Restorasi Batang Toru Fokus pada Upaya Lindungi Habitat Orang Utan Tapanuli

Dok. Konservasi Indonesia
Bupati Tapanuli Selatan Gus Irawan Pasaribu menanam bibit pohon di area terdampak bencana banjir Sumatra, di Desa Aek Haminjon, Kecamatan Arse, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatra Utara.
Penulis: Hari Widowati
19/6/2026, 11.33 WIB

Konservasi Indonesia Bersama Sumatra Rainforest Institute (SRI) memulai upaya restorasi lingkungan dan pemberdayaan masyarakat di area terdampak bencana seluas 159 hektare (ha) di Desa Aek Haminjon, Kecamatan Arse, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatra Utara. Restorasi bentang alam ekosistem Batang Toru ini difokuskan pada pengembalian fungsi vegetasi dan stabilitas ekologis habitat orang utan Tapanuli.

Sundaland Program Director Konservasi Indonesia Jeri Imansyah mengatakan model pengelolaan partisipatif ini dirancang untuk mengintegrasikan target perlindungan habitat satwa liar sekaligus keberlanjutan sumber penghidupan pertanian di Desa Aek Haminjon. Restorasi dilakukan dengan target penanaman 35 ribu hingga 49 ribu komoditas utama, seperti pohon kopi, karet, cokelat, dan durian. 

"Mayoritas penduduk Desa Aek Haminjon menggantungkan hidup pada aktivitas pertanian, perkebunan, serta pemanfaatan hasil hutan. Wilayah ini memegang posisi yang sangat strategis dalam konservasi karena berbatasan langsung dengan Cagar Alam Dolok Sipirok di Blok Timur Ekosistem Batang Toru," ujar Jeri dalam pernyataan resmi, Kamis (18/6).

Kawasan tersebut merupakan rumah bagi orang utan Tapanuli (Pongo tapanuliensis), yang kini berstatus terancam punah (critically endangered) menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN). Saat ini populasi global orang utan Tapanuli hanya sekitar 800 individu.

Citra Satelit Identifikasi Adanya Deforestasi

Jeri mengatakan pengamatan citra satelit mengidentifikasi adanya deforestasi seluas kurang lebih 11 ha di wilayah yang berbatasan langsung dengan desa akibat aktivitas manusia dan penggunaan lahan yang tidak berkelanjutan. 

Penurunan tutupan vegetasi ini memicu ancaman serius berupa penurunan kualitas lingkungan, peningkatan laju erosi, serta pengikisan luasan habitat produktif bagi satwa liar dilindungi.

“Pentingnya pemulihan bagi wilayah Desa Aek Haminjon didasari atas fungsinya yang vital sebagai habitat satwa liar di zona penyangga kawasan konservasi seperti orang utan Tapanuli, harimau Sumatra, tapir, trenggiling, serta berbagai jenis fauna yang memiliki nilai konservasi tinggi,” ujarnya.

Proyek restorasi ini melalui serangkaian tahapan teknis ilmiah demi memastikan efektivitas dampak jangka panjang. Tahapan tersebut dimulai dari penyediaan data dasar kondisi tutupan lahan berbasis foto udara, kemudian dilanjutkan dengan survei keanekaragaman hayati vegetasi sebagai pembanding evaluasi pascatanam. 

Direktur SRI Dony Saputra menyebutkan berdasarkan hasil survei yang terhimpun sejak tahun 2020, kehilangan tutupan hutan merupakan faktor utama penyebab longsor dan banjir serta penurunan populasi satwa selain fragmentasi dan perburuan.

"Oleh karena itu, intervensi pengayaan lahan perkebunan masyarakat ini menjadi strategi konservasi yang sangat aman, sebab memulihkan kualitas ekologi tanpa mengorbankan ketahanan pangan warga, sekaligus komitmen bersama masyarakat untuk menjaga batas cagar alam secara hukum adat,” kata Dony.

Restorasi Dibagi Menjadi Dua Zona

Restorasi dilakukan secara bertahap. Zona pertama adalah area dengan tingkat gangguan tinggi yang dicirikan oleh tutupan lahan terbuka seperti kebun karet tua dan lahan jagung yang minim pohon besar. Adapun zona kedua berupa area dengan tingkat gangguan rendah yang berbentuk hutan sekunder relatif rapat namun tetap memerlukan intervensi vegetasi. Pembagian ini menjadi basis penentuan intensitas pengayaan lahan, di mana kebutuhan bibit berkisar antara 200 hingga 400 batang per hektare. 

Bupati Tapanuli Selatan Gus Irawan Pasaribu mengatakan kolaborasi pemulihan ekosistem berbasis komunitas ini adalah sebuah formulasi kebijakan yang aplikatif dan berdampak langsung bagi masyarakat.

“Dengan pulihnya fungsi ekologis habitat  satwa di Desa Aek Haminjon, diharapkan keanekaragaman hayati endemik yang berstatus kritis dapat hidup berdampingan secara aman dengan manusia," ujar Gus Irawan. 

Menurutnya upaya restorasi di Desa Aek Haminjon ini menjadi model percontohan penting bagaimana pengelolaan kawasan penyangga cagar alam seharusnya dilakukan secara partisipatif. 

"Pelibatan aktif kelompok masyarakat melalui skema kesepakatan konservasi masyarakat sejak tahap perencanaan, pembibitan, penanaman, hingga pengawasan ke depan diharapkan mampu menghasilkan ekonomi berkelanjutan bagi desa setempat,” kata Gus Irawan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.