Bisnis Ekstraktif vs Bisnis Hijau, Mana yang Lebih Mudah Meraih Investasi?
Pertanyaan mengenai arah investasi di Indonesia masih terus mengemuka. Di tengah dorongan menuju ekonomi hijau, bisnis ekstraktif masih mendominasi aliran modal.
Menanggapi hal ini, Dewan Pembina Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL), Fitrian Adriansyah, mengatakan gerakan global dan dorongan regulasi di dalam negeri mulai membuka peluang lebih besar bagi investasi berkelanjutan.
Ia menilai transformasi dari investasi konvensional menuju hijau memang belum sepenuhnya mudah, tetapi peluangnya semakin nyata.
“Kalau di tingkat global, memang investasi business as usual masih banyak. Namun, ada gerakan signifikan untuk mentransformasikan investasi konvensional ke arah yang lebih hijau atau climate friendly,” ujarnya, di Jakarta, Kamis (28/8).
Fitrian mencontohkan adanya aliansi keuangan global GFANZ atau Glasgow Financial Alliance for Net Zero dan Investor Policy Dialogue on Deforestation IPDD yang berkomitmen mengalihkan portofolio mereka dari praktik merusak lingkungan menuju investasi yang bebas deforestasi.
Di Indonesia, dorongan serupa hadir melalui Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Lembaga itu telah merilis Sustainable Finance Roadmap serta Taksonomi Hijau dan Keuangan Berkelanjutan.
Meski dukungan terhadap pembiayaan hijau mulai mengemuka, Fitrian menilai jika realisasi investasi hijau di Indonesia masih minim.
“Menurut penelitian saya dan rekan, portofolio hijau bank-bank besar baru sekitar 5–10%. Itu pun sebagian besar masih untuk pembiayaan UMKM, sedangkan untuk sektor hijau lainnya porsinya lebih kecil,” jelasnya.
Tantangan untuk Menyiapkan Portofolio Bisnis Hijau
Tantangan utama, lanjut Fitrian, adalah menyiapkan portofolio bisnis hijau yang menarik bagi investor. Bank dan pemegang saham cenderung menilai apakah investasi hijau bisa memberi keuntungan setara atau setidaknya dengan risiko lebih rendah dibandingkan bisnis ekstraktif.
“Risiko bisa ditekan jika ada dukungan dari pemerintah maupun mitra pembangunan. Jadi, masyarakat disiapkan, perusahaannya ada, barulah investasi lebih mudah masuk,” katanya.
Fitrian menegaskan, meski penuh tantangan, transisi ini juga membawa peluang. Contohnya, LTKL bersama mitra daerah telah membuktikan adanya minat investor di bisnis hijau.
“Tahun lalu saja, sudah ada sekitar US$ 10,7 juta atau Rp 174,89 miliar (kurs Rp 16.350/US$) yang digelontorkan dua perusahaan di beberapa kabupaten anggota LTKL. Ini bukti bahwa bisnis hijau bisa dilirik investor,” imbuhnya.