Gen Resistensi Antibiotik Ditemukan di Berbagai Samudra Dunia, Apa Bahayanya?

ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/rwa.
Warga memancing di pinggiran pantai Ampenan, Mataram, NTB, Selasa (6/1/2026). Para peneliti Italia memperingatkan laut telah menjadi reservoir atau tempat penampungan polutan global yang berasal dari daratan. Gen resistensi antibiotik ditemukan di berbagai Samudra.
11/6/2026, 13.02 WIB

Gen yang berkaitan dengan resistensi antibiotik ditemukan di berbagai samudra dunia, termasuk di perairan terpencil yang jauh dari aktivitas manusia. Temuan ini diungkap dalam proyek riset SeA Care yang dipimpin Italia setelah menganalisis ribuan sampel air laut dari berbagai belahan dunia.

Mengutip pemberitaan Reuters, hasil penelitian menunjukkan gen resistensi antibiotik ditemukan di Laut Mediterania, Samudra Atlantik, Arktik, dan sejumlah kawasan laut lainnya. Konsentrasi tertinggi terdeteksi di sekitar jalur pelayaran yang padat dan wilayah pesisir berpenduduk tinggi.

Menurut para peneliti, temuan tersebut menunjukkan bahwa laut telah menjadi reservoir atau tempat penampungan polutan global yang berasal dari daratan. Bersama aliran air laut, limbah perkotaan dan jejak penggunaan antibiotik dapat terbawa hingga ribuan kilometer dari sumber pencemarannya.

Kondisi ini dikhawatirkan memperluas penyebaran bakteri atau materi genetik yang membawa sifat kebal terhadap antibiotik ke wilayah yang sebelumnya relatif minim paparan pencemaran. Dengan kata lain, laut berpotensi menjadi jalur penyebaran resistensi antibiotik lintas negara melalui sirkulasi alami perairan.

Temuan tersebut dipaparkan dalam forum Ocean and Human Health di Roma yang diselenggarakan National Health Institute (ISS) Italia pada Senin (8/6). Selain gen resistensi antibiotik, tim peneliti juga mendeteksi mikroplastik, senyawa PFAS atau forever chemicals, serta jejak materi genetik virus SARS-CoV-2, bahkan di perairan lepas dan kawasan terpencil.

Direktur Jenderal ISS Andrea Piccioli mengatakan perlindungan kesehatan manusia tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga kesehatan laut dan samudra.

"Melindungi kesehatan manusia saat ini berarti juga menjaga laut dan samudra. Polutan yang dilepaskan ke lingkungan akan didistribusikan kembali secara global melalui sistem air, pangan, dan iklim," ujarnya, seperti dikutip Reuters.

SeA Care merupakan inisiatif yang menghubungkan pemantauan kesehatan lingkungan dengan kesehatan manusia. Program ini melibatkan ISS, Angkatan Laut Italia, dan sejumlah pusat riset internasional untuk membangun sistem pemantauan kondisi laut secara global.

Dalam tiga tahun pertama, proyek tersebut telah mengumpulkan lebih dari 4.000 sampel air laut dari lebih dari 140 lokasi di Laut Mediterania serta Samudra Atlantik, Pasifik, Arktik, dan Hindia. Pengambilan sampel dilakukan melalui rute pelayaran yang sudah ada sehingga biaya penelitian dan dampak lingkungannya dapat ditekan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.