Karhutla Porak-porandakan Kalbar, YIARI Evakuasi 33 Hewan, Terbanyak Orangutan

ANTARA FOTO/HO/YIARI/Muffidz Ma
Tim Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat mengevakuasi orangutan jantan bernama Sempurna yang lemas di perkebunan sawit di Ketapang, Kalimantan Barat, Minggu (30/8/2026). Sempurna berujung tewas akibat gangguan pernapasan di tengah habitatnya yang porak-poranda oleh karhutla dan asap.
17/9/2026, 11.46 WIB

Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) mengungkap telah mengevakuasi 33 satwa liar yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat. Sebanyak 21 di antaranya merupakan orangutan.

Dalam keterangan resminya, YIARI menjelaskan bahwa terus melakukan pemantauan dan penanganan satwa terdampak karhutla bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat.

“Hingga saat ini, 21 orangutan telah dievakuasi, selain 12 satwa liar lainnya yang terdiri dari tujuh trenggiling, dua bekantan, satu lutung kelabu, satu kukang kalimantan, dan satu musang tenggalung di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara,” tulis YIARI, dikutip Kamis (17/9).

Pemantauan tim gabungan mencakup kawasan yang terbakar dan area di sekitar habitat untuk mengidentifikasi satwa yang berada dalam kondisi berisiko.

Di sisi lain, tim medis YIARI bersiaga selama 24 jam untuk menangani dan menyelamatkan satwa yang membutuhkan pertolongan. Satwa yang dievakuasi akan menjalani pemeriksaan kesehatan dan mendapatkan perawatan sesuai kondisinya.

Selain menyelamatkan satwa, YIARI menangani kebakaran yang merambah sejumlah area kerja lembaga konservasi tersebut. Tim juga memantau perkembangan kebakaran, mengidentifikasi potensi titik api, dan merespons kondisi di lapangan selama 24 jam.

Satwa yang Terjebak

Karhutla dan kabut asap membuat banyak satwa jadi korban. Dalam sepekan ini saja, di Kalimantan Barat, ada beberapa penyelamatan orangutan yang "kabur" ke perkebunan warga seiring habitatnya yang porak-poranda. 

Salah satunya adalah orangutan bernama Kumbang yang diamankan pada 12 September 2026. BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI dan Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Pandu Banjar, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, menemukan Kumbang masuk ke kebun warga dan mendekati permukiman.

Tim mengidentifikasi Kumbang sebagai orangutan jantan yang pernah diselamatkan pada 17 Februari 2022.

Saat diamankan, tim medis menemukan sejumlah luka lama pada tubuh Kumbang. Meski masih terlihat sehat dan menunjukkan perilaku liar, Kumbang mengalami batuk yang diduga akibat paparan asap karhutla.

Kumbang kemudian dibawa ke pusat rehabilitasi YIARI untuk menjalani pemeriksaan kesehatan dan perawatan lebih lanjut.

“Untuk sementara, Kumbang belum dapat kembali ke alam. Kondisi cuaca yang belum stabil membuatnya harus menjalani perawatan hingga kondisi memungkinkan dan terdapat arahan lebih lanjut,” tulis BKSDA Kalimantan Barat dalam unggahan resmi Instagramnya.

Beberapa hari sebelumnya, pada 8 September 2026, orangutan yang diberi nama Noni bersama induknya, Mama Noni, diselamatkan dari perkebunan warga di Kalimantan Barat.

Noni diperkirakan baru berusia 1-2 bulan, sedangkan induknya berusia sekitar 13-15 tahun. Dengan usia yang masih sangat muda, Noni masih sangat bergantung pada induknya.

Kebakaran berjarak sekitar 200 meter dari lokasi keduanya ditemukan. Kondisi tersebut membuat keduanya bergeser ke area perkebunan warga untuk mencari makanan dan tempat berlindung.

Saat menjalani perawatan, suhu tubuh Mama Noni mencapai 39,4 derajat Celsius dan frekuensi napasnya meningkat.

“Tim medis memberikan cairan IV, oksigen, dan kompres pendingin sambil mengobservasi kondisi ibu dan bayi orangutan,” tulis International Animal Rescue dalam unggahan Instagramnya.

Saat ini, Mama Noni dan Noni masih berada di pusat rehabilitasi YIARI.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas