri Energi Inggris Ed Miliband, dalam sebuah pernyataan pekan ini tentang perlunya mengurangi ketergantungan negara pada gas untuk listrik.
Di Tiongkok, investasi besar-besaran negara dalam industri energi hijau telah memperkuat swasembada energinya, mengurangi ketergantungannya pada kekurangan minyak. Dominasi Cina dalam teknologi energi terbarukan juga telah memberikan negara tersebut pengaruh geopolitik dan ekonomi yang lebih besar karena mengekspor teknologinya.
Pakistan terhindar dari sebagian dampak perang, karena mulai mengimpor panel surya murah dari Tiongkok beberapa tahun yang lalu. Penggunaan energi surya daripada impor minyak yang mahal diperkirakan dapat menghemat miliaran dolar setiap tahunnya bagi negara tersebut.
“Cina selama ini dianggap sebagai pemasok berbiaya rendah, tetapi semakin diperlakukan sebagai mitra jangka panjang dalam transisi energi,” kata Jeong Won Kim, seorang peneliti senior di Institut Studi Energi di Universitas Nasional Singapura.
Bukan hanya panel surya. Analis Ember memperkirakan adopsi kendaraan listrik (EV) global telah mengurangi konsumsi minyak sekitar 1,7 juta barel pada tahun lalu. Ketika harga minyak naik di awal konflik Timur Tengah, media pemerintah Cina melaporkan raksasa EV negara itu mengalami lonjakan penjualan di luar negeri.
Menurut Asosiasi Mobil Penumpang Cina, ekspor kendaraan listrik dan hibrida negara tersebut mencapai rekor tertinggi pada Maret 2026, meningkat 140% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Para analis mengatakan sebagian dari lonjakan penjualan tenaga surya bulan lalu disebabkan oleh penimbunan sebelum Cina menghentikan potongan pajak pada April 2026. Lauri Myllyvirta, salah satu pendiri Pusat Penelitian Energi dan Udara Bersih, mengatakan peningkatan ekspor yang signifikan sejak Maret kemungkinan tidak akan berkelanjutan. Namun, konflik di Timur Tengah telah memperkuat alasan jangka panjang untuk energi alternatif.
“Penurunan biaya tenaga surya dan baterai, dan sekarang harga bahan bakar fosil yang lebih tinggi dan lebih fluktuatif telah menjadikan tenaga surya sebagai pilihan yang mudah bagi sebagian besar konsumen listrik global,” katanya.