Laut Mediterania Memanas, Bakteri "Pemakan Daging" Mengintai

/www.worldatlas.com
Laut mediterania memanas 20 persen lebih cepat dari rata-rata global. Pemanasan kini dikhawatirkan memicu perkembangbiakan bakteri berbahaya.
1/7/2026, 12.06 WIB

Gelombang panas tak hanya membakar daratan Eropa, tapi menghangatkan laut di sekitarnya. Dalam beberapa tahun terakhir, suhu perairan Mediterania terus meningkat, menciptakan kondisi yang ideal bagi berkembangnya bakteri berbahaya, termasuk Vibrio vulnificus yang dijuluki bakteri "pemakan daging".

Analis Proyek, Aksi Iklim, dan Ketahanan Energi Uni Eropa untuk Mediterania Hatim Aznague mengatakan, Laut Mediterania merupakan salah satu wilayah laut yang paling cepat menghangat di dunia. Laju pemanasannya sekitar 20 persen lebih cepat dibandingkan rata-rata global.

"Laut Mediterania menunjukkan kepada kita seperti apa dunia yang lebih panas," kata Hatim, dikutip dari Euronews, Rabu (1/7).

Menurut para ilmuwan, kenaikan suhu laut mengubah ekosistem pesisir dan menciptakan lingkungan yang semakin ideal bagi bakteri patogen.

"Air yang lebih hangat, terutama di kawasan yang kurang asin seperti muara sungai dan laguna, menjadi lebih kondusif bagi bakteri patogen," ujar Hatim.

Suhu dan tingkat salinitas atau kadar garam merupakan dua faktor utama yang menentukan pertumbuhan bakteri Vibrio. Mikroorganisme ini umumnya hidup di perairan pantai yang hangat dan payau.

Sebagian besar spesiesVibrio memang tidak berbahaya. Namun, Vibrio vulnificus dapat menyebabkan infeksi serius, meski kasusnya tergolong jarang. Bakteri ini biasanya masuk ke tubuh melalui luka terbuka yang terpapar air laut atau lewat konsumsi makanan laut yang terkontaminasi, terutama pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Dalam kasus yang berat, infeksi dapat berkembang menjadi necrotizing fasciitis, yakni kerusakan jaringan lunak yang menyebar sangat cepat. Kondisi inilah yang membuat Vibrio vulnificus dijuluki sebagai bakteri "pemakan daging". Bakteri juga dapat memasuki aliran darah dan memicu sepsis, respons tubuh yang ekstrem terhadap infeksi, yang dalam beberapa kasus berujung pada amputasi atau kematian.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Eropa (ECDC) memperingatkan bahwa risiko infeksi Vibrio meningkat selama musim panas, terutama ketika gelombang panas membuat suhu perairan pantai menjadi lebih hangat.

Selama ini, kadar garam Laut Mediterania yang relatif tinggi menjadi penghambat alami penyebaran Vibrio vulnificus. Namun, meningkatnya suhu laut dan berubahnya pola salinitas mulai mengikis perlindungan alami tersebut sehingga risiko kemunculan bakteri di kawasan pesisir ikut meningkat.

Bagi Hatim, kemunculan Vibrio bukan sekadar persoalan kesehatan. Bakteri ini menjadi penanda bahwa ekosistem laut sedang mengalami tekanan akibat perubahan iklim dan pencemaran. "Inti ceritanya adalah lautan yang tidak seimbang akibat panas dan polusi," ujarnya.

Pariwisata Mediterania Terancam

Perkembangbiakan bakteri Vibrio vulnificus bisa memukul ekonomi pesisir. Saat musim panas, jutaan wisatawan memadati pantai-pantai Mediterania. Namun, meningkatnya risiko pencemaran dan infeksi bakteri dapat memaksa otoritas menutup sementara sejumlah kawasan pantai demi melindungi kesehatan publik.

"Penutupan pantai adalah dampak iklim yang membawa biaya," kata Hatim. Menurutnya, memulihkan citra destinasi wisata setelah terjadi penutupan dapat memerlukan waktu bertahun-tahun.

Kawasan Mediterania sendiri merupakan salah satu destinasi wisata paling ramai di dunia. Pada 2024, wilayah ini mencatat sekitar 747 juta kedatangan wisatawan internasional. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas