Karhutla Kalimantan Hanguskan Hampir 100 Ribu Hektare, Kalahkan Luas Jakarta

ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/agr
Prajurit TNI berupaya memadamkan api yang membakar hutan dan lahan (karhutla) di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Kamis (3/9/2026).
22/9/2026, 16.10 WIB

Ribuan hektare lahan hangus imbas kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan sepanjang tahun ini. Merujuk pada perhitungan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), luasan yang terbakar mencapai sekitar 90 ribu hektare sepanjang Januari hingga 14 September atau sekitar 1,4 kali luas daratan Jakarta. 

Angka ini diperoleh dari hasil penggabungan data Sistem Monitoring Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) dengan hasil pengukuran langsung oleh tim gabungan di lapangan. "Selama ini data untuk total terbakar berasal dari SiPongi, yaitu tanggal 31 Juli 2026. Namun demikian BNPB bersama tim gabungan di lapangan sudah mengukur atau memastikan jumlah lahan terbakar," kata Berton seperti dikutip Antara, pekan lalu.

Secara rinci, total lahan terbakar di Kalimantan Barat sudah mencapai sekitar 48.536 hektare, Kalimantan Selatan 19.303 hektare., Kalimantan Tengah sekitar 15.976 hektare, dan Kalimantan Timur 5.761 hektare. 

Sedangkan data Pantau Gambut menunjukkan, Kalimantan Tengah menjadi provinsi dengan titik panas terbanyak nasional dalam dua pekan pertama September. Titik panas di provinsi ini terdata melonjak mulai Juli.

Jumlah titik panas pada Januari-Juni di Kalimantan Tengah dilaporkan di bawah 200 titik per bulan, lalu melonjak menjadi 3.423 titik pada Juli, dan melonjak lagi menjadi 153.916 titik pada Agustus. Dalam dua pekan pertama September, jumlahnya telah menembus 77 ribu titik. 

Asap karhutla berdampak pada penurunan kualitas udara, tercermin dari nilai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) keluaran Kementerian Lingkungan Hidup yang memberi label berbahaya pada sejumlah wilayah di Kalimantan. Kementerian Kesehatan melaporkan terdapat ratusan ribu kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di provinsi ini sepanjang tahun.

Kalimantan Memasuki Musim Hujan, Risiko Banjir Mengintai

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa hujan sudah mulai turun di Kalimantan Barat bagian utara. Namun, curah hujan yang lebih banyak diprediksi baru masuk ke wilayah yang sedang dilanda kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada desarian (10 hari) II dan III Oktober.

“Untuk Oktober, daerah Kalimantan Barat bagian selatan, Kalimantan Tengah bagian selatan, juga sudah masuk awal musim hujan,” kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan dalam Konferensi Pers, di Jakarta, Selasa (22/9).

Datangnya musim hujan memberikan harapan untuk pengendalian karhutla dan asap, namun meningkatkan kekhawatiran akan risiko lain: banjir dan longsor. Bila merujuk pada peta bahaya banjir InaRISK, sejumlah wilayah yang kini menjadi episentrum karhutla masuk wilayah dengan risiko bahaya sedang dan tinggi banjir.  

Di Kalimantan Barat, sekitar 2,7 juta hektare masuk dalam kategori risiko bahaya tinggi banjir dan 2,2 juta hektare masuk kategori risiko sedang. Daerah dengan indeks risiko bahaya tertinggi yaitu Singkawang, Bengkayang, Melawi, Landak, Ketapang, Mempawah, Sekadau, Kayong Utara, Sambas, dan Sanggau.

Sedangkan di Kalimantan Tengah, sekitar 3,2 juta hektare masuk dalam kategori risiko bahaya tinggi banjir dan 2,8 juta hektare masuk kategori risiko sedang. Daerah dengan indeks risiko bahaya tertinggi yaitu Katingan, Lamandau, Sukamara, Barito Selatan, Kapuas, Murung Raya, Kotawaringin Timur, Kotawaringin, Palangka Raya, dan Barito Utara.

Di Kalimantan Selatan, sekitar 1,1 juta hektare masuk dalam kategori risiko bahaya tinggi banjir dan 674 ribu hektare masuk kategori risiko sedang. Daerah dengan indeks risiko bahaya tertinggi yaitu Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Balangan, Kotabaru, Banjar, Tanah Laut, Tabalong, Barito Kuala, dan Tanah Bumbu.

Kemudian di Kalimantan Timur, sekitar 1,7 juta hektare masuk dalam kategori risiko bahaya tinggi banjir dan 1,2 juta hektare masuk kategori risiko sedang. Daerah dengan indeks risiko bahaya tertinggi yaitu Mahakam Ulu, Paser, Kutai Kartanegara, Penajam Paser Utara, Berau, Samarinda, Balikpapan, dan Bontang.

Di Kalimantan Utara, sekitar 451 ribu hektare masuk dalam kategori risiko bahaya tinggi banjir dan 428 juta hektare masuk kategori risiko sedang. Daerah dengan indeks risiko bahaya tertinggi yaitu Nunukan dan Tarakan. 


Peta Risiko Bahaya Banjir Kalimantan (inaRISK BNPB)


 


Peta Risiko Bahaya Longsor Kalimantan (inaRISK BNPB
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas, Antara