Selamat Datang "Musim" Kabut Asap Riau

ANTARA FOTO/Rony Muharrman/foc.
Personel Manggala Agni Daops Sumatera IV Pekanbaru berusaha memadamkan kebakaran lahan gambut di Desa Rimbo Panjang, Kabupaten Kampar, Riau, Kamis (12/2/2026).
30/3/2026, 12.51 WIB

Risiko kabut asap kembali membayangi Provinsi Riau dan sekitarnta. Berdasarkan prakiraan cuaca 10 hari ke depan yang dirilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), berbagai wilayah di provinsi tersebut berpotensi menghadapi masalah kabut asap pada April seiring kebakaran hutan dan lahan di tengah curah hujan yang turun. 

Beberapa wilayah di Riau diramalkan mengalami hujan ringan atau berawan pada pengujung Maret ini, kemudian cuaca kabur dan kabut/asap pada awal April. Cuaca kabur adalah semacam kabut tipis yang membuat langit tampak buram. Penyebab utamanya adalah partikel aerosol yang menyerap dan menghamburkan cahaya matahari. Partikel ini bisa berasal dari kebakaran, selain dari kegiatan industri, mobilitas kendaraan, atau sebab alami. 

Sejak awal tahun ini, petugas sudah berjibaku dengan kebakaran hutan dan lahan di Riau. Berdasarkan pantauan satelit Terra/Aqua (NASA) dengan confident level high, Riau mencatatkan titik panas atau hotspot terbanyak di wilayah Indonesia. Pada periode 1 Januari-26 Maret 2026, tercatat 625 titik panas di seluruh Indonesia, dengan 42,65 persen atau 266 titik berada di Riau. 

Sejauh ini, ribuan hektare hutan dan lahan terbakar. Kementerian Kehutanan melaporkan, kebakaran menghanguskan sekitar 4.440,21 hektare area di Provinsi Riau, sepanjang Januari-Februari. Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan Dwi Januanto Nugroho mengatakan, luasan kebakaran hutan dan lahan masih terus meningkat akibat cuaca kering yang rentan.

Saat ini, seluruh wilayah Riau menyandang status ‘Sangat Mudah’ mengalami kebakaran hutan dan lahan. Sebanyak 387 personel gabungan dari Manggala Agni bersiaga di lapangan. “Hingga saat ini, regu gabungan telah berhasil melakukan pemadaman darat sebanyak 265 operasi di beberapa titik,” ucap Dwi, dalam keterangan resmi pada Jumat (27/3). 

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatra Ferdian Krisnanto mengatakan, Manggala Agni tengah melakukan pemadaman api di beberapa lokasi kritis di Riau. 

Lokasi yang dimaksud antara lain di Kelurahan Mundam (Kota Dumai), Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil, Desa Merbau dan Pulau Muda (Kabupaten Pelalawan), Desa Talang Jerinjing (Kabupaten Indragiri Hulu), serta wilayah Pulau Rupat (Kabupaten Bengkalis). 

“Strategi awal saat ini adalah melakukan penyekatan api agar kebakaran tidak meluas, kemudian memukul dan mematikan kepala api serta mematikan sumber potensi asap utama,” ujar Ferdian. 

Namun, tim terkendala dengan keterbatasan air untuk pemadaman. Hal ini terjadi seiring menurunnya curah hujan yang membuat tinggi muka air tanah di wilayah gambut semakin rendah. Sebab itu, Manggala Agni dan masyarakat menggali embung air untuk dijadikan sumber air pemadaman. 

Pemadaman juga dilakukan dengan jalur udara, melalui penerbangan 3 unit helikopter untuk misi patroli, waterbombing, dan evakuasi. Kemenhut bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan BMKG melakukan operasi modifikasi cuaca untuk memadamkan api dengan hujan buatan. 

Ramalan Dua Wajah Cuaca di Tengah El Nino dan IOD Positif

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperingatkan adanya potensi cuaca ekstrem yang "terbelah" di Indonesia dalam beberapa bulan ke depan. Sebagian wilayah diperkirakan mengalami kekeringan, sedangkan wilayah lain berisiko menghadapi curah hujan tinggi. Ada dua fenomena iklim utama yang memengaruhi cuaca Indonesia ke depan.

Pertama, El Nino yang menurut sejumlah model iklim global dari Badan Riset Atmosfer dan Laut Jepang (Jamstec) berpotensi berkembang mulai April. El Nino adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur, di sepanjang garis khatulistiwa. Pemanasan ini melemahkan pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia, sehingga curah hujan cenderung berkurang.

BRIN menyebut adanya kemungkinan super El Nino atau Godzilla El Nino yaitu pemanasan melampaui 2 derajat Celcius di atas normal. 

Kedua adalah fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif di Samudra Hindia. Dalam kondisi ini, perairan dekat Afrika menjadi lebih hangat, sedangkan perairan dekat Indonesia justru lebih dingin. Akibatnya, pembentukan awan hujan “bergeser” menjauh dari Indonesia, sehingga wilayah barat Indonesia cenderung lebih kering.

BRIN memprediksi, kedua fenomena ini berpeluang terjadi mulai April hingga Oktober 2026. Dampaknya? Berdasarkan model prediksi musim yang dikembangkan BRIN, pada April-Juli, kemarau yang bersifat kering akan melanda sebagian besar pulau Jawa hingga Nusa Tenggara Timur. Sedangkan Sulawesi, Halmahera, dan Maluku masih akan mengalami curah hujan yang tinggi.

Dengan kondisi cuaca yang berbeda ini, masyarakat Indonesia berisiko menghadapi tantangan bencana yang berbeda. Periset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Erma Yulihastin mengatakan, pemerintah perlu mewaspadai dampak kekeringan yang dapat mengancam lumbung pangan nasional di wilayah Pantai Utara Jawa. Selain itu, kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan dan Sumatra.

"Di saat bersamaan, pemerintah juga sebaiknya menyiapkan strategi untuk menangani kelebihan curah hujan di wilayah Sumatra, Halmahera, dan Maluku, serta dampaknya terhadap banjir dan longsor," kata Erma, dikutip dari akun Instagram BRIN.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.