Jejak Emisi Lawatan Prabowo yang Setara 11 Kali Keliling Bumi

Youtube/Sekretariat Presiden
Presiden Prabowo Subianto bertemu Presiden Prancis Emmanuel Macron di Istana Elysee, Paris, Prancis, Kamis (28/5). Foto: Youtube/Sekretariat Presiden
3/6/2026, 18.07 WIB

Presiden Prabowo Subianto dihujani kritik terkait tingginya intensitas kunjungan luar negeri. Publik menyoroti urgensi dan biaya kunjungan, hingga dampak lingkungannya. Pasalnya, emisi karbon dari penerbangan tidak sedikit. 

Lembaga nirlaba di bidang lingkungan hidup Trend Asia mengestimasi total emisi dari penerbangan dalam dan luar negeri Presiden mencapai 9,4 juta kilogram CO2. Emisi terbanyak dari penerbangan luar negeri yaitu 9 juta kilogram CO2.

“Emisi tersebut dihitung dari total bahan bakar yang dikonsumsi selama total perjalanan sebesar 3,7 juta liter avtur dengan total jarak perjalanan 457 ribu kilometer,” kata Manager riset Trend Asia Zakki Amali kepada Katadata, Rabu (3/6). Penghitungan emisi juga mempertimbangkan jenis pesawat yang digunakan. 

Berdasarkan penelusuran Trend Asia, selama sekitar 20 bulan menjabat, Presiden telah menghabiskan hampir 100 hari atau sekitar tiga bulan di luar negeri.

Dia menempuh 89 leg penerbangan untuk mengunjungi 28 negara, dengan total jarak tempuh mencapai 433.631 kilometer atau setara hampir 11 kali mengelilingi bumi. Negara yang dikunjungi termasuk Amerika Serikat, Kanada, Rusia, Korea Selatan, Brasil, Malaysia, dan Prancis. 

Sedangkan di dalam negeri, dia menempuh 28 leg penerbangan, dengan total jarak tempuh 23.467 kilometer. Perjalanan  antara lain untuk menyambangi wilayah terdampak bencana di Sumatra, peresmian Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, peresmian kilang minyak, merayakan Idulfitri di Aceh, serta meninjau IKN Nusantara.

Zakki mengingatkan emisi CO2 berkontribusi terhadap pemanasan global dan krisis iklim. “Alangkah baiknya perjalanan luar negeri dapat diefektifkan dan berdasarkan kebutuhan diplomasi yang penting dan mendesak saja,” ujar dia. 

Polutan Pesawat dan Pemanasan Global

Menurut Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), sektor penerbangan menyumbang sekitar dua persen dari total emisi karbon dioksida (CO2) global. Namun dampaknya terhadap iklim tidak hanya berasal dari CO2.

Laporan White Paper on Climate Change Aviation Impacts on Climate: State of the Science (2016) menjelaskan bahwa transportasi udara sangat bergantung pada bahan bakar fosil. Pembakaran bahan bakar tersebut menghasilkan berbagai polutan yang memengaruhi kualitas udara sekaligus mempercepat perubahan iklim.

Emisi yang dilepaskan pesawat tidak berhenti pada saat keluar dari mesin. Di atmosfer, berbagai zat tersebut mengalami transformasi kimia dan berkontribusi terhadap radiative forcing, yakni perubahan keseimbangan energi radiasi yang masuk dan keluar dari sistem atmosfer bumi.

Keseimbangan radiasi berperan penting dalam menjaga suhu permukaan bumi tetap stabil. Ketika keseimbangan ini terganggu akibat peningkatan konsentrasi gas, aerosol, maupun perubahan tutupan awan, suhu global cenderung meningkat.

Karbon dioksida (CO2) dan uap air (H2O) merupakan gas rumah kaca utama yang dihasilkan dari aktivitas penerbangan. Selain itu, pembakaran bahan bakar pesawat juga menghasilkan nitrogen oksida (NOx). Meski bukan gas rumah kaca, NOx dapat memengaruhi konsentrasi gas rumah kaca lain, terutama ozon (O3) dan metana (CH4), sehingga turut memperkuat efek pemanasan.

Mesin pesawat juga melepaskan jelaga atau karbon hitam (black carbon) serta aerosol berupa partikel-partikel kecil di udara. Sementara itu, sulfur oksida (SOx), NOx, dan hidrokarbon (HC) dapat bereaksi di atmosfer dan membentuk aerosol baru.

Penerbangan juga membentuk contrail atau jejak awan pesawat. Dalam kondisi tertentu, contrail dapat bertahan lama dan menambah tutupan awan di atmosfer, yang ikut memengaruhi keseimbangan energi bumi.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas