Bank Eropa Siapkan Investasi Rp 16,3 Kuadriliun untuk Perubahan Iklim

123rf.com/Ion Chiosea
Ilustrasi deforestasi, perubahan iklim
Penulis: Abdul Azis Said
Editor: Yuliawati
18/2/2022, 16.30 WIB

Bank Investasi Eropa (EIB) mengumumkan siap memobilisasi dana sekitar 1 triliun euro atau sekitar Rp 16.280 triliun (kurs Rp 16.280/euro) hingga 2030 untuk mendanai proyek perubahan iklim. Bank yang memiliki kantor perwakilannya di Jakarta sejak akhir tahun lalu menyebutkan investasi ini bakal mengalir juga ke Indonesia.

Wakil Presiden EIB Gelsomina Vigliotti mengatakan target memobilisasi dana dalam jumlah jumbo tersebut dalam rangka menjadikan EIB sebagai 'bank iklim'. Dia memutuskan aliran pembiayaan tersebut bukan hanya mengalir ke negara-negara Eropa yang menjadi basis kantor mereka, melainkan di seluruh negara.

"Dua tahun lalu kami menegaskan peta jalan ambisius untuk aksi iklim kami, sasaran kami ditargetkan 2025 yaitu 50% aktivitas kami diarahkan untuk perubahan iklim dan pada 2030 kami berharap bisa memobilisasi  sumber daya sampai 1 triliun euro untuk aksi iklim," kata Vigliotti dalam diskusi dengan media secara daring, Jumat (18/2).

Meski demikian, dia menjelaskan investasi 1 triliun euro tersebut bukan hanya akan menarik dari neraca bank, melainkan memobilisasi sumber-sumber pendanaan eksternal. Sumber pendanaan lain yang akan ikut membantu seperti pendanaan swasta, pemerintah asing dan lokal dan pemangku kepentingan lainnya yang relevan.

Kepala Kantor EIB untuk Asia Tenggara dan Pasifik di Jakarta Sunita Lukkhoo tidak merincikan berapa besaran investasi EIB yang akan mengalir untuk proyek-proyek di Indonesia. Dia mengatakan, Indonesia menjadi negara prioritas bagi bank dan pemindahan kantor regional ke Jakarta sebagai inisiatif kehadiran EIB di lapangan untuk membantu Indonesia mencapai berbagai target perubahan iklim.

Lukkhoo mengatakan memiliki berbagai fasilitas berupa amplop-amplop pembiayaan yang dapat gunakan untuk berinvestasi di Indonesia.  Selain itu, status Indonesia sebagai negara investment grade juga memungkinkan EIB bisa mengambil risiko dan memasukkan risiko itu sendiri dalam neraca bank.

"Saya mau mengatakan (besaran investasi ke Indonesia) tidak ada batasnya, tapi sayangnya semua pasti akan ada batasannya. Tapi kami bisa mendanai proyek pada saat kami melihat bagaimana dampak proyek tersebut," ujar dia.

Lukkhoo mengatakan ada banyak sektor yang potensial untuk menjadi tujuan investasi khususnya terkait perubahan iklim di Indonesia. Sektor energi dan transportasi perkotaan dinilai penting untuk membantu mengurangi emisi karbon.

Kendati demikian, tidak menutup kemungkin investasi juga diarahkan ke sektor-sektor lain seperti kehutanan, di mana EIB juga sudah berinvestasi miliar euro di negara lain untuk mengurangi deforestasi.

Selain EIB, Indonesia beberapa kali telah menerima pinjaman dari bank multilateral lainnya untuk membantu membiayai perubahan iklim. Terbaru, Indonesia menerima pinjaman US$ 150 juta atau Rp 2,1 triliun dari Bank Pembangunan Asia (ADB) untuk membiayai proyek infrastruktur hijau dan target pembangunan berkelanjutan (SDG's).

Pada November lalu, Indonesia juga bermitra dengan ADB untuk meluncurkan Energy Transition Mechanism (ETM). Melalui kerja sama ini, ADB akan membantu Indonesia dalam transisi energi khususnya pada PLTU Batu Bara.

Reporter: Abdul Azis Said