60 Pesut Terakhir Dikepung Limbah dan Tongkang: Area Konservasi Mahakam Ditambah
Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menetapkan tiga desa di Kalimantan Timur sebagai Desa Konservasi Pesut Mahakam. Ketiga desa tersebut yaitu Desa Muhuran dan Desa Pela di Kecamatan Kota Bangun, serta Desa Sabintulung di Kecamatan Muara Kaman.
Populasi pesut mahakam kemungkinan hanya tersisa sekitar 60 ekor. Ini berdasarkan estimasi KLH. Dengan tubuh berwarna abu-abu tanpa moncong, pesut mahakam merupakan subpopulasi langka dari lumba-lumba irrawaddy yang hanya hidup di Sungai Mahakam.
"Pelestarian habitatnya harus dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, serta masyarakat lokal," kata Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq, dalam keterangan resmi, dikutip Senin (9/2).
Kepunahan pesut mahakam menjadi indikator kerusakan ekosistem Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Sungai ini dilaporkan tercemar oleh limbah tambang dan domestik. Operasional kapal tongkang dan praktik perikanan ilegal seperti penggunaan setrum dan bom ikan membuat pesut semakin sulit bertahan hidup.
Sekadar informasi, kawasan Danau dan Sungai Mahakam bukan hanya habitat pesut, tapi juga berbagai satwa liar lain seperti bekantan, berang-berang, dan bangau. Kawasan ini juga berperang strategis dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.
Hanif menekankan bahwa seluruh aktivitas di kawasan ini, baik perikanan, transportasi air, perkebunan, pertambangan, pariwisata, maupun kegiatan lainnya, harus dikelola secara bertanggung jawab agar tidak merusak habitat pesut mahakam. Dia juga mendorong penguatan pengelolaan sampah dan limbah.
KLH meminta masyarakat tidak segan melaporan dugaan pencemaran atau perusakan lingkungan untuk ditindaklanjuti melalui mekanisme penegakan hukum.
Pemerintah berharap Kawasan Konservasi Pesut Mahakam dapat menjadi contoh kerja sama pengelolaan keanekaragaman hayati yang berkelanjutan.