Pembiayaan Hijau Bank Mandiri Tumbuh 12% Capai Rp 159 Triliun Hingga September
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) telah menyalurkan pembiayaan berkelanjutan atau sustainable finance mencapai Rp 310 triliun, tumbuh 8,7% secara tahunan. Dari jumlah tersebut, portofolio hijau perseroan teratat tumbuh 12% secara tahunan mencapai Rp 159 triliun.
"Pertumbuhan portfolio hijau ini menjadikan Bank Mandiri sebagai green market leader di industri perbankan dengan pangsa pasar lebih dari 35% antara empat bank besar nasional di Indonesia," kata Direktur Risk and Management PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Danis Subyantoro dalam paparan kinerja keuangan kuartal III yang digelar secara virtual, Senin (27/10).
Ia menjelaskan, pertumbuhan pembiayaan hijau ditopang oleh pembiayaan produk ekoefisien yang naik 40% menjadi Rp 13,2 triliun, energi terbarukan yang tumbuh 29% menjadi Rp 13 triliun, serta transportasi bersih yang meningkat 35% menjadi Rp 9,7 triliun.
Danis mengatakan, Bank Mandiri akan terus memperluas produk dan layanan berbasis ESG, seperti Sustainability Linked Loan, Green Loan, Corporate in Transition Financing, dan Social Loan. Pembiayaan tersebut akan difokuskan pada sektor-sektor strategis, termasuk pengelolaan sumber daya alam hayati, penggunaan lahan berkelanjutan, energi terbarukan, dan produk ekoefisien.
Hingga September 2025, kredit Bank Mandiri secara bank only tercatat mencapai Rp 1.384 triliun, tumbuh 11,6% secara tahunan (yoy).
Direktur Commercial Banking Bank Mandiri Toto Priyambodo menjelaskan, strategi ekspansi kredit BMRI difokuskan pada pertumbuhan berbasis ekosistem dan penguatan pembiayaan ke berbagai segmen ekonomi di seluruh wilayah. Bank juga terus memperluas jangkauan layanan melalui optimalisasi kanal digital seperti Livin’ by Mandiri dan Kopra, guna meningkatkan efisiensi dan inklusi pembiayaan.
Secara sektoral, penyaluran kredit diarahkan pada sektor-sektor yang prospektif dan tangguh seperti pemerintahan, perkebunan, infrastruktur, energi, serta sektor yang berkontribusi besar terhadap ekonomi nasional, termasuk UMKM.
Ia juga menyampaikan, realisasi penyaluran kredit dari penempatan dana pemerintah sebesar Rp 50 triliun telah mencapai 74% dari total dana tersebut. Ia menegaskan, seluruh penyaluran dilakukan dengan prinsip kehati-hatian dan pelaporan yang transparan sesuai ketentuan yang berlaku.
“Penyaluran kami fokuskan pada segmen UMKM dan industri padat karya, serta sektor strategis lainnya seperti perkebunan, ketahanan pangan, hilirisasi sumber daya alam, energi terbarukan, layanan kesehatan, manufaktur, dan kawasan industri,” ujar Toto.
Menurut Toto, penyaluran kredit yang terarah ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, meningkatkan daya saing ekspor, sekaligus memperluas penciptaan lapangan kerja. Penempatan dana pemerintah juga memperkuat fungsi intermediasi Bank Mandiri dengan menjaga struktur likuiditas dan efisiensi biaya dana (cost of fund), mengingat sumber pendanaan berasal dari pemerintah dengan tingkat bunga yang lebih rendah dibanding rata-rata pasar.
“Terkait potensi tambahan penempatan dana, Bank Mandiri akan terus berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan agar dapat memberikan kontribusi optimal bagi perekonomian nasional sekaligus menjaga ruang ekspansi usaha yang berkelanjutan,” kata Toto.