Siaga Bertubi-tubi di TNBTS: Gunung Semeru Erupsi di Tengah Karhutla

Magma Indonesia
Gunung Semeru mengalami erupsi mulai Jumat (14/8) dini hari. Gunung tertinggi di Jawa tersebut kini berstatus siaga.
14/8/2026, 11.30 WIB

Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) mengalami kedaruratan bertubi-tubi: Gunung Semeru erupsi di tengah upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan tersebut.  

Berdasarkan informasi dari Pos Pengamatan Gunung Semeru yang dikutip Antara, Gunung tertinggi di Pulau Jawa itu mengalami beberapa kali erupsi mulai Jumat (14/8) dini hari. 

Erupsi pertama terjadi pada Pukul 00.24 WIB, yang disusul dengan erupsi-erupsi berikutnya, dengan letusan tertinggi mencapai lebih dari 1 kilometer.   

“Gunung Semeru kembali erupsi pukul 05.15 WIB dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 1,2 kilometer di atas puncak,” kata Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Liswanto, dikutip dari Antara, pada Jumat (14/8). 

Berdasarkan informasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang diakses melalui MAGMA Indonesia, tingkat aktivitas Gunung Semeru berada di Level III atau Siaga. 

Sepanjang 2026, MAGMA Indonesia telah mencatat 3.829 erupsi gunung api di seluruh Indonesia dan yang paling banyak adalah Gunung Semeru, mencapai 1.528 erupsi. 

Dengan kondisi terkini, masyarakat diimbau tidak melakukan aktivitas apapun di area tenggara Semeru, khususnya di sepanjang jembatan Besuk Kobokan yang menghubungkan Malang dan Lumajang. Area tersebut berjarak 13 kilometer dari pusat erupsi.

Masyarakat juga diimbau untuk tidak melakukan aktivitas pada radius 500 meter dari tepi sungai Besuk Kobokan serta anak-anak sungainya, untuk menghindari potensi awan panas, guguran lava, dan aliran lahar. 

Selain itu, masyarakat dilarang beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari puncak Semeru, untuk menghindari bahaya lontaran batu. 

Karhutla Sementara Terkendali

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan ini terjadi mulai Senin (3/8) lalu dan menyebabkan lebih dari seribu hektare hangus terbakar. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Probolinggo melaporkan situasi sudah terkendali, namun pemantauan terus dilakukan.

Kepala Pelaksana BPBD Probolinggo, Oemar Sjarief, mengatakan tidak ada titik api terdeteksi di lokasi. “Tapi, petugas akan tetap memantau keesokan harinya,” kata dia seperti dikutip Antara pada Kamis (13/8). Langkah berikutnya adalah melakukan pendinginan untuk mencegah kemunculan api.

Akibat karhutla, kunjungan wisata Gunung Bromo ditutup seluruhnya sejak 8 Agustus 2026 hingga waktu yang belum ditentukan. Penutupan dilakukan untuk mengoptimalkan upaya pemadaman sekaligus menjaga keselamatan pengunjung.

Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pada 18 Juli-10 Agustus 2026, terjadi peningkatan partikel di udara akibat asap kebakaran, khususnya selama 3-10 Agustus. 

“Peningkatan paling signifikan terdeteksi pada 3 Agustus, ketika kondisi di sekitar Gunung Bromo menunjukkan konsentrasi partikel yang jauh lebih tinggi dibandingkan wilayah sekitarnya,” demikian dikutip dari unggahan resmi Instagram BMKG.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas